Terang Redup Surabaya Sebagai Barometer Musik Rock

Tim detikJatim - detikJatim
Rabu, 09 Mar 2022 13:55 WIB
Kaset musik rock
CD musik/Foto: Dok. IG Log Zhelebour
Surabaya -

Kota Surabaya pernah menyandang sebutan sebagai barometer musik rock di Indonesia. Sebutan ini karena sejumlah band rock pernah lahir di Kota Pahlawan dan menjadi pelopor musik cadas Tanah Air pada dekade 1960.

Yudi Aristanu dan Septiana Alrianingrum dalam jurnal Pendidikan Sejarah Avatara Volume 2, nomor 3 Oktober 2014 Unesa berjudul "Kajian Indentifikasi Mengenai Ragam Musik Rock Surabaya Tahun 1967-1980 Beserta Dampak Perkembangan Musik Rock Surabaya 1967-1980" menyebut ada dua band rock besar yang pernah lahir di Surabaya.

Kedua grup musik rock ini adalah AKA band (1967-1975) dan SAS band (1975-1981). Kedua band ini merupakan pelopor dan mempunyai pengaruh besar dalam perjalanan musik rock di Surabaya dan Indonesia.

Yudi dan Septiana menulis, kondisi masyarakat Surabaya yang dikenal keras dan egaliter membuat musik rock populer dan mudah diterima. Tak heran sejumlah grup rock seperti Dara Puspita, Arista Bhirawa, AKA, The Gembel's, SAS dan God Bless begitu populer di zamannya.

"Namun dari beberapa grup musik itu hanyalah dua band (AKA dan SAS band) saja yang mampu menghadirkan musik rock secara kental," tulis Yudi dan Septiana seperti dikutip detikJatim, Rabu (9/3/2022).

Yudi dan Septiana menyebut kejayaan musik rock ini berjaya selama rentang waktu 1967 hingga 1980. Selama waktu itu, musik rock di Surabaya telah menjadi referensi utama dalam perkembangan musik cadas di Indonesia secara umum.

Namun musik rock ternyata tak selamanya bisa berjaya. Mundurnya minat musik rock ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Salah satunya karena adanya perkembangan musik dangdut dan pop saat itu. Musik aliran ini sendiri sebenarnya telah mulai muncul pada akhir dekade 1970.

"Kelesuan yang terjadi pada musik rock akhir dekade 1970-an menjadi akibat semakin maraknya perkembangan musik dangdut dan musik pop di Indonesia. Sejak akhir 1970-an," jelas Yudi dan Septiana.

Sementara itu pengamat Musik Surabaya Tri Priyo Wijoyo menjelaskan musik rock kembali bergema di Surabaya pada tahun 1984. Menurutnya gairah ini tak lepas dari banyaknya festival musik rock yang digelar.

Salah satu sosok penting dalam kebangkitan musik rock ini yakni Log Zelebour. Dari tangan dingin Log ini, sejumlah band rock muncul dan mendominasi musik tanah air lagi.

"Tahun 1984 itu juga ada promotor besar Pak Log Zhelebour membuat festival rock Indonesia itu. Itu Pak Log juga asli Surabaya. Nah, dari situ band-band asal Surabaya banyak menjadi juara dan kemudian ditawari rekaman. Salah satunya Power Metal itu," papar Tri.

"Band lain juga yang sukses di pentas nasional seperti Boomerang itu juga di bawah naungan Pak Log. Jadi kira-kira seperti itu rangkaian musik rock atau metal di Surabaya yang dijuluki barometer rock Indonesia," tandas Tri.

Menurut Tri, kebangkitan musik rock di Surabaya ini eksis hingga tahun 2000-an. Selama waktu itu sejumlah band rock seperti Power Metal, Grassrock, Kamikaze, Andromeda, Boomerang, Dewa 19 hingga Padi lahir di Surabaya.

Namun selepas itu, kejayaan musik rock mulai redup kembali. Tri menyebut sejumlah faktor turut mempengaruhinya. Antara lain, sudah tak adanya festival musik rock dan sejumlah kota juga muncul menjadi saingan. Salah satunya yakni Jakarta dan Bandung.

"Ya karena statusnya sebagai ibukota ya. Sedangkan Surabaya sebagai Ibukota Jatim. Jadi mau gak mau harus ke Jakarta jika ingin rekaman dan berkarier. Seperti Dewa dan Padi itu mulainya dari Jakarta meski mereka semua dari Surabaya," tutur gitaris Lentera band ini.

"Tapi meski begitu, banyak juga yang tetap mengawali karir dari Surabaya. Salah satunya dengan jalan rekaman sendiri atau indie label. Nah itu sempat populer di tahun-tahun 1997 sampai 1998. Saya juga sempat bikin rekaman indie waktu itu," imbuh Tri.



Simak Video "Sekretariat Khilafatul Muslimin Surabaya Digeledah, Surat-Dokumen Disita"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/sun)