Fakta Cap Go Meh, Ternyata Ada Perbedaan Tradisi di Tiongkok dan Indonesia

Hanaa Septiana - detikJatim
Selasa, 15 Feb 2022 18:00 WIB
Lontong Cap Go Meh, the festive Peranakan dish of rice cake soup to celebrate the end of Chinese New Year celebratory period in Java, Indonesia. Slices of rice cake served together with Yellow Chicken Curry, Chayote Squash Curry, Shrimp Stew, Soy-braised Eggs, Ground Roasted Soybean, Ground Roasted Dried Shrimp and Prawn Crackers aside; garnished with sweet basil leaves. The pre-plated dish is placed in front of the dining table so the dishes on the table become the blurry background.
Ilustrasi Lontong Cap Go Meh (Foto: Getty Images/iStockphoto/MielPhotos2008)
Surabaya -

Hari ini merupakan Cap Go Meh 2022 atau 15 hari setelah Imlek 2022. Beragam tradisi dilakukan masyarakat Tionghoa saat perayaan ini.

Namun ternyata ada sedikit perbedaan tradisi yang dilakukan masyarakat Tionghoa di Tiongkok dan di Indonesia.

Hal itu dijelaskan oleh pendeta tinggi Taoisme asal Surabaya, Stanley Prayogo. Menurut dia, ada 3 tradisi Cap Go Meh yang kerap dilakukan masyarakat Tionghoa di Negeri Cina dan 1 tradisi yang dilakukan masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Berikut rinciannya:

1. Festival cahaya dengan lampion dan lampu-lampu

"Di jalan-jalan di Cina sudah dipasangi lampion dan lampu-lampu sejak tanggal 14-15, jadi terang sekali," ucap dia.

Menurut Stanley, pemasangan lampion dan lampu itu memiliki filosofi agar masyarakat meraih keberkahan di satu tahun ke depan.

2. Memasang Syair-syair khas Tionghoa di Lampion Untuk Kompetisi hingga Cari Jodoh

Stanley mengatakan bahwa masyarakat Tiongkok juga kerap membuat syair-syair. Saat Cap Go Meh, syair-syair tersebut kerap digantung di lampion. Biasanya juga ada kompetisi untuk menebak makna syair tersebut.

"Itu banyak banget yang mau ikutan, karena pas cap go meh pasti banyak yang ngumpul, hadiahnya dapat lampion, kan seneng tho," papar Stanley.

Menurut dia, saat kompetisi berlangsung, biasanya juga dimanfaatkan para peserta untuk cari jodoh. Sebab, baik perempuan atau laki-laki juga sama-sama ikut kompetisi tersebut.

"Yang nanyain cewek terus yang nebak cowok atau sebaliknya, awalnya gak saling kenal, jadi kenalan gara-gara kompetisi itu, kalo cocok ya lanjut," tutur bapak satu anak itu.

3. Ngumpul dan Makan Bareng, Menu Ronde dan Wonton

Stanley mengatakan bahwa agenda kumpul-kumpul dan makan bareng tak pernah dilewatkan masyarakat Tiongkok saat merayakan Cap Go Meh. Sebab, itu merupakan puncak perayaan Imlek.

Menunya wajibnya adalah Ronde dengan isi kacang tumbuk dan Wonton (sejenis pangsit). Keduanya memiliki filosofi terkait perayaan h+15 Imlek ini.

"Ronde lambang keharmonisan dan keakraban karena bulat penuh dan teksturnya lengket. Wonton bentuknya mirip galaxy Bimasakti, maknanya keberhasilan," jelas pria berkacamata itu.

4. Makan Lontong Cap Go Meh, Khusus Masyarakat Tionghoa di Indonesia

Menurut Stanley, ketiga tradisi itu tidak pernah absen dilakukan masyarakat Tiongkok saat Cap Go Meh. Namun, berbeda dengan masyarakat Tionghoa di Indonesia yang biasanya hanya ngumpul dan makan bareng dengan menu utama Lontong Cap Go Meh.

"Itu pun ada maknanya. Menyatukan tiga tradisi sejak jaman penjajahan sampai sekarang," tutur dia.

Stanley mengatakan bahwa Lontong Cap Go meh terdiri dari 3 unsur kebudayaan. Bumbunya ala Belanda, Lontongnya dari budaya Jawa, dan Opornya terinspirasi dari China.

"Filosofinya adalah keguyuban dan keharmonisan antar suku bangsa," tandas Stanley.

Menurut dia, filosofi tradisi Cap Go Meh baik di Tiongkok maupun Indonesia sama-sama baik dan untuk menjaga keharmonisan bersama. Itu harus diterapkan saat menjalani hidup.

"Beda seperti sekarang, sesama suku saja banyak yang saling menjatuhkan dan tipu-menipu. Harusnya kalau paham maknanya (tidak sekedar merayakan), ya diterapkan di kehidupan sehari-hari," tutup dia.



Simak Video "Cap Gomeh, Ungkapan Rasa Terima Kasih Kepada Sang Pencipta, Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(hse/fat)