Asal-usul Suku Tengger hingga Legenda Roro Anteng-Joko Seger

M Rofiq - detikJatim
Jumat, 21 Jan 2022 15:15 WIB
bromo tengger
Bromo Tengger saat di kawah (Foto: M Rofiq/detikcom)
Probolinggo -

Suku Tengger tak bisa dilepaskan dari Gunung Bromo. Suku Tengger merupakan penduduk mayoritas yang mendiami kawasan lereng Bromo.

Secara administrasi, Suku Tengger mendiami lereng Bromo di empat wilayah kabupaten yakni Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Ada dua teori yang menyebutkan asal usul keberadaan mereka.

Pada teori pertama, Suku Tengger diyakini merupakan keturunan dari Kerajaan Majapahit. Saat itu, mereka melarikan diri karena di Majapahit sedang pecah perang saudara.

Teori ini kemudian dikaitkan dengan legenda Roro Anteng dan Joko Seger sebagai pasangan suami istri. Dalam legenda itu, Roro Anteng dikisahkan merupakan seorang putri bangsawan dari Majapahit yang menikah dengan anak seorang Brahmana yang tinggal di kaki Gunung Bromo.

Eko Arahman, sejarawan dan pengamat sejarah Probolinggo menuturkan setelah menikah, Roro Anteng dan Joko tinggal di kawasan lereng. Keturunannya kemudian disebut Tengger sesuai dengan akronim Roro Anteng dan Joko Seger.

"Roro Anteng dan Joko Seger ini kemudian hidup bersama. Desa yang ditinggali kemudian diberi nama Tengger, dan muncul warga Suku Tengger," jelas Eko, Jumat (21/1/2021).

Menurut Eko, teori ini dianggap yang paling mendekati kebenaran. Sebab sejumlah bukti prasasti telah menunjukkan Suku Tengger telah ada lebih dahulu. Meski demikian, ia tak memungkiri Tengger masih ada kaitannya dengan Majapahit.

Sedangkan pada teori kedua, Suku Tengger diyakini telah ada jauh sebelum Majapahit berdiri. penganut teori ini kemudian menolak anggapan Suku Tengger keturunan dari Majapahit.

"Kalau dibilang warga Tengger ada kaitan dengan Kerajaan Majapahit, Iya. Tapi jika dibilang keturunan Majapahit terakhir, kami jawab bukan. Sebab, sebelum ada Kerajaan Majapahit, Suku Tengger ini sudah ada," kata Eko saat ditemui detikcom di lereng Bromo, Rabu (1/12/2021).

Salah satu bukti itu, lanjut Eko, yakni prasasti Pananjakan. Prasasti ini tertulis bertahun 1350 hingga 1389 Masehi dan diresmikan pada zaman Raja Hayam Wuruk.

"Dalam Prasasti Penanjakan Satu, menerangkan bahwa masyarakat Tengger itu adalah masyarakat yang mampu mempertahankan budaya Tengger. Prasasti itu dikeluarkan oleh Prabu Hayam Wuruk pada Tahun 1350-1389 Masehi. Artinya sejak zaman Hayam Wuruk sudah ada Suku Tengger," terang Eko.

Kata Tengger sendiri dalam masyarakat setempat memiliki tiga arti. Pertama Tengger bisa berarti tegak atau berdiam yang melambangkan watak orang Tengger. Sedangkan yang kedua, berarti budi pekerti yang tercermin dalam kehidupan. Adapun terakhir merupakan gabungan dari akronim nenek moyang mereka Roro Anteng dan Joko Seger.

(abq/fat)