Tokoh NU Nilai Pasar Modal Indonesia Harus Mandiri Tak Bergantung Asing

Tokoh NU Nilai Pasar Modal Indonesia Harus Mandiri Tak Bergantung Asing

Faiq Azmi - detikJatim
Minggu, 25 Okt 2026 18:20 WIB
Ubaidillah Amin
Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU), Ubaidillah Amin (Foto: Dok. Istimewa)
Surabaya -

Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU), Ubaidillah Amin menilai pasar modal Indonesia harus terus memperkuat kemandirian dan daya saing agar mampu menjadi magnet investasi yang tangguh. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah membangun kapasitas nasional dalam menentukan penilaian terhadap kualitas dan prospek pasar modal Indonesia.

Menurut Ubaidillah, Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar sehingga perlu diimbangi dengan kepercayaan terhadap kemampuan pasar modal nasional. Dengan demikian, pasar modal Indonesia tidak terus-menerus bergantung pada penilaian lembaga pemeringkat asing.

"Di bursa atau pasar modal kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri, tanpa harus bergantung pada lembaga rating asing," ujar Ubaidillah dalam keterangannya, Minggu (24/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menegaskan, kemandirian pasar modal bukan berarti menutup diri dari standar internasional. Sebaliknya, Indonesia perlu memperkuat kapasitas dan kepercayaan terhadap pasar modal sendiri agar memiliki posisi yang lebih kuat dalam menentukan arah pengembangannya.

Ubaidillah mengatakan, pembenahan bursa menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya tarik investasi. Bursa yang sehat, transparan, kredibel, dan memiliki tata kelola yang baik akan memberikan kepercayaan lebih besar kepada investor, baik domestik maupun asing.

ADVERTISEMENT

"Kita harus membenahi bursa kita agar menjadi makin cantik, sehingga diminati oleh para investor," katanya.

Menurutnya, daya tarik pasar modal tidak hanya ditentukan oleh pergerakan indeks saham atau besarnya kapitalisasi pasar. Kualitas perusahaan tercatat, keterbukaan informasi, perlindungan investor, serta kepastian hukum juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan.

Ia menilai, pembenahan pasar modal harus dilakukan secara konsisten. Transparansi perlu diperkuat, praktik manipulasi pasar harus dicegah, dan perlindungan terhadap investor harus menjadi perhatian utama agar pasar modal dapat memberikan ruang yang adil bagi seluruh pelaku pasar.

Selain tata kelola, Ubaidillah menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan profesional. Menurutnya, kualitas SDM menjadi salah satu faktor penentu ketangguhan pasar modal Indonesia dalam menghadapi dinamika ekonomi global.

"Di bursa, sumber daya manusia yang kompeten akan membentuk ketangguhan pasar modal," ujarnya.

Ia menjelaskan, penguatan SDM perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui peningkatan literasi dan edukasi keuangan kepada masyarakat. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan mampu mengambil keputusan investasi secara rasional dan memahami risiko yang menyertainya.

Ubaidillah juga menyoroti pentingnya kebijakan yang terarah dan terukur untuk memperkuat fondasi pasar modal nasional. Kebijakan tersebut, menurutnya, perlu memiliki tujuan yang jelas, indikator keberhasilan yang terukur, serta mekanisme evaluasi yang berkesinambungan.

Regulasi yang adaptif, pengawasan yang efektif, dan koordinasi antarlembaga juga perlu berjalan beriringan agar pasar modal Indonesia dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan pasar modal untuk memperkuat kolaborasi. Pemerintah, regulator, Bursa Efek Indonesia, perusahaan tercatat, pelaku industri jasa keuangan, investor, akademisi, dan masyarakat perlu memiliki komitmen yang sama dalam membangun pasar modal nasional.

"Stakeholder pasar modal harus bahu-membahu, menjaga kekompakan agar pasar modal Indonesia menjadi magnet investasi yang tangguh," katanya.

Ubaidillah menilai, kekompakan seluruh pemangku kepentingan menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan global. Setiap pihak harus menjalankan peran dan tanggung jawabnya secara optimal demi mewujudkan pasar modal Indonesia yang mandiri, terpercaya, dan berdaya saing.

Ia menegaskan, pembangunan pasar modal merupakan bagian dari upaya memperkuat perekonomian nasional. Dengan dukungan SDM yang kompeten, kebijakan yang terukur, tata kelola yang baik, serta semangat kebersamaan, Indonesia diyakini mampu mengoptimalkan potensi ekonominya.



(abq/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads