Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur. Mulai Surabaya, Blitar, Malang Raya, hingga Jember, warga harus menghadapi antrean yang mengular di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Kondisi ini tak hanya menyita waktu warga, tetapi juga mengganggu arus lalu lintas. Bahkan, sejumlah pengendara mengaku tak kebagian Pertalite setelah mengantre karena stok di SPBU sudah habis.
Di tengah keluhan masyarakat, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mengakui adanya penyesuaian pola distribusi BBM. Perusahaan menyebut dinamika geopolitik global turut memengaruhi jadwal kedatangan kapal tanker, tetapi menegaskan tidak ada pengurangan pengiriman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Pertalite Kosong di Sejumlah SPBU Surabaya
Sejumlah SPBU di Surabaya mengalami kekosongan stok Pertalite pada Kamis (15/10/2026). Berdasarkan pantauan detikJatim, kondisi tersebut ditemukan di SPBU Jalan Arjuno dan Jalan Tidar.
Di SPBU Jalan Arjuno, pemberitahuan mengenai Pertalite yang masih dalam pengiriman terpasang di lokasi. Petugas SPBU, Rizky, mengatakan stok Pertalite telah kosong sejak Rabu (14/10) siang.
"Ini Arjuno, di daerah sini informasinya kosong (Pertalite). Dari kemarin siang," kata Rizky.
Kondisi serupa terjadi di SPBU Jalan Tidar. Sejumlah pengendara sepeda motor bahkan memilih putar balik untuk mencari SPBU lain karena Pertalite tidak tersedia.
Sementara itu, Pertalite di SPBU Jalan Diponegoro masih tersedia, meski antrean kendaraan cukup panjang. Adapun SPBU di kawasan Manyar dan Kertajaya terpantau beroperasi normal.
Kekosongan Pertalite juga dikeluhkan warga. Eni (42), salah seorang warga Surabaya, mengaku keberatan jika harus beralih ke Pertamax karena jumlah BBM yang diperoleh lebih sedikit dengan uang yang sama.
"Soalnya sekarang kalau isi Pertamax Rp30 ribu dapatnya cuma hampir 2 liter. Kalau Pertalite bisa dapat 3 liter," ungkapnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyebut kebutuhan BBM masyarakat meningkat, termasuk akibat peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.
"Kondisi ini dipengaruhi peningkatan kebutuhan masyarakat, termasuk peralihan penggunaan dari BBM jenis bahan bakar khusus (BBK) ke BBM subsidi," ujar Ahad dalam keterangannya, Kamis (15/10).
Pertamina menyatakan pasokan di Surabaya mulai memasuki tahap pemulihan. Perusahaan juga mengoptimalkan pasokan dari depot penyangga lain dan memprioritaskan pengiriman ke SPBU yang mengalami peningkatan konsumsi.
Berdasarkan pemantauan per 15 Oktober 2026, sebanyak 92 SPBU melayani Pertalite dan 73 SPBU melayani Biosolar di Kota Surabaya.
Baca juga: Malang Raya Krisis BBM Subsidi |
2. Warga Blitar Antre hingga Mengular di Sejumlah SPBU
Antrean panjang juga terjadi di sejumlah SPBU di Kota dan Kabupaten Blitar. Pada Kamis (15/10), pengendara sepeda motor terlihat mengantre untuk mendapatkan Pertalite, di antaranya di SPBU Sambong, Kecamatan Kanigoro, dan SPBU Garum.
Salah seorang pengendara, Anisa, mengaku kesulitan mendapatkan Pertalite di sejumlah SPBU yang dilaluinya. Ia bahkan menemukan antrean panjang sejak dari wilayah Wlingi hingga Garum.
"Setiap hari seperti ini, saya dari kecamatan Wlingi tapi tadi dari Wlingi, Talun, sampai di sini di Garum tetap seperti ini (antre) mengular semua. Kalau ada Pertalite milih ikut antri, kalau mendesak sekali baru beli yang Pertamax," katanya kepada wartawan, Kamis (15/10).
Kepala SPBU Garum, Yulianto, membenarkan antrean terjadi pada kendaraan roda dua maupun roda empat. Pihaknya menerapkan pembatasan pembelian agar distribusi BBM bisa lebih merata kepada pengendara.
Menurut Yulianto, SPBU Garum menerima pasokan Pertalite sekitar 8.000 liter setiap hari. Namun, jumlah tersebut belum mencukupi kebutuhan sejak tiga hari terakhir.
3. Malang Raya Dilanda Antrean Pertalite dan Biosolar
Krisis BBM bersubsidi juga masih terjadi di Malang Raya. Antrean kendaraan untuk mengisi Pertalite dan Biosolar terlihat di sejumlah SPBU di Kota maupun Kabupaten Malang.
Pada Kamis (15/10), antrean kendaraan roda empat yang hendak mengisi Biosolar di SPBU Jalan Mayjen M Wiyono, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, mengular hingga mencapai jalan raya. Kepadatan lalu lintas pun terjadi pada jalur menuju pintu keluar Tol Madyopuro.
Antrean sepeda motor yang hendak mengisi Pertalite juga terlihat di SPBU tersebut dan SPBU Jalan Bandung.
Di Kabupaten Malang, antrean masih terjadi di SPBU Talok dan Sedayu, Kecamatan Turen. Kondisi ini dikeluhkan warga yang harus mengantre panjang untuk mendapatkan BBM bersubsidi.
"Masih harus mengantre panjang, untuk mendapatkan BBM bersubsidi di SPBU Talok maupun SPBU Sedayu, Turen sampai hari ini," ungkap Ahmad Zaini, warga Turen, kepada detikJatim, Kamis (15/10).
Kesulitan mendapatkan BBM turut dirasakan Hanif, warga Kota Malang. Ia mengaku batal mengisi Pertalite di SPBU kawasan Sukun pada Rabu (14/10) malam karena antrean terlalu panjang.
Hanif kembali mencoba mengisi BBM pada Kamis pagi sekitar pukul 05.00 WIB. Namun, antrean masih panjang sehingga ia terpaksa membeli bensin eceran agar bisa beraktivitas.
"Ketika sampai, masih antreannya panjang. Karena harus bekerja, terpaksa saya membeli bensin eceran," keluhnya.
Sebelumnya, pada Rabu (14/10), sejumlah SPBU di Kabupaten Malang juga dilaporkan berhenti beroperasi karena kehabisan stok. Salah satunya SPBU di wilayah Dilem, Kecamatan Kepanjen, yang belum menerima pasokan BBM.
4. Antrean Pertalite di Jember Mengular hingga Bahu Jalan
Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Jember kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, antrean kendaraan dilaporkan mengular hingga bahu jalan raya.
Salah seorang warga yang ikut mengantre, Firman, mengatakan kepadatan antrean mulai terasa sekitar sepekan terakhir. Kondisi tersebut semakin parah pada jam-jam sibuk, terutama pagi dan sore hari.
"Antrean kembali padat sepertinya sudah satu mingguan. Apalagi saat jam aktif pagi atau sore, itu juga kadang menyebabkan jalanan terganggu," katanya, Kamis (15/10/2026).
Firman mengaku pernah mengantre selama sekitar satu jam beberapa hari sebelumnya. Namun, ia justru tidak mendapatkan Pertalite karena stok di SPBU telah habis.
"Kapan hari saya ikut antre, sekitar 1 jam an. Tapi saya nggak kebagian karena stok di SPBU sudah habis," ujarnya.
Persoalan ini turut mendapat sorotan Wakil Ketua DPRD Jember, Widarto. Ia menilai antrean BBM tidak hanya terjadi di Jember sehingga persoalan tersebut kemungkinan lebih luas daripada sekadar kendala teknis pengiriman dari Banyuwangi.
"Sederhananya kami membaca bahwa ini bukan persoalan hanya proses pengiriman yang dari Banyuwangi, jadi ini problem mungkin bahkan nasional," ungkapnya.
Widarto juga menyayangkan komunikasi Pertamina yang dinilai lambat. Menurutnya, mitigasi dan sosialisasi seharusnya dilakukan sebelum perubahan pola distribusi atau penyesuaian kuota berdampak langsung terhadap masyarakat.
"Harusnya Pertamina melakukan mitigasi dan melakukan sosialisasi sebelum terjadinya kejadian yang menyebabkan antrean panjang di SPBU itu," paparnya.
Ia menilai penjelasan yang baru disampaikan setelah antrean panjang terjadi kurang efektif untuk meredam keresahan masyarakat. Widarto mendorong Pertamina lebih terbuka menyampaikan informasi mengenai kondisi pasokan BBM kepada pemerintah daerah dan masyarakat.
"Sehingga masyarakat tahu kondisi yang sebenarnya dan kemudian bisa mengantisipasinya," tambahnya.
Simak Video "Video: Pria di Bali Modif Mobil untuk Timbun BBM Bersubsidi, Punya 22 Barcode"
[Gambas:Video 20detik] (abq/hil)
