Lamongan tak hanya mengandalkan produksi padi untuk memperkuat ketahanan pangan. Setelah mempertahankan capaian swasembada beras, Lamongan kini membidik komoditas tebu untuk mendukung target swasembada gula.
Salah satu upayanya dilakukan melalui program bongkar ratoon atau mengganti tanaman tebu yang telah berulang kali dipanen dengan tanaman baru. Program tersebut diterapkan di lahan sekitar 93 hektare di wilayah Gambang, lahan milik KPH Tuban, Kecamatan Laren.
Program bongkar ratoon 2026 itu ditandai dengan penanaman tebu menggunakan mekanisasi pertanian di lahan Gapoktan Sumber Mulya Mutiara Abadi, Kamis (1/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Wakil Bupati Dirham Akbar Aksara, serta perwakilan Pabrik Gula Kebun Tebu Mas (KTM).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bongkar ratoon dilakukan untuk mengganti tanaman tebu yang telah beberapa kali dipanen dan dinilai mulai mengalami penurunan produktivitas. Setelah tanaman lama dibongkar, lahan kembali ditanami menggunakan bibit yang disesuaikan dengan kondisi lahan.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan, pengembangan tebu menjadi salah satu langkah lanjutan setelah Lamongan berhasil mempertahankan capaian swasembada pangan, khususnya beras. "Kita sudah sukses dalam swasembada pangan, khususnya beras. Selanjutnya kita akan mengawal swasembada gula," kata Yuhronur.
Menurutnya, pengembangan tebu di Lamongan memiliki prospek yang cukup baik. Salah satunya karena varietas yang dikembangkan memiliki rendemen yang dinilai bagus. Selain itu, tanaman tebu dapat dipanen beberapa kali setelah satu kali penanaman sehingga berpotensi memberikan keuntungan bagi petani. "Kalau ini bisa kita sukseskan, harapan Presiden untuk swasembada gula tentu akan bisa tercapai," ujarnya.
Yuhronur menambahkan Lamongan memiliki posisi penting dalam pengembangan komoditas tebu, baik untuk Jawa Timur maupun dalam mendukung kebutuhan gula nasional. Pengembangan tebu kali ini juga menjadi bagian dari upaya membuktikan bahwa penanaman tetap dapat dilakukan meski kondisi lahan relatif kering dan hujan belum turun secara optimal.
Direktur Plantation KTM, Padhipat Namkhet mengatakan, pengembangan tebu dilakukan melalui kemitraan dengan petani dan berbagai pihak. Menurutnya, pengalaman pengembangan tebu juga telah dilakukan bersama mitra di sejumlah negara, seperti Thailand, Australia dan China, serta di beberapa daerah di Pulau Jawa. "Terima kasih kepada mitra petani kita. Kita berkembang bersama saudara-saudara kita di Lamongan," ujar Padhipat.
Dia mengatakan pengembangan tebu tidak cukup hanya berdasarkan teori dan data. Karena itu, praktik penanaman langsung di lapangan diperlukan untuk melihat kemampuan tanaman beradaptasi dengan kondisi aktual. "Kita tidak hanya menyampaikan data dan teori, tetapi sekarang kita praktikkan. Hujan belum datang, apakah bisa tanam tebu? Sekarang kita sudah membuktikan, dalam kondisi kering seperti ini kita tetap bisa menanam tebu," katanya.
Padhipat berharap kerja sama pemerintah, industri dan petani dapat semakin memperkuat industri gula dalam negeri. "Kita bisa menanam tebu sendiri, mengolah tebu itu sendiri dan mendapatkan hasil gula yang layak dikonsumsi sendiri di negara kita," ungkapnya.
Perwakilan KTM, Adi Prasongko, mengatakan program bongkar ratoon perlu dimanfaatkan petani untuk memperbaiki produktivitas tanaman tebu. Menurutnya, tanaman ratoon yang sudah terlalu lama dapat berpengaruh terhadap hasil produksi. Karena itu, tanaman lama perlu dibongkar dan diganti dengan tanaman baru. "Karena ratoon itu sudah terlalu lama, oleh karena itu ada insentif dari pemerintah untuk membongkar tanaman tersebut dan menggantinya," jelas Adi.
Selain umur tanaman, petani juga diminta memperhatikan pemilihan varietas. Menurut Adi, varietas yang sebelumnya dianggap unggul belum tentu sesuai dengan kondisi lahan saat ini. Perubahan kondisi lingkungan dan perkembangan penyakit tanaman dapat memengaruhi produktivitas tebu. "Silakan pilih kualitas yang paling baik sesuai dengan lokasi. Varietas yang dulu dianggap unggul belum tentu cocok pada tahun-tahun belakangan karena sudah banyak penyakit yang memengaruhi produktivitas," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lamongan Mugito mengatakan, Lamongan juga memberikan dukungan bibit kepada petani tebu. Bantuan tersebut berupa sekitar 60 ribu mata tunas per hektare. Selain bibit, petani mulai diperkenalkan dengan mekanisasi dalam proses budidaya tebu.
Mekanisasi digunakan untuk membantu berbagai tahapan, mulai dari penanaman, pengupasan hingga pengangkutan. "Lamongan mulai diperkenalkan dengan mekanisasi tebu. Dengan alat yang ada, kami berharap bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga petani tebu tidak kesulitan," jelas Mugito.
Penerapan mekanisasi diharapkan dapat membuat proses budidaya lebih efektif dan efisien sekaligus mengurangi beban pekerjaan petani. Program bongkar ratoon tersebut merupakan kolaborasi Kementerian Pertanian, Pemkab Lamongan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lamongan, PT KTM Mitr Phol serta Gapoktan Sumber Mulya Mutiara Abadi.
Dengan pengembangan lahan sekitar 93 hektare, bantuan bibit, pemilihan varietas dan penerapan mekanisasi, Pemkab Lamongan berharap produksi tebu semakin meningkat dan dapat berkontribusi terhadap target swasembada gula nasional.
