Tukang Cuci Ompreng MBG di Tulungagung Ditemukan Tewas Bunuh Diri

Tukang Cuci Ompreng MBG di Tulungagung Ditemukan Tewas Bunuh Diri

Adhar Muttaqin - detikJatim
Rabu, 16 Sep 2026 08:15 WIB
Tukang cuci ompreng MBG ditemukan tewas bunuh diri dalam rumahnya di Rejotangan, Tulungagung karena terlilit utang pinjol
Tukang cuci ompreng MBG ditemukan tewas bunuh diri dalam rumahnya di Rejotangan, Tulungagung karena terlilit utang pinjol (Foto: Dok. Istimewa)
Tulungagung -

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Seorang pemuda di Tulungagung ditemukan tewas di dalam rumahnya dengan seutas tali kain kafan Selasa (15/9). Korban diduga mengalami depresi akibat terjerat pinjaman online (pinjol).

Kasihumas Polres Tulungagung Iptu Nanang Murdianto mengatakan, korban FYP (20) warga Kecamatan Rejotangan, Tulungagung. Aksi nekat korban diketahui oleh pacarnya pada pukul 11.05 WIB.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya itu korban sempat video call dengan pacarnya dan sempat bercerita jika telah membayar utang ke temannya," kata Iptu Nanang, Rabu (16/9/2026).

Namun, saat ditanya terkait kewajiban angsuran utang pinjol, korban justru langsung menyampaikan jika ingin mengakhiri hidup.

ADVERTISEMENT

Mengetahui hal itu sang pacar langsung bergegas menghubungi keluarga agar mendatangi rumah korban. Saksi kemudian masuk ke rumah dengan cara mendobrak pintu. Saat itulah FYP ditemukan telah meninggal dunia. Peristiwa itu selanjutnya dilaporkan ke perangkat desa dan diteruskan ke kepolisian.

"Tim Inafis menemukan tali kain kafa menjerat leher korban yang diikatkan di angin-angin ruang tengah," jelasnya.

Nanang menjelaskan dari keterangan saksi, FYP sehari-hari memelihara kambing dan jadi tukang cuci ompreng MBG di SPPG. Diakui saksi, korban juga memilki tanggungan utang dari penyedia layanan pinjaman online dengan nominal yang relatif besar.

"Dalam sepekan korban punya kewajiban mengangsur Rp 15 juta," imbuhnya.

Polisi menduga korban mengalami depresi atas jeratan pinjol tersebut, sehingga mengambil jalan yang tidak semestinya.

"Kalau dari visum, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan," kata Nanang.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads