Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengimbau pemasangan pagar di sejumlah pusat perbelanjaan di Surabaya tidak terlalu tinggi demi menjaga estetika kota. Pihak Pakuwon Group buka suara menanggapi hal ini.
Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi memastikan, pihaknya akan merapikan pagar mal di Surabaya.
"Kami akan rapikan, sesuai imbauan Wali Kota Surabaya Pak Eri Cahyadi untuk menjaga estetika kota," kata Sutandi kepada detikJatim, Kamis (6/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutandi mengatakan, pagar mal milik Pakuwon Group yang akan dirapikan yakni di Pakuwon Mall Surabaya Barat dan Tunjungan Plaza (TP) yang terletak di pusat Kota Surabaya.
"Yang kita rapikan atau dipendekin di TP sama Pakuwon Barat. Karena secara estetika nge-block gedung utama di dua lokasi itu," tegasnya.
"Jadi dipendekin, dipotong lebih pendek. Kita lepas dulu terus kita pendekin, baru kita pasang lagi," tambahnya.
Sutandi menegaskan, Pakuwon Group sejalan dengan apa yang disampaikan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi soal menjaga estetika kota.
"Pesannya untuk menjaga estetika Kota Surabaya," tandasnya.
Baca juga: Respons Warga Soal Mal Surabaya Dipagari |
Sebelumnya diketahui, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyoroti pemasangan pagar besi tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Surabaya. Menurutnya, pagar tidak perlu dibongkar, namun sebaiknya tidak dipasang terlalu tinggi demi menjaga estetika kota.
Pernyataan itu disampaikan Eri menanggapi fenomena pagar tinggi di beberapa mal di Surabaya, setelah sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta pagar serupa di Jakarta ditertibkan dengan alasan keamanan.
Beberapa waktu terakhir, pemasangan pagar besi setinggi sekitar 2,5 meter di sejumlah mal seperti Pakuwon Mall, Royal Plaza, Tunjungan Plaza, dan Pakuwon City menjadi perbincangan publik.
Warganet sempat berspekulasi pagar tersebut dipasang untuk mengantisipasi aksi demonstrasi maupun kondisi ekonomi saat ini. Namun, pengelola mal membantah anggapan tersebut dan menyebut pagar dipasang demi kenyamanan pengunjung.
Eri menegaskan Pemerintah Kota Surabaya tidak meminta pagar itu dibongkar. Namun, ia telah meminta pengelola agar ketinggian pagar disesuaikan sehingga tidak mengganggu estetika kota.
"Jadi kita sudah meminta mereka untuk menurunkan, tidak terlalu tinggi. Tapi karena memang ini bukan- bukan semua titik. Kenapa kami tidak menyampaikan hal itu, karena tidak semua mal kan di Surabaya itu, hanya dua atau tiga mal saja yang model begitu. Tapi kemarin udah disampaikan biar estetikanya bagus, jangan terlalu tinggi," kata Eri kepada wartawan di Balai Kota, Senin (3/8/2026).
Menurut Eri, pagar yang tidak terlalu tinggi juga membuat kawasan sekitar mal terlihat lebih terbuka dan tidak menghalangi pandangan masyarakat.
"Ketika pagar itu (tidak terlalu tinggi), ada orang jalan semakin terang. Jadi bisa ada iklan yang nempel di pagar, tidak terlalu tinggi," ujarnya.
Selain faktor estetika, Eri juga khawatir pagar yang terlalu tinggi dapat menimbulkan kesan seolah-olah Surabaya merupakan kota yang tidak aman. Padahal, menurutnya, kondisi keamanan di Kota Pahlawan tetap terjaga.
"Yang orang akan mencerminkan rasa takut (jika pagar tinggi). Padahal lek (kalau) Kota Surabaya ini juga aman. Nanti kita koordinasikan," jelasnya.
Terkait anggapan bahwa pagar dipasang sebagai antisipasi demonstrasi, Eri mengaku belum pernah menerima penjelasan tersebut dari pengelola mal. Karena itu, ia kembali menegaskan akan berkoordinasi agar pagar tidak dibuat terlalu tinggi.
"Ya saya bilang pagarnya ojok duwur-duwur (jangan tinggi-tinggi) lah. Dikira nanti ada apa-apa, atau ada rasa kekhawatiran, padahal tidak seperti itu. Itu kita akan koreksi lagi nanti," pungkasnya.
