Rupiah Tembus Rp17.698 per Dolar AS, Kadin Jatim Soroti Ancaman PHK

Rupiah Tembus Rp17.698 per Dolar AS, Kadin Jatim Soroti Ancaman PHK

Esti Widiyana - detikJatim
Sabtu, 23 Mei 2026 12:50 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus level psikologis Rp 17.000 pada perdagangan awal pekan. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya tekanan dari berbagai sentimen global yang mempengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang.
Ilustrasi Pelemahan Rupiah (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)
Surabaya -

Nilai tukar rupiah pada Sabtu (23/5/2026) menyentuh angka Rp17.698 per dolar AS. Kondisi tersebut mulai berdampak pada kenaikan harga bahan baku industri hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto menilai pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan besar terhadap dunia usaha dan daya beli masyarakat.

"Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan dampak berlapis terhadap dunia usaha dan industri nasional. Setidaknya terdapat tiga lapisan dampak utama yang kini mulai dirasakan pelaku usaha, mulai dari kenaikan biaya produksi hingga melemahnya daya saing industri," kata Adik, Sabtu (23/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, dampak paling terasa dari melemahnya rupiah adalah kenaikan biaya produksi. Hal itu dipicu tingginya ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor yang dibeli menggunakan dolar AS.

ADVERTISEMENT

"Bahan baku seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik masih didominasi impor. Ketergantungan impor bahan baku industri manufaktur Indonesia bahkan disebut masih berada di atas 70 persen," jelasnya.

Menurut Adik, kondisi tersebut membuat sejumlah sektor industri terdampak, terutama manufaktur, farmasi, otomotif, dan tekstil. Margin keuntungan pelaku usaha juga ikut tergerus karena biaya produksi meningkat, sementara harga jual produk tidak bisa langsung dinaikkan ke pasar.

Tak hanya menekan biaya produksi, pelemahan rupiah juga dinilai berdampak pada menurunnya daya saing industri nasional. Produk domestik menjadi lebih mahal di pasar ekspor sehingga kalah kompetitif dibanding produk dari negara lain.

"Para pelaku usaha kini mulai menahan stok bahan baku dan melakukan efisiensi produksi karena khawatir daya beli masyarakat terus menurun," ujarnya.

Adik mengatakan kondisi tersebut dapat memicu ancaman PHK apabila berlangsung terlalu lama dan daya beli masyarakat terus melemah.

"Pendapatan masyarakat tetap, sementara harga barang naik. Ini jadi problem daya beli. Akhirnya pengusaha membatasi impor bahan baku dan mengurangi produksi. Kalau lama-kelamaan begini, ancaman PHK akan terus mengintai," tegasnya.

Ia menyebut banyak pengusaha memilih mengurangi margin keuntungan dibanding langsung menaikkan harga produk ke konsumen sebagai strategi bertahan.

"Artinya tidak menaikkan harga sementara, tetapi mengurangi keuntungan. Namun juga tidak bisa terlalu lama," tambahnya.

Di sisi lain, produk lokal dinilai memiliki peluang lebih kompetitif dibanding barang impor, terutama produk pertanian yang menggunakan bahan baku dalam negeri.

"Produk-produk yang betul-betul lokal ini bisa lebih kompetitif dari produk impor yang sama. Contohnya petani jeruk atau durian, mereka bisa lebih menang dibanding produk impor langsung dari luar negeri," ujarnya.

Ia menambahkan, Jawa Timur masih memiliki kekuatan di sektor pertanian dan peternakan yang surplus. Namun, ekonomi global diperkirakan tetap akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang.

Pemerintah pun didorong memperkuat bantuan sosial guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Meski kondisi ekonomi global dinilai cukup berat, Adik tetap optimistis pemerintah memiliki langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Yang paling diperlukan sekarang bansos, bantuan tunai. Jadi daya beli masyarakat bisa naik lagi dan pengusaha juga terbantu. Kita sebagai pengusaha nggak boleh berpikir negatif atau pesimis. Kita percayakan pada pemerintah, tapi tetap harus memakai strategi-strategi untuk menjaga usaha tetap berjalan," pungkasnya.




(ihc/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads