Siasat Pengrajin Tempe Surabaya Hadapi Harga Kedelai Naik Dampak Perang

Siasat Pengrajin Tempe Surabaya Hadapi Harga Kedelai Naik Dampak Perang

Jihan Navira - detikJatim
Senin, 06 Apr 2026 16:15 WIB
Kampung Tempe, Jalan Tenggilis Kauman, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya.
Kampung Tempe, Jalan Tenggilis Kauman, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya. (Foto: Jihan Navira/detikJatim)
Surabaya -

Dampak konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai merembet ke sektor usaha kecil di Indonesia. Salah satu yang terdampak adalah para produsen tempe di Kampung Tempe, Jalan Tenggilis Kauman, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya.

Di kampung tersebut, terdapat tujuh rumah produksi tempe yang kini sama-sama merasakan tekanan biaya produksi. Salah satu produsen, Ghofur Rohim (54), mengaku harga kedelai terus merangkak naik sejak sebelum Lebaran.

"Sebelumnya sekitar Rp 9.500 per kilogram. Naiknya waktu masih puasa, habis Lebaran makin naik lagi. Sekarang sudah Rp 10.400 per kilogram," ujarnya saat ditemui detikJatim pada Senin (6/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ghofur menyebut dirinya masih bergantung dengan kedelai impor karena ketersediaan kedelai lokal sangat terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan produksi. Selain itu, kualitas kedelai lokal yang kerap kali menurun menjadi salah satu faktor.

"Kalau lokal sebenarnya rasanya lebih enak, cuma hasilnya untuk tempe kurang bagus. Jumlahnya juga tidak mencukupi. Sudah habis diserap untuk produksi tahu, apalagi di daerahnya sendiri," kata Ghofur.

ADVERTISEMENT

Di tengah kondisi ini, Ghofur mengaku sulit untuk menaikkan harga jual secara signifikan dan justru harus memutar otak agar tetap bertahan.

Untuk menyiasatinya, ia memilih memperkecil ukuran tempe, meski langkah itu belum mampu menutup penurunan keuntungan.

"Sekarang per potong atau per kilonya saya jual sekitar Rp 11.000 sampai Rp 12.000, menyesuaikan harga kedelai. Itu pun sulit dibilang untung," ujarnya.

Meski kerap dikaitkan dengan dampak perang dagang, Ghofur menilai naik-turunnya harga kedelai sebenarnya sudah menjadi fenomena tahunan.

"Katanya sih pengaruh perang. Tapi saya kira tidak juga. Dulu tidak ada perang pun tetap naik. Setiap tahun pasti ada naik-turun, apalagi menjelang akhir tahun. Dulu juga katanya pengaruh dolar, ekonomi kita sampai sekarang belum stabil," tuturnya.

Ia bahkan mengingat harga kedelai impor pernah menembus Rp 12.000 per kilogram. Menurutnya ketidakstabilan ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap impor masih menjadi persoalan utama.

Ghofur juga mengenang masa ketika Indonesia sempat mencapai swasembada kedelai pada era 1980-an. Saat itu, kedelai lokal dinilai berkualitas baik dan harganya relatif murah.

"Dulu ada kedelai lokal namanya Galunggung. Besar-besar, agak panjang, bersih, kualitasnya bagus. Impor pun kalah. Tapi cuma bertahan beberapa bulan, setelah itu tidak ada lagi," kenangnya.

Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi nyata untuk menstabilkan harga kedelai, sehingga para produsen tempe tidak terus-menerus berada dalam ketidakpastian.

"Harapannya ya harga bisa turun. Kalau tidak turun, ya setidaknya stabil. Jangan naik-turun terus seperti ini," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads