Produsen Tempe Lumajang Menjerit Terdampak Kenaikan Harga Kedelai

Produsen Tempe Lumajang Menjerit Terdampak Kenaikan Harga Kedelai

Nur Hadi Wicaksono - detikJatim
Sabtu, 04 Apr 2026 21:40 WIB
Produsen tempe di Lumajang
Produsen tempe di Lumajang/Foto: Nur Hadi Wicaksono/detikJatim
Lumajang -

Dampak konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai dirasakan hingga sektor usaha kecil. Salah satunya produsen tempe di Lumajang, Jawa Timur yang kini tertekan akibat kenaikan harga kedelai impor.

Industri rumahan tempe di Kampung Tempe, Kelurahan Jogorunan, mulai merasakan dampak dari memanasnya konflik tersebut. Harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama tempe mengalami kenaikan signifikan.

Harga kedelai yang sebelumnya sekitar Rp 9.500 per kilogram kini naik menjadi Rp 10.500 per kilogram. Kenaikan ini membuat biaya produksi meningkat, sementara harga jual tempe sulit disesuaikan karena daya beli masyarakat masih terbatas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu produsen tempe, Saiful Amin, mengaku harus menghadapi tekanan tersebut setiap hari. Ia membutuhkan sekitar 2 kuintal kedelai impor untuk produksi.

Di tengah kondisi itu, Saiful memilih tetap mempertahankan ukuran dan kualitas tempe yang diproduksinya, meski keuntungan yang diperoleh semakin menipis.

ADVERTISEMENT

"Kalau yang lainnya dikurangi, saya tetap ukurannya, saya menjaga kualitas tempe yang saya produksi meskipun keuntungannya berkurang," ujar salah satu produsen tempe Saiful kepada detikJatim, Sabtu (4/4/2026).

Saiful bersama produsen lainnya berharap harga kedelai segera kembali stabil agar usaha mereka bisa terus berjalan.

"Harapannya semoga harga kedelai kembali stabil sehingga tidak terdampak bagi produsen tempe," pungkas Saiful.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads