Bulan suci Ramadan harusnya menjadi ladang berkah bagi para pengusaha dan pengrajin. Namun, hal itu tidak dirasakan bagi perajin rebana di Kota Blitar.
Sejumlah perajin mengaku permintaan alat musik rebana justru menurun saat ini. Menurunnya daya beli masyarakat hingga permasalahan ekonomi nasional disebut menjadi faktor penyebab.
detikJatim mendatangi salah satu tempat produksi rebana di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar. Rumah produksi itu tampak sepi. Hampir tidak ada aktivitas produksi yang dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produksi rebana di Kota Blitar Foto: Fima Purwanti/detikJatim |
Tumpukan rebana berbagai ukuran ditata rapi pada rak. Sementara rebana setengah jadi berada di ruangan lainnya hingga proses produksi selesai.
"Saat ini memang tidak produksi secara besar, hanya beberapa saja. Karyawan juga diliburkan, hanya satu yang masuk hari ini," kata Gito kepada detikJatim, Minggu (8/3/2026).
Gito menyebut, produksi rebana hanya dilakukan saat ada pesanan saja. Seperti dari Pondok Pesantren maupun dari sales untuk memenuhi persediaan toko.
"Tetap produksi tapi tidak banyak. Hanya kalau ada pesanan, misalnya pesanan Pondok Pesantren di Tulungagung, Trenggalek dan sekitarnya," katanya.
Menurutnya, permintaan rebana mengalami penurunan sejak tiga tahun terakhir. Hal itu disebabkan oleh daya beli masyarakat yang menurun.
"Jauh sekali kalau dulu dan sekarang, dulu sehari bisa 500 pcs dikirim ke luar. Pernah juga ekspor ke Yordania. Sekarang sudah sulit, tapi ya bertahan," jelasnya.
Meski tak setiap hari berproduksi, Gito mengaku tetap menjaga kualitas rebana yang dijual. Termasuk memperhatikan bahan baku yang digunakan untuk membuat rebana tersebut.
Harga rebana bervariasi, tergantung ukuran dan kebutuhan. Rebana untuk mainan anak-anak berkisar dari Rp 23 ribu untuk ukuran 16 centimeter hingga Rp 70 ribu untuk ukuran 26 centimeter.
"Kalau rebana dimainkan profesional itu sekitar Rp 300 ribu per unit. Ukurannya standar 30 centimeter," tandasnya.
(irb/hil)

