Tim Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdayakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) purna kembangkan ekonomi kreatif melalui program bertajuk Pembentukan Kelompok Usaha Batik Ecoprint. Pengabdian yang berfokus pada penguatan kemandirian ekonomi masyarakat desa ini dilakukan di Balai Desa Tapakrejo, Blitar, Jawa Timur.
Diketuai oleh Dosen Sosiologi UMM Tutik Sulistyowati bersama anggota tim Wehandaka Pancapalaga, pembentukan kelompok usaha Batik Ecoprint menyasar tiga dusun berbeda, yaitu Dusun Sumbermangku, Dusun Mangkurejo dan Dusun Tapakrejo Krajan. Dalam pelaksanaannya, program ini diikuti 15 orang PMI purna yang terbagi dalam tiga kelompok usaha.
"Program ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi pekerja migran purna sekaligus sebagai upaya nyata untuk mendorong keberlanjutan ekonomi berbasis potensi lokal, khususnya kaum ibu," tutur Tutik, Rabu (4/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tutik menyebut, agenda tersebut bukan sekadar seremonial semata, melainkan sebagai pintu masuk bagi proses pemberdayaan yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Berdasarkan pengalaman empiris, Tutik menyebut bahwa usaha yang dijalankan secara individu kerap menghadapi keterbatasan, baik dari sisi modal, pemasaran, maupun keberlanjutan produksi.
"Oleh karena itu, pendekatan usaha berbasis kelompok akan lebih efektif karena memungkinkan untuk bekerjasama, membagi peran, serta penguatan solidaritas sosial. Jadi, ini akan menjadi ruang untuk saling mendukung dan berkembang bersama," jelas Tutik.
Untuk mengantisipasi dalam merintis usaha agar tidak berhenti di tengah jalan, Tutik bersama timnya menerapkan model kelompok usaha sebagai sarana belajar bersama dalam pengelolaan keuangan, pengambilan keputusan, dan perencanaan usaha jangka panjang.
Pemilihan usaha berupa Ecoprint itu sendiri didasari oleh karakternya yang ramah lingkungan, memanfaatkan bahan lokal, serta relatif mudah untuk dikembangkan sebagai usaha skala rumah tangga.
"Ecoprint bukan sekadar produk seni, tetapi juga memiliki potensi yang menjanjikan jika dikelola secara kolektif dan berkelanjutan," ujar Tutik.
PMI yang tergabung dalam kelompok usaha ini melaksanakan sistem produksi bersama di mana pembagian tugas akan dapat dilakukan secara lebih efisien, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga pemasaran.
Ke depannya, Tutik menjelaskan bahwa pengembangan usaha ini nantinya diarahkan pada pendampingan lanjutan, inovasi produk, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar.
"Bagaimana pun, strategi digitalisasi ini menjadi penting agar produk batik ecoprint mampu bersaing dan menjangkau konsumen yang lebih luas," kata ketua tim tersebut.
Program pemberdayaan ini mendapatkan respons positif dari pemerintah desa dengan harapan keberadaan kelompok usaha batik ecoprint ini dapat berjalan secara konsisten dan memberikan dampak nyata.
"Tentunya, dukungan desa menjadi modal sosial yang penting agar kelompok usaha ini tumbuh sebagai penggerak ekonomi lokal. Apabila dikelola dengan pendampingan berkelanjutan, kelompok usaha batik ecoprint dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat desa secara lebih luas. Jadi, tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pendapatan PMI purna saja," Tutik menerangkan.
Oleh karena itu, Tutik menegaskan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan kelompok usaha dan pelatihan ecoprint merupakan langkah awal yang strategis. Keberlanjutan program melalui pendampingan, pengembangan usaha, dan digitalisasi menjadi kunci agar tujuan pemberdayaan benar-benar tercapai serta dapat memberikan dampak sosial-ekonomi yang positif bagi PMI purna dan masyarakat desa.
(auh/abq)











































