Mayoritas nelayan di Pasuruan memilih tidak melaut karena cuaca ekstrem dan gelombang tinggi beberapa hari terakhir. Kondisi itu menyebabkan pasokan ikan segar berkurang dan harga mulai naik.
Para nelayan di Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan mengaku tak mau ambil risiko keselamatan dengan tetap nekat melaut. Mereka mengisi waktu luang dengan memperbaiki alat tangkap dan menyulam jaring sembari menunggu cuaca kembali kondusif.
"Sekarang kami lebih waspada. Kalau laporannya cuaca buruk, kami memilih tidak berangkat sama sekali daripada resiko," kata Tatang, salah satu nelayan Kelurahan Ngemplakrejo, Sabtu (24/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tatang menjelaskan, fenomena angin barat menjadi ancaman utama karena kerap datang mendadak dan memicu ombak besar yang membahayakan perahu nelayan. Meski ikan lebih banyak, lanjutnya, namun risikonya besar jika nekat melaut.
"Kalau angin kencang itu malah musimnya ikan. Tapi risikonya juga besar, perahu bisa terbalik. Sebagian besar dari kami tidak berani ambil risiko itu meskipun sebagian masih ada yang tetap berangkat," imbuhnya.
Banyaknya nelayan yang tidak melaut berdampak pada pasokan ikan segar lokal di Kota Pasuruan. Menurunnya pasokan ikan memicu kenaikan harga.
"Ikan tongkol kecil yang biasanya dijual Rp 12.000 hingga Rp 15.000 per kilogram, kini menyentuh angka Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per kilogram. Cumi-cumi yang biasanya dibanderol Rp 40.000 hingga Rp 50.000, kini menembus Rp 65.000 hingga Rp 70.000 per kilogram," kata Makrus, seorang pengepul ikan.
Menurutnya, meski harga melonjak, komoditas tersebut tetap cepat laku karena tingginya peminat di tengah kelangkaan stok.
"Barangnya jarang. Kalau ada, biasanya tetap cepat laku karena banyak yang mencari meski mahal," pungkasnya.
(irb/hil)











































