Mengintip Bisnis Tembakau Lintingan di Kota Blitar yang Sedang Naik Daun

Erliana Riady - detikJatim
Sabtu, 02 Jul 2022 09:27 WIB
Pengusaha tembakau lintingan Blitar
Salah satu toko tembakau lintingan di Kota Blitar. (Foto: Erliana Riady/detikJatim)
Blitar -

Bisnis tembakau makin bersinar di Kota Blitar. Omzet mereka naik signifikan, karena efek gaya hidup perokok pabrikan yang bergeser dari rokok pabrikan ke lintingan.

Merokok bisa dikatakan bagian tradisi masyarakat Jawa. Imam Budhi Santoso dalam bukunya "Ngudud Cara Orang Jawa Menikmati Hidup" menuliskan, "bisa jadi hanya dengan rokok murahan, rokok tingwe (ngelinting dewe) atau puntung sekalipun, wong cilik di Jawa dapat terus berdiri dan mandiri. Melupakan sejenak beban hidup yang tak mungkin lagi digambarkan dengan kata dan bahasa. Dari situ pula mereka mampu terus bertahan dan membangun sejarah di tanah"

Salah satu toko kecil rokok lintingan berada di Jalan Kali Amprong, Pakunden. Toko bernama Sumber Sahabat sejak buka jam 09.00 WIB, tak henti melayani pembeli tembakau yang datang.

Mereka adalah penikmat rokok lintingan. Jika dulu rokok lintingan identik dengan orang jadul berusia lanjut, kini lifestyle perokok lintingan bergeser ke kaum milenial.

Fauzi adalah satu di antara perokok yang bergeser ke lintingan. Pemuda berusia 23 tahun ini sejak empat tahun lalu pindah ke lintingan. Karena harga rokok pabrikan makin tak terjangkau kantongnya. Berawal dari melihat seorang teman yang kelihatan sangat menikmati rokok lintingan, Fauzi pun mencoba dan jadi keterusan.

"Saya beli tembakau rasa-rasa. Sangat hemat wong beli 1 ons Rp 15 ribu jadi seminggu. Kalau rokok sebungkus sekarang Rp 21 ribu cuma jadi sehari. Kenikmatan sama, kalau lintingan malah lebih variatif rasanya. Bisa diganti atau di mixed sendiri," tutur Fauzi kepada detikjatim, Sabtu (2/7/2022).

Pemilik toko Sumber Sahabat, Ahmad Dufan Ardiansyah mengakui, pembelinya makin ramai sekarang. Jika kaum milenial lebih menyukai tembakau rasa hasil produksi pabrikan, sedangkan generasi tua lebih fanatik militan ke tembakau orisinal dari petani.

"Di sini kami menyediakan semua jenis tembakau. Mulai tembakau dari Aceh sampai Sopeng Lombok. Harganya variatif, yang paling mahal itu tembakau Tambeng dari Bondowoso. Satu ons harganya Rp 70 ribu," kata Dufan.

Yup, tembakau Tambeng memang terkenal dengan aroma dan cita rasa sangat enak. Tak heran jika, tembakau ini masih menjadi primadona bagi kaum lintingan kelas atas. Dufan menambahkan, selain tembakau Tambeng yang mahal harganya, tokonya juga menyediakan tembakau lain yang harganya relatif terjangkau.

"Yang paling cepat habis itu seperti tembakau Darma Wangi dari Sukabumi, tembakau Madura dan Kali Turi dari Tulungagung. Omzet sehari sekarang bisa Rp 2 juta. Naik banyak, apalagi sejak harga rokok pabrikan makin mahal," ungkapnya.



Simak Video "Pasutri di Blitar Menganiaya Balita hingga Luka Sekujur Tubuh"
[Gambas:Video 20detik]
(dte/dte)