Toko Madjoe di Kota Malang Hampir Satu Abad Jualan Kue Kering

Muhammad Aminudin - detikJatim
Sabtu, 15 Jan 2022 18:59 WIB
Di Kota Malang ada Toko Madjoe yang legendaris. Toko di Jalan Pasar Besar Nomor 30B ini hampir satu abad menjual kue kering.
Toko Madjoe/Foto: Muhammad Aminudin/detikcom
Malang -

Di Kota Malang ada Toko Madjoe yang legendaris. Toko di Jalan Pasar Besar Nomor 30B ini hampir satu abad menjual kue kering.

Di sini ada puluhan macam kue kering. Termasuk jajanan yang identik disajikan saat hari besar seperti Idul Fitri dan Natal.

Toko Madjoe berdiri tahun 1930, atau 91 tahun yang lalu. Tetap menjaga cita rasa dari resep yang turun-temurun menjadi salah satu upaya agar toko tersebut bertahan.

Toko tetap mempertahankan nuansa klasik, tak seperti toko kue modern saat ini. Tampak dari depan, pintu hingga jendela toko masih menggunakan kayu. Begitu juga dengan papan nama toko yang masih memakai ejaan lama, Toko Madjoe. Sehingga melengkapi kesan kuno dari toko yang dikelola oleh tiga generasi tersebut.

Toko Madjoe awalnya dirintis oleh Teh Bian Liep. Kue kering yang dijual digemari warga Kota Malang kala itu, dan orang-orang Belanda.

Di Kota Malang ada Toko Madjoe yang legendaris. Toko di Jalan Pasar Besar Nomor 30B ini hampir satu abad menjual kue kering.Toko Madjoe yang legendaris/ Foto: Muhammad Aminudin/detikcom

Macam-macam kue kering yang dijual diletakkan dalam toples kaca kuno, yang dijajar rapi di atas rak kayu. Ada kurang lebih 25 jenis kue kering yang dijajakan di toko tersebut. Misalnya semprit, blinjo, kenari, kastengel, sampai dengan sagon.

"Di sini ada sekitar 25 jenis kue kering, yang memang dari sejak dulu menjual kue kering. Sekarang yang mengelola nenek saya atau generasi ketiga," ujar generasi kelima pemilik Toko Madjoe, Cornelia Feliciana (16), Sabtu (15/1/2021).

Cornelia mengatakan, sebagian besar pembeli merupakan pelanggan lama. Tak sedikit, pembeli kue sekarang juga merupakan keturunan dari pelanggan lama.

"Banyak pelanggan usia kisaran 20-30 tahunan yang bilang mereka tahu Toko Madjoe karena dulunya sering diajak oleh orang tuanya. Jadi mereka seperti nostalgia juga. Kebetulan yang banyak dicari oleh pembeli adalah kue-kue yang kuno juga," katanya.

Untuk produksi kue, lanjut Cornelia, tidak dilakukan setiap hari. Terkadang menyesuaikan dari permintaan pasar. Kue kering dibuat secara rumahan oleh anggota keluarganya.

"Produksi kue tidak setiap hari. Nunggu yang ada ini habis dulu baru membuat lagi. Kue kering ini cukup tahan lama. Bisa sampai dua bulan. Produksi setiap hari mungkin hanya ketika momen tertentu seperti jelang Natal atau lebaran Idul Fitri," sambungnya.

Dari 25 varian kue kering yang dijual, harganya berbeda-beda. Harganya berkisar Rp 140 ribu sampai Rp 250 per kilogram. Penjualan kue juga menggunakan timbangan klasik yang masih dipertahankan.

Cornelia mengaku sudah mulai memanfaatkan media sosial untuk memasarkan kue-kue buatan Toko Madjoe. Meski itu belum bisa optimal karena harus membagi waktu untuk belajar di sekolah.

Di Kota Malang ada Toko Madjoe yang legendaris. Toko di Jalan Pasar Besar Nomor 30B ini hampir satu abad menjual kue kering.Generasi kelima pemilik Toko Madjoe, Cornelia Feliciana/ Foto: Muhammad Aminudin/detikcom

Dia meyakini, Toko Madjoe memiliki sesuatu yang berbeda dan akan tetap mendapat tempat di hati masyarakat.

"Kalau untuk pemasaran di medsos memang belum maksimal karena saya juga harus membagi waktu dengan sekolah. Tetapi, saya percaya bahwa kue-kue yang dijual di Toko Madjoe memiliki rasa khas, yang tidak didapatkan di tempat lain," pungkasnya.



Simak Video "Kisah Pemilik Kue Kering di Tangerang Raup Omzet hingga Rp 300 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/sun)