- Apa Itu OMC?
- Bagaimana Cara Kerja OMC hingga Memicu Hujan? 1. Memantau Kondisi Atmosfer dan Menentukan Awan Potensial 2. Melakukan Penyemaian Awan Menggunakan NaCI 3. Menggunakan Dry Ice Apabila Diperlukan untuk Penanganan Asap 4. Menyemai Awan Ketika Kondisi Mendukung
- Mengapa OMC Dilakukan di Jawa Timur?
- Apakah Semua Hujan di Jatim Disebabkan OMC?
Sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk Surabaya, diguyur hujan di tengah kemarau yang masih berlangsung. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan di beberapa wilayah dipicu oleh Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sehingga bukan menjadi penanda datangnya musim hujan.
Melansir CNN, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan mengatakan OMC menyasar sejumlah wilayah, di antaranya Sidoarjo, Probolinggo, sebagian Pasuruan, Malang, dan sebagian Bondowoso. Lantas, apa itu OMC, bagaimana cara kerjanya hingga dapat memicu hujan, dan apa tujuannya?
Apa Itu OMC?
Mengutip informasi dari laman resmi BMKG, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) merupakan upaya mengelola sumber daya air di atmosfer dengan memanfaatkan parameter cuaca.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operasi ini dilakukan untuk meningkatkan atau menurunkan intensitas curah hujan di wilayah tertentu sesuai kebutuhan, misalnya untuk membantu mengatasi kekeringan atau mengurangi risiko bencana akibat hujan berlebih.
Pelaksanaan OMC membutuhkan analisis meteorologi dan pemantauan kondisi atmosfer. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan strategi operasi, termasuk memilih awan yang berpotensi menjadi sasaran penyemaian.
Dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur, OMC dilakukan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah sasaran. Pemerintah juga menambah dukungan operasi udara dengan mengerahkan satu pesawat modifikasi cuaca dari Kalimantan Barat ke Jawa Timur.
Bagaimana Cara Kerja OMC hingga Memicu Hujan?
Salah satu teknik yang digunakan dalam OMC untuk meningkatkan peluang hujan adalah penyemaian awan atau cloud seeding. Teknik ini memanfaatkan awan yang sudah terbentuk secara alami dan memiliki kondisi atmosfer yang sesuai. Berikut gambaran cara kerja penyemaian awan dalam OMC.
1. Memantau Kondisi Atmosfer dan Menentukan Awan Potensial
Pemantauan kondisi atmosfer dan radar cuaca menjadi dasar dalam menentukan awan sasaran penyemaian. Hasil pengamatan dan analisis meteorologi digunakan untuk menyesuaikan strategi operasi dengan perkembangan cuaca setempat.
2. Melakukan Penyemaian Awan Menggunakan NaCI
Pada awan yang sesuai, tim melakukan penyemaian menggunakan natrium klorida (NaCI) atau garam. Penyemaian ini membantu proses pertumbuhan butiran air di dalam awan sehingga peluang terjadinya hujan meningkat. Keberhasilannya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan awan yang tersedia.
3. Menggunakan Dry Ice Apabila Diperlukan untuk Penanganan Asap
Dalam penanganan kabut asap karhutla, BMKG juga menggunakan dry ice atau es kering untuk membantu mengganggu lapisan inversi atmosfer. Lapisan inversi merupakan kondisi ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu.
Kondisi ini dapat menghambat pencampuran udara secara vertikal, yaitu pergerakan dan percampuran udara ke atas dan ke bawah, sehingga asap tertahan di dekat permukaan.
Es kering yang disemai mengalami sublimasi, yakni perubahan langsung dari wujud padat menjadi gas. Proses ini menimbulkan pendinginan yang diharapkan membantu membuka kembali aliran konveksi atau gerakan udara ke atas, sehingga asap dapat naik dan terurai di atmosfer.
4. Menyemai Awan Ketika Kondisi Mendukung
Melemahnya lapisan inversi diharapkan membantu sinar matahari menembus atmosfer dan mendukung konveksi serta pembentukan awan hujan.
Apabila tersedia awan potensial, tim dapat melakukan penyemaian menggunakan NaCI.
Dengan demikian, penggunaan es kering merupakan penanganan khusus sesuai kondisi atmosfer, bukan tahapan wajib dalam setiap OMC untuk memicu hujan.
Mengapa OMC Dilakukan di Jawa Timur?
OMC di Jawa Timur dilakukan untuk membantu mengatasi kekeringan berkepanjangan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi ini melibatkan sejumlah instansi, termasuk BMKG, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta BPBD Jawa Timur.
Taufiq mengatakan penerbangan untuk OMC memiliki jalur khusus yang diarahkan ke sejumlah wilayah sasaran. Menurutnya, hujan di Pasuruan dan Probolinggo berkaitan dengan operasi yang dilakukan di kawasan tersebut.
Selain itu, OMC juga telah dilakukan di Malang dan sebagian Bondowoso. Sementara itu, wilayah Mataraman belum menjadi sasaran operasi pada saat keterangan tersebut disampaikan.
OMC diharapkan dapat meningkatkan peluang turunnya hujan di titik-titik yang membutuhkan tambahan air, terutama wilayah yang terdampak kekeringan dan berisiko mengalami karhutla.
Apakah Semua Hujan di Jatim Disebabkan OMC?
Tidak semua hujan di Jawa Timur dapat langsung dikaitkan dengan OMC. BMKG memang menyatakan hujan di sejumlah wilayah sasaran, dipicu oleh operasi tersebut. Namun, hubungan antara OMC dan hujan perlu dilihat berdasarkan lokasi, waktu pelaksanaan, serta hasil pemantauan meteorologi.
OMC memanfaatkan awan yang terbentuk secara alami dan mempengaruhi proses fisis di dalamnya. Karena itu, keberadaan awan yang memenuhi syarat meteorologis menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan operasi.
BMKG juga memprediksi musim kemarau di Jawa Timur berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino. Berdasarkan analisis pada akhir Oktober 2026, sebanyak 68 dari 74 zona musim atau sekitar 90,6 persen wilayah Jawa Timur diperkirakan baru memasuki musim hujan pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027.
Dengan demikian, hujan yang turun di tengah kemarau tidak serta-merta menandakan musim hujan telah dimulai. Untuk mengetahui apakah hujan di suatu wilayah berkaitan dengan OMC, masyarakat perlu merujuk pada keterangan dan analisis BMKG berdasarkan kondisi di lokasi serta waktu kejadian.
