Pola Latihan Cegah Cedera Hadapi Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya

Pola Latihan Cegah Cedera Hadapi Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya

Muhammad Syihab Wafi - detikJatim
Senin, 26 Okt 2026 21:00 WIB
Ilustrasi gerak jalan Mojokerto Suroboyo.
Foto: Gemini AI Ilustrasi gerak jalan Mojokerto Suroboyo.
Surabaya -

Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Jawa Timur telah membuka pendaftaran bagi peserta Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya (GMS) yang digelar pada 21 November 2026. Hal tersebut disampaikan oleh Dispora lewat akun instagram @dispora_jatim pada Kamis (21/10/2026).

Selain karena sejarahnya, rute sepanjang 55 kilometer menarik antusias masyarakat yang tampak membanjiri kolom komentar unggahan Dispora beberapa waktu lalu.

Menyoroti kesiapan peserta dalam menempuh jarak yang panjang, salah satu Sport Scientist, Ruchi Pharamanandya Okta menyampaikan edukasi kesehatan melalui sejumlah tips and trik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ruchi menjelaskan, seseorang yang tidak terbiasa berolahraga dan langsung terjun ke olahraga ketahanan, dapat berisiko tinggi cedera.

ADVERTISEMENT

"Biasanya yang ikut itu masyarakat awam, bukan dari atlet professional," kata Ruchi, Senin (26/10/2026).

Sebagai salah satu mantan peserta GMS saat duduk di bangku SMA, ia menyebut waktu persiapan peserta untuk menargetkan finish dengan jarak 55 km dalam waktu sebulan sangat kurang ideal.

"Untuk persiapan empat minggu itu sangat tidak ideal. Latihan yang sangat diperlukan adalah endurance dan itu yang justru paling lama proses pembentukannya," kata Ruchi.

Ruchi menjelaskan, ada dua jenis endurance yang perlu dilatih. Pertama, endurance kardio yang berkaitan dengan sistem kardiovaskular dan VO2max. Kedua, endurance otot yang berkaitan dengan kemampuan otot berkontraksi dalam waktu lama.

Bagi peserta yang tetap ingin memeriahkan event GMS 2026, Ruchi menyarankan pola latihan yang masih bisa dicapai dalam waktu 4 minggu. Latihan tersebut terdiri dari lima hari efektif dan dua hari pemulihan.

"Tiga hari latihan endurance kardio yakni berjalan kaki langsung dengan jarak terukur sesuai target. Dua hari latihan endurance otot, selebihnya dibuat istirahat," ujar pelatih fisik CLS Knights Surabaya tersebut.

Ia juga memberikan rekomendasi latihan kekuatan tubuh bagian bawah tanpa alat yang dapat dilakukan di rumah. Menurutnya, postur kaki saat jalan beda dengan lari. Lutut akan cenderung lebih lurus dan otot pinggul perlu dilatih.

"Yang bisa dilakukan teman-teman yakni Split squat untuk otot paha depan (quadriceps), Calf raises untuk betis, Hip bridge dan Hip thrust untuk pinggul," kata Ruchi.

Soal asupan, Ruchi menyebut carbo loading penting dilakukan seperti pada maraton dan ultramaraton. Ia menyarankan karbohidrat dengan kadar gula rendah seperti kentang dan ubi untuk pengganti nasi yang kadar gulanya relatif tinggi.

Selain itu, ia menyarakan peserta untuk lebih sering minum guna menghadapi cuaca Jawa Timur saat ini yang cenderung panas dan lembab. Hal tersebut karena banyaknya asupan air yang masuk dalam tubuh secara berkala akan meminimalisir terjadinya dehidrasi, khususnya Mojokerto, Sidoarjo dan Surabaya yang merupakan rute GMS 2026.

"Nanti waktu berjalan, teman-teman bisa lebih sering minum meski sedikit-sedikit. Misalnya seperempat botol setiap beberapa kilometer, bukan satu botol sekaligus," jelasnya.

Ia juga menjelaskan tanda-tanda dan gambaran ketika peserta menyepelekan asupan yang masuk dalam tubuh saat mengikuti event GMS.

"Tanda awalnya tubuh cepat lemas. Kalau dipaksakan, berisiko blackout, seperti pingsan atau pandangan berkunang-kunang sampai hilang kesadaran," ujarnya.

Persiapan otot-otot sebelum berjalan jauh juga menjadi kunci mengurangi risiko cedera pada peserta. Ruchi menyarankan, ketika peserta akan berjalan agar melakukan pemanasan dinamis, bukan pemanasan statis yang hanya menarik-narik otot.

"Sebelum berjalan sebaiknya melakukan pemanasan dinamis dengan benar. Biasanya teman-teman malah melakukan pemanasan statis, cuma narik-narik otot saja," kata Ruchi.

Sementara itu, Ruchi menyarankan peserta dapat memilih sepatu yang sesuai untuk mencegah lecet pada kaki. Menurutnya, selain kesiapan tubuh untuk menempuh jarak jauh, pemilihan sepatu sebagai alas kaki juga penting.

"Karena ini jaraknya seperti ultra marathon, sepatu yang cocok kalau bisa seperti yang dipakai atlet marathon, punya sol yang empuk dan cukup tebal," ujarnya.

Ruchi juga menyampaikan pesan kepada peserta GMS agar tidak memaksakan diri ketika tubuh sudah dalam batas limit. Ia mencontohkan fenomena ego lifting di dunia gym, yakni ketika seseorang selalu ingin menambah beban padahal otot belum mampu.

"Jangan terlalu meninggikan ego untuk menuntaskan gerak jalan ini. Banyak risiko yang siap menunggu," pungkasnya.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads