Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto-Surabaya atau Mojosuro menjadi salah satu tradisi khas Jawa Timur yang rutin digelar untuk memperingati Hari Pahlawan. Kegiatan ini bukan sekadar ajang berjalan kaki menempuh puluhan kilometer, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengenang perjuangan para pahlawan di Jawa Timur.
Namun, tahukah bahwa rute Mojokerto-Surabaya ternyata bukanlah rute awal gerak jalan ini? Tradisi yang telah berlangsung sejak 1955 tersebut memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang.
Rutenya beberapa kali mengalami perubahan dan pelaksanaannya bahkan sempat dihentikan akibat situasi yang tidak kondusif. Setelah melalui berbagai perubahan, Gerak Jalan Perjuangan kemudian kembali digelar dengan rute Mojokerto-Surabaya seperti yang dikenal masyarakat hingga kini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya Sudah Ada Sejak 1955
Menurut Zerline Tri Cahyani dalam jurnal "Tradisi Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojosuro (Mojokerto-Surabaya) Tahun 2006-2019", Gerak Jalan Perjuangan Mojosuro pertama kali digelar pada 1955 oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur.
Saat itu, kegiatan tersebut belum menggunakan rute Mojokerto-Surabaya, melainkan dimulai dari Pandaan dan berakhir di Surabaya. Rute kemudian diubah pada 1959 menjadi Mojokerto-Surabaya untuk mengenang wilayah pertahanan di sektor barat Sungai Brantas.
Tradisi tersebut juga tidak selalu berlangsung setiap tahun. Pada 1965-1967, Gerak Jalan Perjuangan Mojosuro sempat dihentikan karena situasi politik yang tidak kondusif setelah peristiwa G30S.
Setelah melalui berbagai perubahan, Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya kemudian kembali dikenal sebagai salah satu tradisi yang berkaitan dengan peringatan Hari Pahlawan di Jawa Timur.
Rute Berubah Menjadi Mojokerto- Surabaya
Sejarah Gerak Jalan Perjuangan dimulai pada 1955-1958 dengan rute Pandaan-Surabaya. Kegiatan yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini ditujukan untuk mengenang perjuangan pertahanan di sektor selatan Sungai Brantas yang melibatkan Batalyon Tjipto dan Abdullah.
Memasuki periode 1959-1964, rute gerak jalan kemudian dialihkan menjadi Mojokerto-Surabaya. Perubahan rute ini dilakukan untuk mengenang perjuangan para pejuang di sektor barat Sungai Brantas.
Perjuangan tersebut melibatkan Laskar Hizbullah, Tentara Pelajar, Polisi Istimewa, Batalyon Mansjur, Sholikin dan Munasir, serta Djarot Subiantoro. Nama Djarot Subiantoro kini dikenang melalui Monumen Mayangkara yang berada di Wonokromo, Surabaya.
Gerak Jalan Mojosuro dan Lagu Gombloh
Popularitas Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto-Surabaya ternyata turut menginspirasi musisi asal Jawa Timur, Gombloh. Bersama kelompok musik Lemon Tree Anno, Gombloh menciptakan lagu berjudul "Gaung Mojokerto-Surabaya" pada 1969 yang mengangkat gerak jalan tersebut.
Besarnya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini terlihat pada 1980-an. Arsip koran Berita Yudha tahun 1984 mencatat gerak jalan diikuti 40.716 peserta dari berbagai kalangan dan daerah.
Sepanjang rute sekitar 55 kilometer dari Mojokerto hingga Surabaya, masyarakat juga berjajar untuk menyaksikan dan memeriahkan kegiatan yang digelar setiap tahun tersebut.
Mojosuro dari Masa Ke Masa
Seiring waktu, Gerak Jalan Mojosuro berkembang dari kegiatan napak tilas perjuangan menjadi salah satu agenda besar yang menarik perhatian. Kehadirannya tidak hanya berkaitan dengan olahraga, tetapi juga turut memberikan dampak bagi aktivitas ekonomi dan pariwisata di wilayah Mojokerto dan Surabaya.
Lebih dari sekadar menempuh perjalanan puluhan kilometer, Mojosuro juga membawa nilai perjuangan, kebersamaan, kedisiplinan, serta semangat hidup sehat. Tradisi yang mempertemukan dua kota ini pun terus bertahan dan menjadi bagian dari identitas serta warisan budaya masyarakat Jawa Timur.
Perjalanan Mojosuro bukan sekadar tentang menempuh jarak puluhan kilometer dari Mojokerto menuju Surabaya. Di balik rute tersebut terdapat sejarah panjang, perubahan dari waktu ke waktu, serta semangat untuk mengenang perjuangan yang melatarbelakangi lahirnya tradisi ini.
Hingga kini, Gerak Jalan Mojosuro terus menjadi bagian dari peringatan Hari Pahlawan sekaligus menjadi bentuk napak tilas dan upaya melestarikan salah satu tradisi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Jawa Timur.
(irb/hil)
