Polemik dugaan aliran dana suap dan penyekapan dalam gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) resmi memasuki babak baru. Usai somasinya tak digubris, Wakil Ketua Umum PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) resmi melaporkan tiga tokoh Nahdliyin ke kepolisian, termasuk Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim.
Langkah hukum yang ditempuh Gus Ipul itu ditanggapi santai namun menohok oleh Kiai Asep. Ulama asal Jawa Timur itu menegaskan bahwa laporan polisi tersebut justru akan semakin memperjelas dan membongkar tabir kebenaran terkait dugaan praktik politik uang dalam perhelatan akbar NU tersebut.
"Masalah kecil itu selesai. Pokoknya Gus Ipul itu, seribu kali dia mengelak, atmosfer Indonesia menjadi saksi akan hiruk-pikuknya risywah di muktamar dan terjadinya penyekapan-penyekapan," kata Kiai Asep di Surabaya, Jumat (23/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kiai Asep menilai dugaan risywah (suap) serta aksi penyekapan yang terjadi saat Muktamar NU kini sudah menjadi rahasia umum di tengah masyarakat. Ia mengibaratkan dugaan pelanggaran tersebut bagai bau busuk yang tercium amat menyengat dan sulit untuk ditutupi.
"Siapa terus yang mau menjawab? Ya atmosfer. Atmosfer itu artinya rahasia umum. Harusnya dirahasiakan tapi umum semua sudah mengetahui," jelas Kiai Asep.
"Bukan hanya baunya itu bukan hanya sekadar seperti bau kentut. Kalau kentut itu kan jelas bau dan tidak kelihatan. Tapi ini kan sudah bau busuk dan kelihatan. Mau seribu kali mengelak, seribu kali pula atmosfer berbicara menjawab ada risywah, ada penyekapan," tegasnya.
Selain Kiai Asep, dua nama lain yang turut dilaporkan oleh Gus Ipul ke pihak kepolisian adalah Pengusaha Situbondo sekaligus tokoh muda NU HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy (Gus Lilur), serta Pengasuh Ponpes Madrasatul Qur'an Tebuireng Jombang, KH Musta'in Syafi'i.
Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim. (Foto: Faiq Azmi/detikJatim) |
Sebelum laporan resmi kepolisian ini meluncur, Kiai Asep sejatinya sempat memberi wanti-wanti keras agar Gus Ipul selaku Ketua Panitia Muktamar menunjukkan iktikad baik dengan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada warga Nahdliyin untuk meredakan situasi.
"Ya menurut saya untuk melakukan kekondusifan situasi, Gus Ipul harus minta maaf atas nama ketua panitia. Bahwa muktamar itu telah banyak hiruk-pikuk orang membicarakan banyak risywah (suap) dan penyekapan. Untuk itu minta maaf kepada seluruh keluarga, semoga hal ini tidak akan pernah terulang kembali, gitu kan sudah bagus. Itu ditunggu, diakui," kata Kiai Asep pada Jumat (9/10/2026) lalu.
Kiai Asep menyayangkan jika organisasi sebesar PBNU justru ternoda oleh dugaan praktik yang tidak terpuji. Menurutnya, tindakan *risywah* sama halnya dengan korupsi, sementara penyekapan berlawanan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
"Masa organisasi besar yang selama ini punya integritas dan komitmen terhadap penegakan hukum, terhadap komitmen terhadap Indonesia yang maju, adil, dan makmur kok dikhianati? Kan nggak boleh. Karena risywah itu sama dengan korupsi, penyekapan sama dengan penjajahan," tuntasnya.
Di sisi lain, PBNU membantah keras seluruh tuduhan tersebut. Gus Ipul secara tegas mengklarifikasi bahwa tidak ada sepeser pun dana hasil korupsi yang mengalir ke arena Muktamar ke-35 NU. Tudingan yang dialamatkan kepadanya dinilai sebagai bentuk fitnah yang tidak berdasar.
"Sekali lagi saya ingin memastikan, tidak ada uang hasil korupsi yang mengalir ke Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama. Ini perlu saya ulang-ulang terus agar masyarakat Nahdliyin dan juga pengurus Nahdlatul Ulama mengerti dengan benar bahwa isu-isu yang dikembangkan oleh pihak-pihak itu hanya isapan jempol," kata Gus Ipul dalam keterangan tertulis.
Gus Ipul menepis narasi adanya penggunaan cara-cara kekerasan atau penyekapan selama proses muktamar berlangsung. Langkah hukum terpaksa ditempuh untuk memberikan kepastian hukum atas tuduhan yang dinilai telah menimbulkan kegaduhan publik.
"Itu tuduhan yang tidak disertai dengan bukti. Membual punya konsekuensi hukum. Perlu ditegaskan, proses muktamar berjalan dengan baik. Semua tahu, untuk itu tidak ada cara-cara komunis, tidak ada penyekapan-penyekapan," tegas Gus Ipul.

