Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya menyiapkan generasi santri yang unggul dan berkarakter mulia untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Peringatan Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan.
Khofifah juga menyebut, Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) menjadi salah satu upaya Pemprov Jatim mendukung pendidikan santri. Melalui lembaga tersebut, banyak santri telah difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Mesir, hingga jenjang magister (S2).
Khofifah berharap para santri yang menempuh pendidikan di Mesir tidak hanya memperoleh gelar akademik, tetapi juga memiliki kapasitas keilmuan agama yang kuat ketika kembali ke Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita bersama-sama memiliki Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) yang saat ini sudah mengirim banyak santri ke Al-Azhar Mesir sampai S2. Kita harapkan ketika pulang tak hanya membawa gelar sarjana, tetapi mereka pulang sebagai ulama Al-Azhar," kata Khofifah.
Selain fasilitasi pendidikan melalui LPPD, Khofifah menyebut Pemprov Jatim memiliki regulasi untuk mendukung pengembangan pesantren. Kebijakan tersebut meliputi Peraturan Daerah tentang Penguatan Pesantren serta Peraturan Gubernur tentang Penguatan dan Fasilitasi Pesantren.
"Pemprov Jatim selain memiliki perda penguatan pesantren, Insyaallah sampai hari ini satu-satunya provinsi yang mempunyai peraturan gubernur tentang penguatan dan fasilitasi pesantren," ujarnya.
Khofifah menambahkan, penguatan pendidikan pesantren juga mendapat dukungan melalui hadirnya Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, keberadaan direktorat baru tersebut diharapkan memperkuat kapasitas pesantren sekaligus memperluas jejaringnya.
"Oleh karena itu, penguatan peran pesantren Insyaallah tidak hanya meningkatkan kapasitas dan kualitasnya, tetapi jejaringnya juga," tuturnya.
Dalam peringatan Hari Santri tahun ini, Khofifah juga mengingatkan pentingnya menyiapkan santri yang mampu menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045. Menurutnya, penguasaan ilmu agama harus berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan akhlak mulia.
"Menuju Indonesia Emas 2045, kita ingin menyiapkan generasi santri yang unggul, berdaya saing global, dan berkarakter mulia. Kedalaman ilmu agama harus beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepedulian terhadap sesama," katanya.
Khofifah berharap pesantren dapat melahirkan generasi yang berkontribusi di berbagai sektor, mulai dari pendidikan dan keilmuan hingga kewirausahaan dan kepemimpinan.
"Dari pesantren lahir ulama yang mencerahkan, pendidik yang menginspirasi, ilmuwan yang memiliki inovasi tinggi, wirausahawan yang membuka lapangan kerja, dan pemimpin yang amanah," pungkasnya.
