Satgas MBG Kabupaten Mojokerto menyimpulkan penyebab 45 siswa SMPN 1 Mojoanyar mengalami keracunan karena kelalaian SPPG Jabon Mojoanyar. Salah satunya tenggang waktu pemorsian MBG sampai disantap para siswa yang terlalu lama sehingga memicu pertumbuhan bakteri.
Ketua Satgas MBG Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko menjelaskan, pihaknya telah menyampaikan kesimpulan penyebab keracunan MBG di SMPN 1 Mojoanyar dalam rapat koordinasi siang tadi. Rapat tersebut melibatkan BGN, SPPG Jabon Mojoanyar, kepolisian, kejaksaan dan TNI.
"Kami tidak memberikan rekomendasi. Kami tampilkan tadi beberapa kelalaian dari pihak SPPG. Saya tadi sudah mengancam jangan sampai terulang lagi, baik ke BGN-nya maupun ke kepala SPPG-nya," jelasnya kepada detikJatim, Rabu (21/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Informasi yang dihimpun detikJatim, MBG yang disantap para siswa SMPN 1 Mojoanyar mengandung bakteri. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bakteri salah satunya ditemukan pada nasi. Teguh pun membenarkannya.
"Yang jelas ada bakterinya ya, tapi namanya apa saya kan enggak paham. Datanya tadi kami berikan ke BGN untuk tindak lanjutnya," ujarnya.
Tumbuhnya bakteri pada MBG yang disantap para siswa sampai mengakibatkan keracunan, lanjut Teguh, karena kelalaian dari SPPG Jabon Mojoanyar, Yayasan Kajian Fiqih Aswaja.
"Nasi yang dimasak lebih dari 12 jam baru dimakan, itu kelalaian, tidak mencantumkan expired-nya itu, terus tempat korah-korah (tempat mencuci peralatan) atau apa gitu yang jorok," ungkapnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini Sulistyowati menambahkan, jeda waktu antara pemorsian sampai MBG dimakan para siswa paling lama 4 jam. Dalam kasus ini, MBG dimasak pukul 05.00 WIB, dikirim ke sekolah pukul 11.00 WIB, lalu disantap para siswa pukul 14.00 WIB.
"(MBG matang) Jam 07.00 katanya. Terlalu panjang antara pemorsian sama konsumsinya anak-anak," ungkapnya.
Oleh sebab itu, lanjut Dyan, jam kedaluwarsa MBG harus dicantumkan pada ompreng. Pihak sekolah juga wajib mematuhi jam tersebut ketika membagikan ke para siswa. Sebab jeda waktu yang terlalu lama memicu pertumbuhan bakteri penyebab keracunan.
"Yang kedua, kan (MBG) tidak langsung dibagi ke siswa. Ompreng itu kadang ditaruh di tempat yang sembarangan, itu kepanasan, ditaruh di luar. Dengan kondisi tertutup seperti itu, jam berapa dia masak, baru dimakannya ternyata ada yang jam satu, ada yang setengah dua makannya," tandasnya.
Sebelumnya, dugaan keracunan MBG di SMPN 1 Mojoanyar baru terungkap pada Rabu (7/10) sekitar pukul 09.30 WIB. Sebab banyak siswa yang mengantre di toilet karena diare. Keluhan lainnya berupa sakit perut, pusing, mual dan muntah. Pihak sekolah pun menghubungi Puskesmas Gayaman.
Hingga kini, total 45 siswa SMPN 1 Mojoanyar yang mengalami gejala keracunan. Dari jumlah itu, 18 siswa dilarikan ke fasilitas kesehatan karena sakit perut, pusing, mual, muntah dan diare. Sedangkan 27 siswa ditangani di sekolah pada Rabu (7/10) karena hanya mengeluh pusing, mual dan muntah.
Berdasarkan pengakuan para korban, mereka keracunan MBG yang dibagikan pada Selasa (6/10) sekitar pukul 14.00 WIB. Siang itu, menunya berupa nasi, sate ayam, saus kacang, acar timun dan wortel, serta anggur muscat.
Sate ayam pada MBG tersebut diduga menjadi biang keladinya. Sebab sate ayam itu beraroma tak sedap dan terdapat rasa asam layaknya makanan basi.
MBG yang disantap para siswa dipasok SPPG Jabon Mojoanyar, Yayasan Kajian Fiqih Aswaja, Perumahan Graha Kahuripan, Desa Jabon, Mojoanyar, Mojokerto. Setiap harinya, SPPG ini menyediakan 2.919 porsi MBG untuk 15 sekolah. Salah satunya SMPN 1 Mojoanyar sejumlah 702 porsi untuk siswa, guru dan karyawan sekolah.
Pasca kasus keracunan ini, SPPG Jabon Mojoanyar dijatuhi sanksi suspend sampai dapat memenuhi persyaratan untuk operasional kembali. Selain itu, Yanse Young Pribadi, kepala dapur MBG tersebut juga dicopot.
