Hujan Meteor Orionid 2026: Jadwal Puncak dan Waktu Terbaik Melihatnya

Hujan Meteor Orionid 2026: Jadwal Puncak dan Waktu Terbaik Melihatnya

Fathir Rofi - detikJatim
Senin, 19 Okt 2026 19:45 WIB
First place in the 2021 IAU OAE Astrophotography Contest, category Meteor showers: Geminid Meteor Shower from China, by Dai Jianfeng, China. A meteor shower occurs when the Earth in its orbit around the Sun, passes through a debris trail left previously by a comet on its approach around the Sun. As the Earth enters this debris (small sand grain sized), they enter the atmosphere at high speeds and on parallel trajectories, burning completely leaving beautiful tracks (streaks) in the sky. These streaks can appear and disappear in the blink of an eye, or last much longer. On rare occasions the debris originates from asteroids, as in the case of the Geminid meteor shower, shown in this image, picturing many streaks of debris captured in the sky of China in 2017. Due to relative motions and perspective, the shower appears to come from one single point, known as the radiant point, beautifully pictured in this image. This is similar to driving in a car on a rainy day without any wind, looking out the front window it seems that the rain is coming directly towards the window, when in fact the rain is falling vertically downwards. Link:  See image in Zenodo
Hujan meteor terjadi ketika bumi mengelilingi matahari. Foto: Dai Jianfeng/IAU OAE/Jeff Dai/Wikimedia Commons/CC BY 4.0
Surabaya -

Fenomena hujan meteor kembali menghiasi langit malam sepanjang Oktober 2026. Setelah hujan meteor Draconid mencapai puncaknya pada awal bulan, masyarakat kini berkesempatan menyaksikan hujan meteor Orionid yang berlangsung mulai 2 Oktober-7 November 2026.

Pertunjukan langit tahunan ini dapat diamati dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, hingga kawasan Indonesia Timur, selama kondisi cuaca dan langit mendukung.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebut hujan meteor Orionid sebagai salah satu fenomena langit yang paling menarik untuk diamati berkat kecepatan tinggi dan kecerahan cahaya meteor yang melintas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena astonomi ini diperkirakan mencapai aktivitas maksimum pada 21-22 Oktober 2026. Dalam kondisi ideal, Orionid berpotensi menghasilkan sekitar 10 meteor hingga 20 meteor per jam. Kendati demikian, jumlah bintang yang terlihat bisa lebih sedikit karena cahaya bulan, polusi cahaya di perkotaan, dan kondisi atmosfer.

ADVERTISEMENT

Mengenal Asal-usul Hujan Meteor Orionid

Hujan meteor Orionid terjadi ketika bumi melintasi jalur debu dan serpihan yang ditinggalkan Komet Halley atau 1P/Halley. Saat partikel-partikel tersebut memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi, partikel akan berinteraksi dengan udara dan menghasilkan kilatan cahaya yang melintas di langit malam.

Fenomena ini sering disebut sebagai "bintang jatuh", meskipun cahaya tersebut bukan berasal dari bintang, melainkan partikel kecil yang memasuki atmosfer Bumi. Menurut NASA, meteor Orionid memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik.

Kecepatan tinggi ini membuat meteor menghasilkan jejak cahaya yang dapat terlihat selama beberapa saat di langit. Nama Orionid berasal dari rasi bintang Orion. Meteor-meteor ini tampak seolah-olah berasal dari area langit di sekitar rasi tersebut, meskipun lintasannya dapat terlihat di berbagai arah.

Jadwal Puncak dan Kalender Meteor Oktober 2026

Berdasarkan kalender astronomi American Meteor Society (AMS), hujan meteor Orionid aktif dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni sejak 2 Oktober 2026 hingga 7 November 2026.

Kendati demikian, periode puncaknya berlangsung pada Rabu 21 Oktober 2026 malam hingga Kamis 22 Oktober 2026 dini hari. Sebagai panduan, berikut rangkaian jadwal aktivitas hujan meteor yang berlangsung sepanjang Oktober 2026.

  • Draconid: Puncak pada 8-9 Oktober 2026
  • Epsilon Geminid: Puncak sekitar 18 Oktober 2026
  • Orionid: Puncak pada 21-22 Oktober 2026
  • Southern Taurid: Aktif sepanjang Oktober dengan puncak utama pada awal November 2026

Bagi masyarakat yang melewatkan hujan meteor Draconid, hujan meteor Orionid bisa menjadi kesempatan berikutnya untuk menyaksikan fenomena astronomi tanpa memerlukan peralatan khusus.

Meski sudah aktif sejak awal bulan, peluang terbaik untuk menyaksikan hujan meteor Orionid terjadi saat aktivitasnya mencapai puncak, ketika jumlah meteor yang terlihat diperkirakan lebih banyak.

Waktu Pengamatan Terbaik di Surabaya

Hujan meteor Orionid diperkirakan paling baik diamati setelah tengah malam hingga menjelang fajar, terutama pada Kamis 22 Oktober 2026 dini hari. Waktu pengamatan juga dipengaruhi posisi bulan.

Cahaya Bulan yang terang dapat menyamarkan meteor-meteor redup sehingga jumlah meteor yang terlihat menjadi lebih sedikit. Berdasarkan perhitungan Time and Date, bulan diperkirakan terbenam di Jakarta sekitar pukul 02.16 WIB pada 22 Oktober 2026.

Sementara itu, perhitungan Meteocast menunjukkan bulan di Surabaya diperkirakan terbenam sekitar pukul 02.20 WIB. Dengan mempertimbangkan waktu terbenamnya bulan, pengamatan dapat dilakukan pada rentang waktu berikut.

  • Sekitar pukul 02.30 WIB hingga menjelang fajar.
  • Sekitar pukul 02.30 WITA hingga menjelang fajar.
  • Setelah tengah malam hingga menjelang fajar, dengan menyesuaikan waktu terbenamnya bulan di lokasi masing-masing.

Rentang waktu tersebut merupakan panduan, bukan jaminan meteor akan terlihat terus-menerus. Kondisi cuaca juga berpengaruh terhadap keberhasilan pengamatan. Karena itu, pilih waktu dan lokasi dengan langit yang cerah serta minim tutupan awan.

Tantangan Cahaya Bulan dan Faktor Keamanan

Salah satu tantangan dalam mengamati hujan meteor Orionid pada 2026 adalah cahaya bulan. American Meteor Society memperkirakan bulan berada dalam fase cembung membesar (waxing gibbous) saat puncak aktivitas meteor. Kondisi ini dapat mengurangi visibilitas meteor yang redup.

Meteor yang lebih terang masih berpeluang terlihat ketika kondisi langit cerah. Pengamat dapat menunggu hingga Bulan terbenam agar langit menjadi lebih gelap dan meteor lebih mudah terlihat.

Hujan meteor Orionid aman diamati secara langsung tanpa alat pelindung mata. Partikel penyebab fenomena ini umumnya berukuran kecil dan terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.

Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir akan bahaya hujan batu ketika menyaksikan hujan meteor. Hal ini berbeda dengan pengamatan gerhana Matahari yang membutuhkan pelindung mata khusus.

Tips Mengamati Tanpa Teleskop di Surabaya

Hujan meteor Orionid dapat diamati dengan mata telanjang tanpa teleskop atau teropong. Mata telanjang memungkinkan pengamat melihat area langit yang lebih luas sehingga lebih mudah menangkap meteor yang melintas di berbagai arah.

Agar pengamatan lebih optimal, pilih lokasi yang minim polusi cahaya dan beri waktu sekitar 20-30 menit agar mata terbiasa dengan kondisi gelap. Hindari menatap layar ponsel terlalu lama karena cahaya layar dapat mengganggu adaptasi mata terhadap kegelapan.

Pengamat juga tidak perlu terus-menerus melihat ke arah rasi Orion. Meskipun meteor Orionid tampak berasal dari area rasi tersebut, lintasannya dapat terlihat di berbagai bagian langit.

Bagi warga Surabaya, polusi cahaya perkotaan menjadi salah satu tantangan dalam mengamati fenomena ini. Jika memungkinkan, pilih area pinggiran kota atau ruang terbuka yang aman, jauh dari sumber cahaya terang, serta memiliki pandangan langit yang luas. Pastikan pula kondisi cuaca mendukung sebelum berangkat.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads