Ketika Budaya dan Matematika Jadi Motif Kain Batik Jember

Ketika Budaya dan Matematika Jadi Motif Kain Batik Jember

Yakub Mulyono - detikJatim
Minggu, 18 Okt 2026 21:00 WIB
Batik bermotif rumus matematika yang dibuat oleh Aljabar di Universitas Islam Jember (UIJ)
Batik bertajuk rumus matematika/Foto: Yakub Mulyono
Jember -
Batik bermotif rumus matematika yang dibuat oleh Aljabar di Universitas Islam Jember (UIJ)Batik bermotif rumus matematika yang dibuat oleh Aljabar di Universitas Islam Jember (UIJ) Foto: Yakub Mulyono

Goresan canting di atas kain mori biasanya melukiskan lengkung dedaunan atau motif klasik. Namun di tangan Fury Styo Siskawati, rumus matematika justru disulap menjadi karya seni batik bernilai tinggi.

Dosen pengampu mata kuliah Aljabar di Universitas Islam Jember (UIJ) ini sukses mengawinkan konsep matematika dengan kekayaan alam dan budaya Indonesia melalui jenama Batikmatika. Koleksi terbarunya diberi nama Nusantara Series.

Nusantara Series lahir sebagai pembaruan dari motif kearifan lokal Jember yang sebelumnya diusung Batikmatika. Pemilik Batikmatika UIJ, Fury Styo Siskawati menceritakan, koleksi ini mengolaborasikan konsep matematika dengan rumah adat, hewan khas, hingga tarian daerah dari berbagai wilayah di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita mengkolaborasikan motif matematika dengan rumah adat, hewan khas, kemudian ada tarian adat yang ada di berbagai wilayah di seluruh Indonesia," katanya, Minggu (18/10/2026).


Beberapa motif yang dihasilkan antara lain Geometri Minangkabau, Geometri Sajojo, Vektor Pakarena, Rencong Aljabar, Cenderawasih Bilangan, hingga Ruai Lingkaran.

ADVERTISEMENT

Fury menjelaskan, inspirasi awal perpaduan motif tersebut datang langsung dari gerakan tari, bentuk rumah adat, hingga karakter satwa.

Gerakan Tari Pakarena dari Sulawesi Selatan, misalnya, digambarkan lewat bentuk geometri yang presisi.

"Kita pakai Tari Pakarena, jadi Geometri Pakarena. Dalam gerakan tari itu kita bisa menggambarkan bentuk-bentuk geometri di dalamnya," ujarnya.

Fury menambahkan, Batikmatika tak cuma mengejar estetika visual. Di balik pola-pola geometrisnya, terselip pesan kepedulian lingkungan dan respons sosial yang kuat.

Salah satu motif yang sarat pesan lingkungan adalah Ruai Lingkaran. Fury mengungkapkan, motif ini lahir dari keprihatinan atas terancamnya habitat Burung Ruai akibat insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.

"Kita ikut sedih dengan kebakaran yang ada di Kalimantan. Kita mengangkat tema Ruai dengan mengkolaborasikan burung ruai dan matematika," paparnya.

Pesan empati serupa juga dihadirkan dalam motif Geometri Sajojo. Fury menyebut, motif yang memadukan Tari Sajojo dan konsep vektor ini diangkat untuk merespons dinamika konflik yang terjadi di Papua.

"Di Papua itu juga sedang ada konflik-konflik. Jadi kita juga mengangkat Tari Sajojo. Sajojo itu dikolaborasikan dengan vektor," tambahnya.

Mengenai proses kreatif, Fury mengaku ide gagasan motif murni berasal dari dirinya sendiri. Kendati begitu, proses pembatikan dan pewarnaan kain tetap melibatkan pembatik mitra.

"Kalau masih ide motif itu dari saya sendiri. Tapi untuk realisasi kainnya, membatiknya dan mewarnanya, kita masih tetap bermitra dengan pembatik," ungkapnya.

Untuk produksi skala kecil, pengerjaan dilakukan di laboratorium batik internal UIJ bersama mahasiswa. Sedangkan untuk produksi jumlah besar, Batikmatika menggandeng Kampung Batik Sanggar Werno Werni.

Saat ini kain Nusantara Series mulai dikenalkan secara bertahap lewat pameran di Jember hingga kegiatan sekolah di luar kota. Ke depan, Fury berharap karya tersebut dapat digunakan sebagai seragam resmi seluruh civitas akademika kampus.

"Ke depannya kita pengin seuniversitas pakai Batikmatika. Karena di setiap kegiatan kita selalu tampil. Rasanya sangat disayangkan kalau universitas enggak mau pakai seragam Batikmatika," tandasnya.



(Eka Fitria Lusiana/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads