Zulhas Sebut RI Tak Impor Beras pada 2025, Surplus 4,2 Juta Ton

Zulhas Sebut RI Tak Impor Beras pada 2025, Surplus 4,2 Juta Ton

Aprilia Devi - detikJatim
Minggu, 18 Okt 2026 14:26 WIB
Zulhas beberkan soal nilai tukar petani dan nelayan.
Zulhas beberkan soal nilai tukar petani dan nelayan/Foto: Aprilia Devi/detikJatim
Surabaya -

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) membeberkan sejumlah capaian yang menurutnya merupakan hasil keberpihakan pemerintah kepada rakyat. Salah satunya, Indonesia disebut tidak lagi mengimpor beras pada 2025 dan mencatat surplus beras 4,2 juta ton.

Hal itu disampaikan Zulhas saat membuka Kongres Nasional Majelis Tahkim Pimpinan Pusat Syarikat Islam (SI) ke-42 di Jatim Expo, Surabaya, Minggu (18/10/2026).

"Alhamdulillah, ini satu contoh. Tahun 2025 karena keberpihakan itu kita tidak impor beras lagi. Tahun 2025 kita surplus 4,2 juta," kata Zulhas, Minggu (18/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia membeberkan capaian selanjutnya terkait nilai tukar petani (NTP) yang pada 2024 berada di angka 116 meningkat menjadi 131 pada 2025.

ADVERTISEMENT

Zulhas menilai kenaikan tersebut menunjukkan adanya perbaikan kesejahteraan petani, khususnya petani padi dan jagung. Dia menyebut peningkatan pendapatan dapat membantu petani memenuhi kebutuhan keluarga hingga membiayai pendidikan anak.

"Artinya petani padi, petani jagung berdua yang tidak berhasil. Sudah bisa makan cukup, sudah bisa menyekolahkan anaknya, bahkan dikit-dikit sudah bisa beli motor," bebernya.

Selain sektor pertanian, Zulhas menyoroti kondisi kesejahteraan nelayan. Dia menyebut nilai tukar nelayan saat ini berada di angka 103 dan menilai kondisi tersebut menunjukkan nelayan masih menghadapi tekanan ekonomi.

Menurutnya, pemerintah menargetkan nilai tukar nelayan meningkat menjadi 120 pada tahun ini hingga tahun depan, sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo Subianto.

"103 itu saudara-saudara artinya di sana kalau tidak dibantu beras, tidak diberi bantuan tunai dia tidak bisa makan, dia tidak bisa menyekolahkan anaknya," tutur Zulhas.

Menurutnya, nelayan lokal yang lemah berisiko kalah bersaing dengan nelayan dari negara lain.

"Kalau nelayan kita miskin, nelayan kita lemah. Kalau nelayan kita lemah, laut kita yang luas dikuasai oleh nelayan yang kuat. Siapa nelayan yang kuat? Nelayan yang kuat dari Thailand, dari Vietnam," ungkapnya.

Oleh karena itu, Zulhas menegaskan bahwa keberpihakan terhadap masyarakat menjadi hal yang penting.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads