Bencana banjir merupakan salah satu ancaman hidrometeorologi yang kerap melanda wilayah tropis. Di balik istilah "banjir" yang sering didengar sehari-hari, terdapat perbedaan karakteristik antara banjir genangan biasa dan banjir bandang yang memiliki daya rusak jauh lebih besar.
Memahami perbedaan banjir biasa dan banjir bandang menjadi kunci untuk mengenali potensi ancaman serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana di lingkungan sekitar.
Pengertian Banjir dan Sumber Utamanya
Dilansir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir adalah peristiwa atau keadaan ketika suatu daerah atau daratan terendam akibat meningkatnya volume air. Berdasarkan sumbernya, banjir di wilayah tropis dapat dikelompokkan menjadi empat jenis utama berikut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Banjir yang disebabkan hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air, yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia.
- Banjir yang disebabkan meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai.
- Banjir yang disebabkan kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan, bendung, tanggul, dan bangunan pengendalian banjir.
- Banjir akibat kegagalan bendungan alam atau penyumbatan aliran sungai akibat runtuhnya atau longsornya tebing sungai. Ketika sumbatan atau bendungan tidak dapat menahan tekanan air, bendungan akan hancur dan air sungai yang terbendung mengalir deras sebagai banjir bandang.
Mengenal Perbedaan Banjir Biasa dan Banjir Bandang
Menurut buku "Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia" yang diterbitkan BNPB, perbedaan paling mencolok antara banjir biasa dan banjir bandang terletak pada perilaku serta dinamika alirannya.
Banjir biasa umumnya berupa genangan akibat limpasan air sungai atau sistem drainase yang meluap secara bertahap. Sebaliknya, banjir bandang (flash flood) biasanya terjadi di aliran sungai dengan kemiringan dasar yang curam atau akibat jebolnya bendungan alami yang terbentuk karena sumbatan.
Alirannya sangat deras dan bergerak dengan kecepatan tinggi. Ketinggian airnya dapat mencapai lebih dari 12 meter serta membawa material seperti bongkahan batu dan pepohonan yang dapat menghancurkan apa pun di jalurnya. Banjir bandang juga dapat surut dalam waktu relatif singkat.
Mekanisme Perusakan dan Dampaknya
Baik banjir genangan maupun banjir bandang dapat menimbulkan kerusakan, tetapi dengan intensitas yang berbeda. Arus air yang cepat dan bergolak, meskipun tidak terlalu dalam, mampu menghanyutkan manusia, hewan, serta harta benda.
Air banjir yang membawa material tanah halus juga dapat menyeret material yang lebih berat sehingga daya rusaknya meningkat. Aliran tersebut bisa merusak fondasi bangunan dan jembatan, bahkan merobohkannya.
Setelah air surut, endapan material yang terbawa dapat merusak tanaman dan permukiman. Kondisi pascabanjir juga berpotensi memicu penyebaran penyakit. Sementara itu, aliran banjir bandang yang sangat cepat dan bertenaga besar membuat bencana ini lebih berbahaya.
Banjir bandang dapat menyebabkan korban jiwa dalam waktu singkat karena warga tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri. Kerusakan dan kerugian harta benda yang ditimbulkan juga dapat sangat besar.
Penyebab Utama Terjadinya Banjir
Pada umumnya, banjir dipicu oleh curah hujan tinggi yang membuat sistem pengaliran air, baik sungai, anak sungai, maupun drainase buatan, tidak mampu menampung volume air yang masuk.
Kapasitas sistem pengaliran air dapat berubah akibat sedimentasi, penyempitan sungai karena faktor alam maupun aktivitas manusia, tumpukan sampah, serta berbagai hambatan lainnya.
Penggundulan hutan di daerah tangkapan air (catchment area) juga dapat meningkatkan debit air yang mengalir ke sungai. Ketika volume air melampaui kapasitas sungai, risiko banjir meningkat. Kondisi ini juga dapat memicu erosi di lahan curam yang kemudian memperparah sedimentasi.
Selain itu, berkurangnya daerah resapan air di kawasan permukiman padat membuat lebih banyak air hujan mengalir di permukaan tanah. Limpasan tersebut kemudian menambah beban sistem pengaliran air dan meningkatkan risiko banjir.
Gejala Alam dan Peringatan Dini
Bencana banjir dan banjir bandang dapat diawali dengan sejumlah gejala alam yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan bencana. Mengenali tanda-tanda tersebut sejak dini dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi.
- Curah hujan tinggi dalam waktu lama dapat menjadi peringatan akan potensi banjir, terutama di daerah rawan.
- Pasang laut tinggi yang disertai badai dapat meningkatkan risiko banjir di wilayah pesisir yang dipengaruhi pasang surut.
- Kenaikan muka air hingga mencapai atau melampaui batas tertentu yang ditetapkan sebagai status siaga perlu diwaspadai. Pemantauan dan sistem peringatan dini yang memadai dapat membantu masyarakat melakukan evakuasi tepat waktu.
Cara Pencegahan dan Mitigasi Banjir
Upaya pencegahan dan mitigasi banjir dapat dilakukan melalui penataan lingkungan, pengelolaan aliran air, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko dan dampak banjir.
- Menata daerah aliran sungai dari hulu hingga hilir secara terpadu sesuai dengan fungsi lahan.
- Membangun sistem pemantauan dan peringatan dini di wilayah yang rawan banjir.
- Memasang pompa dan penghalang ombak di daerah yang berada di bawah permukaan laut.
- Menghindari pembangunan rumah terlalu dekat dengan aliran sungai.
- Bekerja sama dengan aparat setempat untuk membersihkan lingkungan, terutama saluran air dan selokan dari sampah.
Banjir dapat terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari curah hujan tinggi hingga berkurangnya kapasitas sungai dan saluran air. Karena itu, kesiapsiagaan dan kewaspadaan perlu ditingkatkan agar masyarakat dapat mengantisipasi risiko bencana serta meminimalkan kerugian yang ditimbulkan.
