Benarkah Harimau Jawa Belum Punah? Ini Jejaknya

Myesha Fatina - detikJatim
Jumat, 16 Okt 2026 14:30 WIB
Foto harimau Jawa diambil pada 1938 di Ujung Kulon dan dipublikasikan di A. Hoogerwerf's "Ujung Kulon: The Land of the last Javan Rhinoceros".Foto: Andries Hoogerwerf (29 August 1906 – 5 February 1977)/Wikimedia Commons
Surabaya -

Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) merupakan satwa endemik Indonesia yang dinyatakan punah pada dekade 1980-an. Penampakan terakhir yang terkonfirmasi tercatat di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, pada 1976.

Salah satu temuan yang kembali menarik perhatian muncul dari Sukabumi Selatan, Jawa Barat. Pada 2019, ditemukan sehelai rambut yang kemudian diteliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hasil analisis genetik yang diumumkan pada 2024 menunjukkan keterkaitan sampel tersebut dengan spesimen Harimau Jawa yang tersimpan di koleksi ilmiah.

Sejarah Kepunahan Harimau Jawa

Harimau Jawa dahulu hidup di berbagai kawasan hutan di Pulau Jawa, mulai dari hutan dataran rendah hingga semak belukar dan perbukitan. Sebagai predator puncak, satwa ini menempati posisi penting dalam ekosistem.

Populasinya menyusut akibat sejumlah faktor, terutama perburuan dan berkurangnya habitat karena alih fungsi lahan menjadi kawasan pertanian serta pemukiman. Harimau juga kerap dibunuh karena dianggap mengancam ternak maupun keselamatan manusia.

Memasuki abad ke-20, keberadaan harimau Jawa semakin sulit ditemukan. Penampakan terakhir yang terkonfirmasi tercatat di Taman Nasional Meru Betiri pada 1976.

Pada dekade 1980-an, spesies ini dinyatakan punah berdasarkan catatan konservasi yang dikaitkan dengan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dari tiga subspesies harimau yang pernah hidup di Indonesia, yakni harimau Jawa, harimau Bali (Panthera tigris balica), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), hanya harimau Sumatera yang masih bertahan di alam liar.

Laporan Penampakan Harimau Jawa Setelah Dinyatakan Punah

Status kepunahan harimau Jawa tidak serta-merta menghentikan laporan penampakan dari masyarakat. Sejak 1990-an, sejumlah warga di kawasan hutan Jawa Tengah dan Jawa Timur mengaku melihat satwa yang menyerupai harimau.

Berbagai ekspedisi kemudian dilakukan untuk menelusuri laporan tersebut. Pada 1997, ekspedisi di Taman Nasional Meru Betiri menghimpun informasi dari masyarakat sekitar hutan, petugas pengawas hutan, anggota TNI, peneliti, hingga pemburu satwa liar.

Penelusuran serupa berlanjut ke sejumlah wilayah lain. Ekspedisi dilakukan di kawasan Gunung Slamet pada 1999, Gunung Ungaran pada 2005, Gunung Raung pada 2012, serta Perbukitan Pembarisan di Jawa Barat pada 2013.

Sejumlah temuan yang dilaporkan meliputi foto, cetakan jejak kaki menggunakan gips, rambut, feses, dan catatan lapangan. Namun, temuan tersebut tidak semuanya dapat dipastikan berasal dari Harimau Jawa.

Pada 2017, foto dari video petugas Taman Nasional Ujung Kulon kembali memunculkan dugaan keberadaan satwa tersebut. Foto itu kemudian diindikasikan memperlihatkan macan tutul berdasarkan ciri fisiknya. Karena itu, foto tersebut tidak dapat dijadikan bukti pasti keberadaan harimau Jawa.

Ekspedisi di Taman Nasional Ujung Kulon

Upaya pencarian juga dilakukan melalui ekspedisi bertajuk "Menjemput Harimau Jawa" di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Kegiatan yang dilaksanakan pada 27 Juni hingga 8 Juli 2018 itu bertujuan menelusuri kemungkinan keberadaan harimau Jawa di kawasan konservasi tersebut.

Ekspedisi ini melibatkan sejumlah organisasi pencinta alam dan komunitas lingkungan. Sebelum penelitian lapangan, peserta mengikuti pembekalan mengenai pengelolaan kawasan konservasi, pengenalan satwa karnivora, pengamatan sosial, fotografi alam, jurnalistik lingkungan, dan manajemen ekspedisi.

Salah satu informasi yang menjadi perhatian adalah temuan jejak kaki berukuran sekitar 14x16 sentimeter. Selain itu, terdapat laporan yang mengaku pernah bertemu dengan Harimau Jawa di kawasan tersebut.

Temuan Rambut di Sukabumi Selatan pada 2019

Perhatian terhadap kemungkinan keberadaan harimau Jawa kembali meningkat setelah ditemukannya sehelai rambut di pagar pembatas antara kebun rakyat dan jalan desa Cipeundeuy, Sukabumi Selatan, Jawa Barat.

Menurut informasi BRIN yang disampaikan pada Maret 2024, rambut tersebut ditemukan oleh Kalih Reksasewu setelah adanya laporan Ripi Yanuar Fajar, warga setempat yang mengaku berpapasan dengan hewan mirip harimau Jawa pada malam 19 Agustus 2019.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Wirdateti bersama tim melakukan analisis untuk mengidentifikasi asal sampel tersebut. Penelitian dilakukan dengan membandingkan sampel rambut dari Sukabumi dengan spesimen harimau Jawa koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dari 1930.

Tim juga membandingkannya dengan sampel beberapa subspesies harimau lain, yaitu harimau Sumatera, harimau Bengal, dan harimau Amur, serta macan tutul Jawa sebagai pembanding.

Analisis dilakukan menggunakan DNA, termasuk pemeriksaan sekuens gen mitokondria sitokrom b. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan data genetik yang tersedia untuk membantu mengidentifikasi asal sampel.

Berdasarkan penjelasan Wirdateti, analisis pohon filogenetik menempatkan sampel rambut Sukabumi dan spesimen harimau Jawa koleksi MZB dalam kelompok yang sama, terpisah dari kelompok subspesies harimau lainnya.

Di lokasi penemuan rambut tersebut, tim juga memperoleh informasi mengenai bekas cakaran yang diduga menyerupai cakaran harimau. Peneliti turut melakukan wawancara mendalam dengan saksi yang melaporkan penampakan, dalam rangkaian survei pada 15-19 Juni 2022.



Simak Video "Video: Dukung Pembangunan Berbasis Data, Lampung Luncurkan Satelit ke Luar Angkasa"

(irb/abq)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork