Sumur panas bumi KMJ-3 di kawasan Kamojang menjadi salah satu saksi panjang perjalanan energi panas bumi di Indonesia. Dibor pada 1926, sumur dengan kedalaman sekitar 60 meter itu hingga kini masih mengeluarkan uap panas bumi.
Keberadaan sumur tersebut menandai satu abad perjalanan pengembangan energi panas bumi di Tanah Air. Pengeboran yang awalnya dilakukan untuk mengeksplorasi potensi panas bumi pada masa Hindia Belanda itu menjadi bagian dari sejarah pemanfaatan energi dari dalam bumi.
"Perjalanan panas bumi Kamojang dimulai tepat 100 tahun lalu. Di tahun 1926 Pemerintah Hindia Belanda melakukan pengeboran eksplorasi di kawasan ini. Salah satunya adalah sumur KMJ-3 yang dibor hanya sekitar 60 meter. Menariknya, hingga hari ini masih mengeluarkan uap panas bumi," ujar Staf Khusus Wakil Presiden Tina Talisa melalui akun Instagram pribadinya, @tina_talisa, Kamis (15/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sumur KMJ-3 merupakan sumur panas bumi pertama di Indonesia yang dibor pada 1926. Sumur tersebut dikenal pula sebagai Kawah Kereta Api karena uap yang keluar menyerupai semburan lokomotif. Hingga kini, sumur itu masih menjadi bagian dari objek wisata Kawah Kamojang di Kabupaten Garut, Jawa Barat. (ESDM)
Dari Sumur Eksplorasi hingga Pembangkit Listrik
Perjalanan panas bumi Kamojang tidak berhenti pada pengeboran eksplorasi. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat produksi listrik berbasis panas bumi di Indonesia.
Kamojang mulai menghasilkan listrik sebesar 0,25 megawatt (MW) pada 1978. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1983, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang Unit 1 berkapasitas 30 MW mulai beroperasi secara komersial.
Saat ini, kawasan PLTP Kamojang memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang mencapai 235 MW. Sepanjang 2025, produksi listrik dari area tersebut mencapai 1.806,41 gigawatt jam (GWh), menjadi produksi tertinggi di antara wilayah kerja panas bumi yang dikelola Pertamina Geothermal Energy (PGE). (PGE)
Pengembangan panas bumi memanfaatkan panas alami dari dalam bumi untuk menghasilkan energi. Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, yang ditandai aktivitas vulkanik dan tektonik.
Panas dari magma memanaskan batuan dan fluida di bawah permukaan bumi. Dalam kondisi tertentu, fluida tersebut membentuk reservoir panas bumi yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.
Manager Laboratory Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Teza Permana, menjelaskan bahwa pengeboran panas bumi dilakukan untuk menjangkau reservoir yang berada di dalam kerak bumi.
Menurut Teza, kedalaman pengeboran panas bumi dapat mencapai sekitar 2.000 meter atau dua kilometer di bawah permukaan. Kedalaman tersebut masih berada di lapisan kerak bumi, bukan inti bumi.
"Itulah yang menjadi target pengeboran kita di reservoir panas bumi. Sebetulnya yang kita bicarakan adalah bagian kulit luarnya saja," ujar Teza.
Ia menjelaskan, fluida dalam reservoir panas bumi berbeda dengan air tanah yang umumnya digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Air rumah tangga biasanya berasal dari akuifer dangkal, sedangkan fluida panas bumi berada dalam sistem reservoir yang lebih dalam dengan karakteristik suhu dan tekanan berbeda.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan panas bumi. Namun, perlindungan sumber air tetap membutuhkan pengelolaan sumur dan pemantauan lingkungan secara berkala.
Dalam operasional PLTP, fluida panas bumi dari sumur produksi dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Uap yang diperoleh dari reservoir digunakan untuk menggerakkan turbin, sedangkan fluida hasil proses produksi dikembalikan ke bawah permukaan melalui sumur injeksi.
"Yang kita manfaatkan itu adalah steam-nya. Steam-nya itu akan kita gunakan untuk memutar turbin. Turbin berputar akan menghasilkan listrik yang kita distribusikan kepada masyarakat," jelas Teza.
Sumur produksi dan sumur injeksi ditempatkan pada titik berbeda untuk membantu menjaga kondisi reservoir. Pengaturan ini penting karena fluida yang dikembalikan melalui sumur injeksi memiliki suhu yang dapat lebih rendah dibandingkan fluida dari sumur produksi.
"Karena temperatur di sumur injeksi itu sedikit lebih rendah dibandingkan sumur produksi," katanya.
Perbedaan suhu tersebut perlu diperhitungkan agar fluida yang lebih dingin tidak mencapai sumur produksi terlalu cepat dan memengaruhi kandungan energi fluida panas bumi. Salah satu parameter yang diperhatikan dalam proses tersebut adalah entalpi, yakni besaran termodinamika yang menggambarkan kandungan energi suatu fluida.
Sistem reinjeksi menjadi bagian penting dalam pengelolaan reservoir panas bumi. Meski demikian, mekanisme tersebut tidak serta-merta menghilangkan seluruh risiko terhadap lingkungan. Pengawasan integritas sumur, pengelolaan fluida, dan pemantauan kondisi air di sekitar wilayah operasi tetap diperlukan.
Jawa Timur juga Punya PLTP
Jawa Timur ternyata juga punya PLTP. Provinsi ini mulai memasuki babak baru pemanfaatan energi panas bumi untuk pembangkit listrik melalui PLTP Blawan Ijen di Kabupaten Bondowoso.
PLTP Ijen resmi memasuki tahap operasi komersial atau commercial operation date (COD) pada Februari 2025. Pembangkit yang dikembangkan PT Medco Cahaya Geothermal itu memiliki kapasitas awal sekitar 35 MW, dari total kapasitas yang direncanakan mencapai 110 MW. PLTP Ijen menjadi pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama yang beroperasi di Jawa Timur.
Kehadiran PLTP Ijen memperlihatkan bahwa pemanfaatan energi panas bumi tidak hanya berkembang di Jawa Barat. Jawa Timur juga memiliki peluang untuk mengembangkan sumber energi tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat pasokan listrik dan mendorong transisi energi.
PLTP Ijen menggunakan teknologi binary dua fase dengan sistem reinjeksi. Dalam sistem ini, fluida panas bumi dimanfaatkan untuk memindahkan energi panas ke fluida kerja yang kemudian menggerakkan turbin. Fluida panas bumi selanjutnya dikembalikan ke dalam reservoir melalui sistem injeksi.
Kapasitas awal sekitar 35 MW tersebut diproyeksikan mampu memasok listrik bagi sekitar 85.000 rumah tangga. Pengembangan lanjutan menuju kapasitas total 110 MW masih menjadi bagian dari rencana proyek.
Di tingkat nasional, potensi panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 23,2 gigawatt (GW). Namun, kapasitas yang telah dimanfaatkan masih jauh di bawah potensi tersebut. Data yang disampaikan dalam kunjungan ke Kamojang menyebut kapasitas terpasang panas bumi nasional mencapai sekitar 2,78 GW.
Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya peluang pengembangan panas bumi, termasuk di Jawa Timur. Pengembangan tersebut perlu diimbangi kajian teknis, pengelolaan reservoir yang berkelanjutan, perlindungan lingkungan, serta perhatian terhadap kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
