Jenis-jenis Hujan Berdasarkan Cara Terbentuknya, Orografis hingga Frontal

Jenis-jenis Hujan Berdasarkan Cara Terbentuknya, Orografis hingga Frontal

Myesha Fatina - detikJatim
Rabu, 14 Okt 2026 23:00 WIB
Ilustrasi hujan.
Ilustrasi hujan. Foto: Unsplash/AA
Surabaya -

Hujan merupakan fenomena alam yang terjadi ketika titik-titik air di atmosfer mengalami proses pembentukan hingga jatuh ke permukaan bumi. Berdasarkan proses terjadinya, hujan memiliki beberapa jenis dengan karakteristik yang berbeda.

Setiap jenis hujan memiliki proses pembentukan dan karakteristik yang berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruhi pemanasan permukaan bumi, kondisi geografis, serta pertemuan massa udara dengan suhu dan kepadatan yang berbeda.

Jenis-jenis Hujan

Berdasarkan proses terbentuknya, hujan dapat dibedakan menjadi hujan konveksi, orografis, frontal, dan siklonal. Berikut penjelasan mengenai proses terjadinya masing-masing jenis hujan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Hujan Konveksi

Dilansir BMKG, hujan konveksi atau konvektif terjadi ketika permukaan bumi menerima panas matahari yang cukup kuat. Panas tersebut meningkatkan suhu udara di dekat permukaan sehingga udara menjadi lebih ringan dan bergerak naik ke atmosfer.

ADVERTISEMENT

Ketika naik, udara mengalami pendinginan. Uap air di dalamnya kemudian mengalami kondensasi atau pengembunan hingga membentuk awan. Jika titik-titik air bertambah dan membesar air akan jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan. Hujan konveksi umumnya memiliki intensitas tinggi, tetapi berlangsung relatif singkat.

Jenis hujan ini sering disertai petir dan guntur serta dapat terjadi pada siang hingga sore hari, terutama setelah suhu permukaan mencapai puncaknya. Hujan konveksi banyak dijumpai di wilayah tropis, termasuk daerah yang mengalami pemanasan permukaan cukup kuat.

2. Hujan Orografis

Hujan orografis atau hujan relief terjadi ketika massa udara lembap yang bergerak dari suatu wilayah bertemu dengan penghalang geografis, seperti pegunungan atau dataran tinggi.

Penghalang tersebut memaksa udara bergerak naik mengikuti lereng. Saat naik, udara mengembang dan mengalami penurunan suhu. Uap air di dalamnya kemudian mengembun, membentuk awan, dan menghasilkan hujan.

Hujan orografis memiliki karakteristik berupa perbedaan curah hujan antara dua sisi pegunungan. Sisi yang berhadapan langsung dengan arah datangnya angin disebut windward atau sisi hadap angin.

Wilayah ini cenderung menerima lebih banyak hujan karena udara lembap naik dan melepaskan kandungan airnya. Sebaliknya, sisi belakang pegunungan disebut leeward atau sisi bayangan hujan.

Setelah melewati puncak, udara yang telah kehilangan sebagian besar kelembapannya bergerak turun dan menghangat. Akibatnya, wilayah tersebut cenderung lebih kering. Daerah yang berada di sisi belakang pegunungan ini dikenal sebagai wilayah bayangan hujan (rain shadow).

3. Hujan Frontal

Hujan frontal terjadi ketika dua massa udara dengan suhu dan kepadatan berbeda bertemu. Salah satu massa udara akan terdorong naik melewati massa udara lainnya sehingga memicu proses pendinginan dan kondensasi.

Dalam banyak kasus, udara hangat yang lebih ringan bergerak naik di atas udara dingin yang lebih padat. Ketika udara hangat naik, suhunya menurun dan uap air di dalamnya mengalami kondensasi hingga membentuk awan yang menghasilkan hujan.

Pertemuan kedua massa udara tersebut membentuk batas yang disebut front. Berdasarkan karakteristiknya, terdapat front hangat, front dingin, front stasioner, dan front oklusi.

Hujan frontal dapat berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari, bergantung pada kondisi dan pergerakan massa udara yang terlibat. Berbeda dengan hujan konveksi yang cenderung singkat dan intens, hujan frontal dapat menghasilkan hujan yang berlangsung lebih lama.

4. Hujan Siklonal

Hujan siklonal terjadi akibat sistem tekanan udara rendah yang menyebabkan angin bergerak dan massa udara berkumpul menuju suatu wilayah. Pertemuan massa udara tersebut mendorong udara naik ke atmosfer.

Ketika udara naik, suhunya menurun sehingga uap air mengalami kondensasi dan membentuk awan. Proses ini kemudian dapat menghasilkan hujan.

Hujan siklonal sering dikaitkan dengan badai tropis atau siklon tropis. Intensitas dan durasinya bergantung pada kekuatan sistem cuaca, ketersediaan uap air, serta kondisi atmosfer di sekitarnya.

Hujan frontal dan hujan siklonal sama-sama melibatkan pergerakan massa udara tetapi keduanya tidak sepenuhnya sama. Hujan frontal menekankan pertemuan massa udara dengan karakteristik berbeda, sedangkan hujan siklonal berkaitan dengan sistem tekanan rendah dan konvergensi angin.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads