Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kepungan kabut asap tak hanya menyisakan kerusakan lingkungan, tetapi juga memantik kritik melalui karya seni. Salah satunya lewat karya Ichalago Chaniago, seniman asal Jambi, yang memotret perempuan berbusana adat dan mengenakan masker di tengah hutan yang hangus terbakar.
Pakar kajian budaya dan media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiyawan menilai, seni dapat menjadi sarana kritik untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan.
"Seni tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga alat kritik untuk menggugah kesadaran publik terhadap persoalan sosial dan lingkungan," kata Radius, Rabu (14/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) UMSURA itu menjelaskan, seni memiliki kemampuan untuk mempertanyakan keadaan yang telanjur dianggap biasa oleh masyarakat. Dalam konteks kerusakan lingkungan, karya seni dapat mengingatkan publik bahwa bencana yang berulang kali terjadi tidak seharusnya diterima sebagai sesuatu yang wajar.
"Dalam perspektif Cultural Studies atau kajian budaya, kebudayaan bukan sekadar tradisi yang dirayakan, melainkan juga ruang tempat berbagai makna dan pandangan saling dipertarungkan. Melalui simbol, gambar, dan pertunjukan, seni dapat mengkritik pandangan dominan sekaligus menghadirkan perspektif lain," jelasnya.
Radius mencontohkan penggunaan busana adat dalam foto karya Ichalago. Busana tersebut dapat dimaknai sebagai simbol identitas budaya masyarakat setempat. Sementara itu, masker yang dikenakan para perempuan dan latar hutan yang terbakar menggambarkan ancaman kerusakan lingkungan terhadap kehidupan masyarakat.
"Melalui simbol-simbol visual, seni dapat menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan hutan yang terbakar, tetapi juga menyangkut identitas, kesehatan, dan ruang hidup masyarakat," ujarnya.
Radius mengatakan, kekuatan seni tidak berhenti pada kemampuannya menggambarkan kenyataan. Seni juga dapat memengaruhi cara masyarakat memahami dan merespons persoalan di sekitarnya.
Salah satu persoalan dalam krisis lingkungan, lanjutnya, adalah kecenderungan masyarakat menormalisasi kerusakan yang terjadi berulang kali. Kebakaran hutan, misalnya, berisiko dianggap sebagai rutinitas tahunan. Begitu pula kabut asap yang mengganggu aktivitas warga, yang perlahan dapat dipandang sebagai bagian biasa dari kehidupan sehari-hari.
"Padahal, karhutla tidak hanya berkaitan dengan peristiwa kebakaran, tetapi juga perlu dilihat dalam konteks persoalan ekologis dan tata kelola lingkungan. Karena itu, masyarakat perlu terus diajak melihat dampak kerusakan lingkungan secara kritis, termasuk mempertanyakan tanggung jawab dan upaya pencegahannya," katanya.
Dalam situasi tersebut, seni dapat menjadi medium untuk mengusik kenyamanan publik terhadap keadaan yang bermasalah. Karya visual yang menghadirkan kontras antara identitas budaya dan hutan yang terbakar, misalnya, dapat mengajak masyarakat melihat kembali persoalan yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
"Bahaya terbesar bukan hanya ketika hutan terbakar, tetapi ketika kita mulai menganggapnya biasa. Seni dapat menginterupsi kewajaran itu dan mengingatkan publik bahwa ada persoalan yang harus diselesaikan," tegasnya.
Ia menilai, kritik melalui seni penting untuk menjaga kepekaan masyarakat terhadap persoalan lingkungan. Ketika kerusakan terus berulang dan dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, seni dapat membuka ruang refleksi mengenai tanggung jawab bersama, kebijakan lingkungan, dan keberlanjutan ruang hidup.
"Seni tidak hanya menawarkan pengalaman estetis, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mempertanyakan keadaan yang dianggap wajar. Dalam konteks krisis lingkungan, karya seni dapat menjadi pengingat bahwa sesuatu yang sering terjadi tidak berarti harus diterima begitu saja. Dalam konteks krisis lingkungan, seni dapat menjadi pengingat bahwa sesuatu yang sering terjadi bukan berarti sesuatu yang seharusnya diterima," pungkasnya.
