Temuan Harta Karun di Jawa Timur dari Emas Kuno hingga Ribuan Koin

Temuan Harta Karun di Jawa Timur dari Emas Kuno hingga Ribuan Koin

Fathir Rofi - detikJatim
Rabu, 14 Okt 2026 13:00 WIB
Situs Pandegong di Jombang
Situs Pandegong di Jombang. Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim
Surabaya -

Jawa Timur menyimpan banyak peninggalan sejarah dari masa kerajaan-kerajaan kuno. Sebagian di antaranya ditemukan secara tidak sengaja saat warga melakukan aktivitas sehari-hari, mulai dari wadah logam berisi perhiasan emas dan perak hingga ribuan keping uang kuno.

Temuan tersebut berasal dari berbagai masa, termasuk era Kerajaan Medang dan Majapahit. Selain menunjukkan kekayaan peninggalan masa lampau, sejumlah artefak juga memberikan petunjuk tentang perkembangan seni, budaya, dan perdagangan di Nusantara. Berikut deretan penemuan harta karun di Jawa Timur.

Harta Karun Desa Muteran di Mojokerto

Penemuan benda bersejarah sering kali berawal dari aktivitas sehari-hari warga. Pada 1881, sejumlah petani menemukan wadah logam berukuran besar saat menggarap lahan pertanian di Desa Muteran, Keresidenan Surabaya. Wilayah tersebut kini masuk Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wadah itu berisi berbagai benda berharga yang terbuat dari emas dan perak. Berdasarkan lokasi penemuannya, situs ini dikaitkan dengan masa Kerajaan Medang hingga Majapahit, yakni sekitar abad ke-10 hingga ke-14 Masehi. Temuan ini juga kerap dibandingkan dengan temuan Wonoboyo.

Sebagian koleksi dari Muteran kini disimpan di Museum Nasional Indonesia Jakarta, sedangkan sebagian lainnya berada di Museum Volkenkunde di Belanda. Koleksi penting yang tersimpan di Museum Nasional, antara lain Arca Kuwera, yang digambarkan duduk di atas bantalan teratai ganda sambil memegang kantong uang, serta Arca Yaksi dalam posisi padmasana.

ADVERTISEMENT

Selain itu, ditemukan pula Arca Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan dharmacakramudra. Koleksi lainnya meliputi kalung dengan bandul berbentuk daun palem dan jambu mete, kelat bahu dengan teknik hias repousse, serta ikat pinggang bermotif lidah api dan untaian ratna.

Situs Pandegong di Jombang

Peninggalan masa lampau juga ditemukan di Situs Pandegong, Dusun Kwasen, Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Berdasarkan hasil ekskavasi tahap keempat yang dilakukan Tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur pada 2023, situs ini menyingkap struktur bangunan bata merah kuno berdenah cruciform lengkap dengan tiga candi perwara di sebelah barat candi utama.

Selain struktur bangunan, para arkeolog menemukan sejumlah artefak lepas yang menambah informasi tentang sejarah situs tersebut. Situs Pandegong sendiri telah menjalani proses ekskavasi sejak 2021.

Situs Pandegong JombangSitus Pandegong Jombang (Foto: Enggran Eko Budianto/ detikjatim)

Artefak yang ditemukan meliputi pecahan arca berbahan batu andesit, koin kuno dari Dinasti Tang, pecahan keramik dari Dinasti Song, serta bandul jala berbahan terakota berbentuk bola kecil.

Koin dan keramik dari dinasti China tersebut menjadi petunjuk adanya hubungan dengan wilayah lain pada masa lampau. Temuan ini juga membuka kemungkinan adanya aktivitas perdagangan dan pertukaran budaya di kawasan Jombang.

Ribuan Keping Uang Kuno Beraksara Tiongkok di Ngawi

Pada 2009, seorang warga Desa Kersoharjo, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, bernama Suhud Jainudin menemukan ribuan keping uang kuno. Koin tersebut memiliki lubang di bagian tengah dan tulisan beraksara Tiongkok di keempat sisinya.

Dikutip dari Antara, ribuan koin tersebut ditemukan di dalam sebuah guci tanah liat. Temuan ini menambah daftar benda kuno yang ditemukan warga di Jawa Timur.

Meski demikian, Museum Trinil Ngawi mengingatkan benda yang diduga sebagai cagar budaya perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian diperlukan untuk memastikan keaslian, usia, dan nilai sejarahnya sebelum kesimpulan dapat ditarik.

Ratusan Lempengan Emas Era Medang dan Majapahit

Selain bangunan candi dan arca, peninggalan kerajaan-kerajaan kuno di Jawa Timur juga berupa benda berbahan emas. BPK Wilayah XI Jawa Timur pada 2022 mencatat 254 lempengan dan benda emas peninggalan era Kerajaan Medang dan Majapahit yang diselamatkan dari berbagai penemuan pada periode 1977-2008.

Kerajaan Medang hingga Majapahit juga meninggalkan harta karun berupa emasKerajaan Medang hingga Majapahit juga meninggalkan harta karun berupa emas (Foto: Enggran Eko Budianto/ detikjatim)

Dari koleksi tersebut, sebanyak 216 artefak dengan 59 variasi bentuk tersimpan di brankas khusus. Bentuknya beragam, mulai dari cincin, giwang, uncal, lempengan tipis berbentuk naga, miniatur kura-kura, gajah dan kerbau, hingga prasasti mini dan topeng emas.

Ada pula lempengan emas dengan ukiran dewa, seperti Ganesha dan Dewa Siwa. Benda-benda tersebut ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain Mojokerto, Pasuruan, dan Trenggalek.

Beragam bentuk dan hiasan pada artefak tersebut menunjukkan keterampilan pengrajin emas pada masa kerajaan kuno. Temuan ini sekaligus menjadi bagian penting dalam upaya mempelajari seni dan kebudayaan masyarakat pada masa itu.

Koin dan Guci Kuno dari Dinasti China di Pasuruan

Penemuan benda kuno juga terjadi di Kabupaten Pasuruan. Pada Januari 2025, seorang petani bernama Kariyo menemukan sebuah guci berisi ribuan keping koin kuno saat mengolah lahan Perhutani di Desa Andonosari, Kecamatan Tutur. Berat keseluruhan koin tersebut dilaporkan mencapai satu kuintal.

Koin-koin itu terbuat dari tembaga, memiliki lubang persegi di bagian tengah, dan memuat aksara Tiongkok. Temuan tersebut diduga berkaitan dengan masa dinasti-dinasti China. Selain guci dan koin, ditemukan pula benda lain berupa lonceng kecil dan cermin kuno.

Tim gabungan dari BPK Wilayah XI Jawa Timur dan dinas terkait kemudian melakukan survei untuk meneliti temuan tersebut. Namun, hingga kini belum ada keterangan lebih lanjut mengenai hasil penelitian maupun kepastian usia dan nilai sejarah benda-benda tersebut.

Berbagai penemuan itu menunjukkan bahwa Jawa Timur menyimpan banyak peninggalan sejarah dari masa kerajaan kuno. Sebagian artefak telah menjadi koleksi museum, sementara temuan lainnya masih memerlukan penelitian untuk mengungkap asal-usul dan konteks sejarahnya.



(ihc/irb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads