- Daftar Gubernur Jawa Timur dari Masa ke Masa 1. Raden Mas Tumenggung Aryo Soerjo (1945-1947) 2. Dr Moerdjani (1947-1949) 3. R Samadikoen (1949-1958) 4. RTA Milono (1958-1959) 5. R Soewondo Ranoewidjojo (1959-1963) 6. Moch Wijono (1963-1967) 7. Raden Panji H Mohammad Noer (1967-1976) 8. Soenandar Prijosoedarmo (1976-1983) 9. Wahono (1983-1988) 10. Soelarso (1988-1993) 11. Moch Basofi Soedirman (1993-1998) 12. H Imam Utomo (1998-2008) 13. H Setia Purwaka (2008-2009) 14. Dr H Soekarwo (2009-2019) 15. Khofifah Indar Parawansa (2019-2029)
Jawa Timur memiliki perjalanan panjang kepemimpinan sejak awal kemerdekaan Indonesia. Sejumlah tokoh pernah menduduki kursi gubernur, mulai dari Raden Mas Tumenggung Aryo Soerjo pada 1945 hingga Khofifah Indar Parawansa yang kembali terpilih bersama Emil Elestianto Dardak dalam Pilgub Jatim 2024.
Berdasarkan buku Profil Gubernur Jawa Timur 1945-2019, pergantian kepemimpinan di provinsi ini berlangsung melalui berbagai periode, mulai dari masa awal kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga era reformasi.
Daftar Gubernur Jawa Timur dari Masa ke Masa
Setiap gubernur memiliki masa jabatan dan peran dalam memimpin serta mengembangkan provinsi tersebut. Berikut daftar Gubernur Jawa Timur dari masa ke masa berdasarkan periode jabatannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Raden Mas Tumenggung Aryo Soerjo (1945-1947)
Raden Mas Tumenggung Aryo Soerjo atau yang dikenal dengan Gubernur Soerjo merupakan gubernur pertama Jawa Timur. Ia memimpin pada 1945-1947, saat Indonesia baru memproklamasikan kemerdekaan.
Nama Soerjo juga berkaitan erat dengan sejarah perjuangan di Jawa Timur. Soerjo tercatat sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam peristiwa pertempuran Surabaya pada 1945.
Perjalanan hidupnya berakhir pada 1948. Soerjo dibunuh di wilayah Ngawi dalam rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan pemberontakan PKI di Madiun. Pemerintah kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1964.
2. Dr Moerdjani (1947-1949)
Moerdjani menjabat sebagai gubernur Jawa Timur pada 1947-1949. Pada masa itu, muncul persoalan pembentukan Negara Madura yang menjadi bagian dari dinamika politik di wilayah Jawa Timur. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan upaya Indonesia mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.
3. R Samadikoen (1949-1958)
Raden Samadikoen menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur pada 1949-1958, dalam periode konsolidasi pemerintahan setelah revolusi kemerdekaan. Pada masa kepemimpinannya, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Timur.
Samadikoen juga terlibat dalam sejumlah kegiatan penting, antara lain menyaksikan proses penyerahan penyelenggaraan pemerintahan dan keamanan dari pihak militer kepada sipil di Surabaya pada September 1950.
Ia juga mendampingi Presiden Soekarno saat peletakan batu pertama Tugu Pahlawan Surabaya pada 10 November 1951, serta menghadiri berbagai kegiatan pembangunan dan peresmian fasilitas di sejumlah daerah di Jawa Timur.
Selain itu, ia mendampingi Menteri Agama KH Wahid Hasyim dalam peresmian Pondok Modern Gontor di Ponorogo pada Oktober 1951. Samadikoen juga tercatat mengunjungi sentra batik Jetis di Sidoarjo, meninjau peternakan di Nganjuk, serta menghadiri peresmian pabrik paku di Waru Sidoarjo pada 1957.
4. RTA Milono (1958-1959)
RTA Milono menjabat Gubernur Jawa Timur pada 1958-1959. Selama masa kepemimpinannya, Milono menjalankan tugas pemerintahan provinsi dari Surabaya. Ia tercatat berkegiatan di kantor gubernur di Surabaya pada Agustus 1958, dan menghadiri peresmian PT Iglas di Surabaya pada 1 Agustus 1959.
5. R Soewondo Ranoewidjojo (1959-1963)
Soewondo Ranoewidjojo memimpin Jawa Timur pada periode 1959-1963. Salah satu kegiatan yang tercatat selama masa kepemimpinannya adalah peninjauan proyek pembangunan Bendungan Neyama di Tulungagung pada April 1959. Soewondo juga meninjau pameran Hari Koperasi di Balai Pemuda Surabaya pada Juli 1960.
Ia juga pernah menerima kedatangan Presiden Soekarno dan pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev di Surabaya pada Januari 1962. Pada bulan yang sama, ia juga menerima kunjungan kosmonaut Rusia Gherman Titov di Gedung Negara Grahadi.
6. Moch Wijono (1963-1967)
Moch Wijono menjadi gubernur keenam Jawa Timur dengan masa jabatan 1963-1967. Wijono semula adalah perwira Angkatan Darat, dan pernah menjabat sebagai ketua DPRD tingkat 1 Jawa Timur.
Serah terima jabatan sebagai gubernur dilakukan pada 31 Januari 1963 di Surabaya. Ia pernah memimpin kegiatan apel besar sukarelawan di depan kantor gubernur pada 13 November 1964.
7. Raden Panji H Mohammad Noer (1967-1976)
Mohammad Noer memimpin Jawa Timur selama periode 1967-1976. Ia menjadi salah satu tokoh yang tercatat dalam sejarah pemerintahan provinsi ini pada masa Orde Baru. Salah satu peristiwa besar selama kepemimpinannya adalah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) VII di Surabaya pada 1969.
Selain bidang olahraga, Mohammad Noer juga tercatat mengunjungi proyek Terowongan Neyama di Tulungagung. Proyek tersebut menjadi bagian dari upaya pembangunan infrastruktur di Jawa Timur.
Pada 1974, ia menerima penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha di Surabaya. Pada tahun yang sama, ia juga menerima penghargaan Bintang Mahaputra.
8. Soenandar Prijosoedarmo (1976-1983)
Soenandar Prijosoedarmo menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur pada 1976-1983. Salah satu peristiwa penting yang terdokumentasi adalah peresmian Proyek Karangkates di Malang oleh Presiden Soeharto pada 21 Mei 1981. Soenandar turut mendampingi presiden dalam kegiatan tersebut.
Pada masa kepemimpinannya, ia juga tercatat melepas keberangkatan transmigran dari Jawa Timur menuju Jambi pada 1980. Selain itu, Soenandar menerima penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha dari Presiden Soeharto.
9. Wahono (1983-1988)
Wahono memimpin Jawa Timur pada 1983-1988. Salah satu peristiwa yang tercatat selama masa jabatannya adalah peluncuran kapal pertama buatan PT PAL Surabaya pada 16 Januari 1985. Momen tersebut menjadi bagian dari perkembangan industri perkapalan di Jawa Timur.
Pada tanggal yang sama, Wahono juga meresmikan proyek irigasi di Kabupaten Blitar. Di bidang penghargaan, Wahono menerima Parasamya Purnakarya Nugraha dari Presiden Soeharto pada 1984.
10. Soelarso (1988-1993)
Soelarso menjabat Gubernur Jawa Timur pada 1988-1993. Soelarso tercatat melakukan panen raya jagung bersama karang taruna di Kabupaten Kediri pada Februari 1992. Kegiatan itu menjadi salah satu catatan aktivitas pemerintah daerah yang berkaitan dengan sektor pertanian.
Pada tahun yang sama, Soelarso juga menerima penghargaan Bintang Mahaputra dan Parasamya Purnakarya Nugraha dari Presiden Soeharto. Menjelang akhir masa jabatannya, Soelarso mendampingi Menteri Penerangan Harmoko dalam peresmian stasiun RRI di Sumenep sekaligus penyerahan peralatan radio pada Juli 1993.
11. Moch Basofi Soedirman (1993-1998)
Moch Basofi Soedirman memimpin Jawa Timur pada 1993-1998. Sebelum menjabat gubernur, ia meniti karier di dunia militer. Kariernya dimulai setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer Nasional (AMN) dan memperoleh pangkat Letnan Dua.
Setelah menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur, M Basofi Soedirman mencanangkan program Gerakan Kembali ke Desa (GKD). Program ini bertujuan mendorong pemberdayaan potensi daerah di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Salah satu kegiatan selama masa pemerintahannya adalah peletakan batu pertama pembangunan perumahan Rumah Sangat Sederhana (RSS) di Driyorejo, Kabupaten Gresik, pada 6 September 1994. Kegiatan tersebut menjadi catatan pembangunan perumahan bagi masyarakat di Jawa Timur.
12. H Imam Utomo (1998-2008)
Imam Utomo memimpin Jawa Timur selama dua periode, yakni 1998-2003 dan 2003-2008. Salah satu peristiwa besar pada masa kepemimpinannya adalah penyelenggaraan PON XV di Jawa Timur pada 2000.
Imam Utomo tercatat menjadi Ketua Panitia Besar PON dalam ajang olahraga nasional tersebut. Pembukaan PON XV dilaksanakan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, pada 19 Juni 2000 dan dibuka Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.
Di bidang pembangunan, Imam Utomo juga mendorong pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) Jawa Timur. Program tersebut tercatat dalam dokumentasi pembangunan provinsi pada masa pemerintahannya.
Selain itu, Imam Utomo juga merencanakan pengembangan Pasar Induk Agrobisnis Puspa Agro di Sidoarjo. Program tersebut diarahkan untuk mendukung aktivitas perdagangan hasil pertanian.
13. H Setia Purwaka (2008-2009)
Setia Purwaka menjabat sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur pada 2008 hingga Februari 2009, mengisi masa peralihan sebelum Soekarwo dilantik sebagai gubernur definitif. Ia menjalankan tugas pemerintahan provinsi, termasuk meninjau pelaksanaan pemilihan wali kota dan wakil wali kota Kediri pada 23 Oktober 2008.
14. Dr H Soekarwo (2009-2019)
Soekarwo atau yang akrab disapa Pakde Karwo memimpin Jawa Timur selama dua periode, yakni 2009-2014 dan 2014-2019. Ia dilantik bersama Wakil Gubernur Saifullah Yusuf pada 12 Februari 2009.
Salah satu peristiwa pembangunan yang tercatat pada masa kepemimpinannya adalah peresmian Bandara Blimbingsari di Banyuwangi pada 20 Desember 2010. Pembangunan dan pengembangan infrastruktur transportasi menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah pada periode tersebut.
Soekarwo juga tercatat dalam peresmian Pasar Induk Puspa Agro di Jemundo, Kabupaten Sidoarjo, pada Juli 2010. Pasar tersebut dikembangkan untuk mendukung perdagangan komoditas pertanian.
Di bidang pemberdayaan ekonomi, Soekarwo mengunjungi Klinik Pemberdayaan Koperasi di Ngawi pada Januari 2010. Ia juga meninjau produk pupuk organik yang dihasilkan petani di Jombang pada Maret 2009.
15. Khofifah Indar Parawansa (2019-2029)
Dilansir dari laman resmi KPU Kota Batu, Khofifah Indar Parawansa menjadi perempuan yang memimpin Jawa Timur setelah memenangkan Pilkada 2018 bersama Emil Elestianto Dardak.
Khofifah dan Emil dilantik Presiden JokoWidodo di Istana Negara, Jakarta, pada 13 Februari 2019 untuk masa jabatan 2019-2024. Pada awal kepemimpinannya, Khofifah menyusun program kerja 99 hari yang dibagi menjadi tiga tahap, masing-masing 33 hari.
Salah satu program yang diperkenalkan adalah CETAR, singkatan dari Cepat, Tanggap, dan Responsif. Program tersebut diarahkan untuk mempercepat respons terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk layanan perizinan usaha, sertifikasi halal, dan pelayanan kesehatan.
Setelah menyelesaikan periode pertama, Khofifah kembali maju bersama Emil dalam Pilkada Jatim 2024. KPU Jatim menetapkan pasangan nomor urut 2 tersebut sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih pada 6 Februari 2025. Khofifah dan Emil kemudian dilantik kembali pada 20 Februari 2025 untuk periode 2025-2030.
