Apa Itu Kulminasi Matahari, Benarkah Bikin Surabaya Makin Panas?

Fathir Rofi - detikJatim
Senin, 12 Okt 2026 13:45 WIB
Ilustrasi kulminasi matahari atau hari tanpa bayangan di Surabaya. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Fenomena kulminasi matahari atau yang dikenal sebagai hari tanpa bayangan kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada paruh kedua 2026. Waktu terjadinya berbeda-beda di setiap daerah.

Kulminasi matahari kerap dikaitkan dengan cuaca terik dan peningkatan suhu secara drastis. Namun, benarkah kulminasi matahari membuat suhu udara di Surabaya semakin panas?

Apa Itu Kulminasi Matahari?

Kulminasi Matahari merupakan kondisi ketika posisi Matahari mencapai titik tertinggi di langit, tepat di atas kepala pengamat atau titik zenit. Pada saat itu, bayangan benda tegak akan menjadi sangat pendek atau bahkan tidak terlihat.

Karena itu, fenomena ini juga dikenal sebagai hari tanpa bayangan. Fenomena ini terjadi secara berkala di Indonesia karena letak geografisnya berada di antara garis balik utara dan garis balik selatan, yang mencakup wilayah sekitar garis khatulistiwa.

Kapan Terjadi Kulminasi Matahari?

BMKG menjelaskan bahwa kulminasi matahari berkaitan dengan kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap bidang orbitnya. Akibatnya, posisi matahari yang tampak dari bumi seolah-olah bergerak sepanjang tahun di antara 23,5 derajat Lintang Utara dan 23,5 derajat Lintang Selatan.

Sepanjang tahun 2026, kulminasi matahari di Indonesia berlangsung dalam dua periode. Kulminasi pertama terjadi pada 21 Februari hingga 5 April, sedangkan periode kedua berlangsung pada 21 September hingga 21 Oktober.

Apakah Kulminasi Matahari Bikin Surabaya Makin Panas?

Melansir akun Instagram resmi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, kulminasi matahari di Kota Surabaya terjadi pada Senin 12 Oktober 2026. Fenomena ini terjadi saat matahari berada di titik tertinggi di langit. Namun, apakah kulminasi Matahari membuat suhu di Surabaya semakin panas?

"Data BMKG menunjukkan ketika terjadi El Nino, memang suhu di Jawa Timur naik," terang JF Ahli Muda BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Andang Kurniawan saat dihubungi detikJatim.

Paparan sinar matahari yang kuat dapat membuat udara terasa lebih panas, terutama saat warga Surabaya beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Kelembapan udara yang tinggi juga dapat membuat keringat lebih sulit menguap sehingga tubuh terasa lebih gerah.

Meski demikian, kulminasi matahari tidak serta-merta menyebabkan suhu udara meningkat drastis. Kondisi suhu di suatu wilayah juga dipengaruhi faktor lain, termasuk kondisi atmosfer dan cuaca setempat.

Untuk mengurangi risiko akibat cuaca terik, masyarakat tetap disarankan menjaga kecukupan cairan tubuh, membatasi aktivitas di luar ruangan saat cuaca terik, dan menggunakan tabir surya (sunscreen) untuk melindungi kulit. Warga Surabaya juga dapat memantau informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG.

Jadwal Kulminasi Matahari di Indonesia

Perbedaan waktu kulminasi di setiap daerah dipengaruhi oleh letak geografis masing-masing wilayah. Berikut jadwal kulminasi matahari atau hari tanpa bayangan pada September hingga Oktober 2026 di berbagai ibu kota provinsi, termasuk Surabaya, berdasarkan data resmi BMKG.

  • Banda Aceh: 8 September 2026 pukul 12.36.30 WIB
  • Medan: 14 September 2026 pukul 12.20.56 WIB
  • Padang: 25 September 2026 pukul 12.10.20 WIB
  • Pekanbaru: 21 September 2026 pukul 12.07.23 WIB
  • Bengkulu: 3 Oktober 2026 pukul 12.00.05 WIB
  • Jambi: 27 September 2026 pukul 11.56.39 WIB
  • Tanjung Pinang: 20 September 2026 pukul 11.55.46 WIB
  • Palembang: 30 September 2026 pukul 11.51.02 WIB
  • Bandar Lampung: 7 Oktober 2026 pukul 11.46.52 WIB
  • Pangkal Pinang: 28 September 2026 pukul 11.46.18 WIB
  • Serang: 9 Oktober 2026 pukul 11.42.44 WIB
  • Jakarta Pusat: 9 Oktober 2026 pukul 11.40.02 WIB
  • Bandung: 11 Oktober 2026 pukul 11.36.24 WIB
  • Semarang: 11 Oktober 2026 pukul 11.25.02 WIB
  • Yogyakarta: 13 Oktober 2026 pukul 11.24.51 WIB
  • Surabaya: 12 Oktober 2026 pukul 11.15.43 WIB
  • Pontianak: 23 September 2026 pukul 11.35.08 WIB
  • Palangka Raya: 29 September 2026 pukul 11.14.52 WIB
  • Banjarbaru: 2 Oktober 2026 pukul 12.10.09 WITA
  • Samarinda: 24 September 2026 pukul 13.03.40 WITA
  • Tanjungselor: 15 September 2026 pukul 12.05.53 WITA
  • Denpasar: 15 Oktober 2026 pukul 12.05.00 WITA
  • Mataram: 15 Oktober 2026 pukul 12.01.27 WITA
  • Kupang: 20 Oktober 2026 pukul 11.30.33 WITA
  • Mamuju: 30 September 2026 pukul 11.54.33 WITA
  • Makassar: 6 Oktober 2026 pukul 11.50.32 WITA
  • Palu: 25 September 2026 pukul 11.52.23 WITA
  • Kendari: 3 Oktober 2026 pukul 11.39.04 WITA
  • Gorontalo: 21 September 2026 pukul 11.40.58 WITA
  • Manado: 19 September 2026 pukul 11.34.33 WITA
  • Sofifi: 21 September 2026 pukul 12.22.58 WIT
  • Ambon: 2 Oktober 2026 pukul 12.16.45 WIT
  • Manokwari: 25 September 2026 pukul 11.55.31 WIT
  • Jayapura: 29 September 2026 pukul 11.27.39 WIT
  • Sorong: 25 September 2026 pukul 12.06.41 WIT
  • Nabire: 2 Oktober 2026 pukul 11.47.29 WIT
  • Wamena: 3 Oktober 2026 pukul 11.33.23 WIT
  • Merauke: 15 Oktober 2026 pukul 11.24.16 WIT

Bagi yang ingin mengamati fenomena ini, siapkan benda tegak, seperti tongkat kayu atau spidol, lalu letakkan di permukaan yang datar. Amati bayangan benda menjelang waktu kulminasi di daerah masing-masing. Pastikan langit cukup cerah agar perubahan panjang bayangan dapat terlihat dengan jelas.



Simak Video "Video: Cuaca Panas di Majalengka, Tukang Service AC Diburu Warga"

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork