BMKG Ungkap Penyebab Panas Menyengat di Jatim Belakangan Ini

BMKG Ungkap Penyebab Panas Menyengat di Jatim Belakangan Ini

Andina Kurnia Winanda - detikJatim
Rabu, 07 Okt 2026 11:15 WIB
Ilustrasi cuaca panas di Jawa Timur.
Ilustrasi cuaca panas di Jawa Timur/Foto: Gemini AI
Surabaya -

Cuaca panas menyengat melanda wilayah Jawa Timur belakangan ini. Salah satu event lari di Surabaya bahkan sampai dihentikan akibat kekhawatiran suhu ekstrem.

Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur memberikan penjelasan resmi terkait kondisi iklim terkini.

JF Ahli Muda BMKG Staklim Jatim, Andang Kurniawan menegaskan, berdasarkan hasil pemantauan suhu maksimum BMKG pada 3 dan 4 Oktober 2026, suhu udara terukur jika menggunakan instrumen standar di Jawa Timur, tidak akan menyentuh angka 40 derajat Celsius seperti yang dinarasikan dalam event lari tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Untuk suhu teramati, jika menggunakan instrumen standar sulit mencapai 40 (derajat Celsius) ya, lain cerita jika pengukuran dilakukan di atas permukaan aspal atau beton," kata Andang saat dikonfirmasi detikJatim, Rabu (7/10/2026).

Andang membeberkan, dari pantauan BMKG Iklim Jatim, pemicu utama fenomena panas ekstrem ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer.

Pertama, posisi gerak semu matahari yang saat ini melintas tepat di atas wilayah ekuator dan Jawa Timur. Kedua, pengaruh fenomena El Nino yang membuat durasi musim kemarau berlangsung lebih panjang.

"Cuaca ekstrem sering terjadi ketika ada kondisi iklim ekstrem seperti El Nino sangat kuat ini. BMKG berusaha sekuat tenaga mencari dampak dari fenomena ekstrem menjadi informasi cuaca-iklim," jelas Andang.

Selain itu, tingginya kelembapan udara menyebabkan proses penguapan keringat di kulit terhambat, sehingga atau suhu yang dirasakan tubuh menjadi jauh lebih menyengat dibandingkan angka termometer.

BMKG mengimbau warga Jatim untuk mewaspadai potensi kenaikan suhu lebih lanjut. Puncak kulminasi utama matahari di wilayah Surabaya diprakirakan baru terjadi pada 12 Oktober 2026 mendatang, yang berpotensi memaksimalkan radiasi sinar matahari.

Masyarakat diminta untuk rutin mencukupi cairan tubuh guna mengantisipasi dehidrasi, membatasi aktivitas fisik langsung di bawah terik matahari, serta selalu memantau kanal informasi resmi BMKG.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads