Fenomena hari tanpa bayangan terjadi di Surabaya, Senin (12/10/2026) sekitar pukul 11.15 WIB. Fenomena ini terjadi saat matahari mencapai posisi tertinggi di langit pada suatu lokasi atau disebut kulminasi matahari.
Pantauan detikJatim saat fenomena ini terjadi, bayangan benda tegak terlihat bertumpuk dengan bendanya sendiri. Seperti bayangan gedung-gedung di kawasan Jalan Ahmad Yani yang terlihat hilang karena tidak menjorok ke sisi tertentu.
Begitupun dengan monumen Suroboyo Wani atau monumen knalpot brong yang terletak di sekitar kawasan tersebut terlihat tidak menjorok bayangannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena hari tanpa bayangan di Surabaya. Foto: Aprilia Devi/detikJatim |
Kondisi serupa juga bisa dilihat pada kendaraan bermotor yang melintas di jalan raya. Bayangan roda dua maupun roda empat siang ini nampak menyatu dengan bodi kendaraannya.
Bayangan tubuh manusia pun nampak bertumpuk persis di telapak kaki atau bagian bawah tubuhnya sendiri. Sementara itu, cuaca dan suhu udara terasa terik ketika fenomena ini berlangsung di Surabaya.
Prakirawan BMKG Juanda Andrie Wijaya membenarkan bahwa matahari tepat di atas kepala pengamat atau kulminasi utama terjadi di Surabaya pada Senin (12/10/2026) pukul 11.15 WIB.
"Kulminasi matahari terjadi karena rotasi bumi dan perubahan posisi semu matahari sepanjang tahun," ujar Andrie saat dikonfirmasi detikJatim, Senin (12/10/2026).
Selain menyebabkan fenomena yang kerap disebut sebagai hari tanpa bayangan, kulminasi matahari juga bisa berdampak pada meningkatnya suhu udara hingga paparan sinar UV.
"Ketika matahari berada pada posisi tinggi, radiasi matahari yang diterima permukaan bumi dapat menjadi lebih intens, terutama saat cuaca cerah dan tutupan awan sedikit. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap meningkatnya suhu dan paparan sinar ultraviolet," jelasnya.
Meski demikian, Andrie menyebut bahwa suhu maksimum umumnya tercapai dalam beberapa waktu setelah kulminasi.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas berat di bawah terik matahari, terutama saat fenomena ini berlangsung.
"Masyarakat dapat menggunakan pelindung dari sinar matahari, mencukupi kebutuhan cairan, dan memantau informasi cuaca serta indeks UV dari BMKG," imbaunya.

