Ponpes Lirboyo, Kota Kediri menyambut positif program Trans 7 Mengajar Jilid XV yang membekali santri dengan keterampilan produksi konten digital. Pemanfaatan media digital dinilai menjadi peluang bagi santri untuk memperluas jangkauan dakwah sekaligus menghadirkan konten keagamaan yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan.
Pengasuh sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, KH Agus H. Adibussholeh Anwar mengatakan perkembangan teknologi digital membuka ruang baru bagi pesantren untuk menyampaikan ilmu agama kepada masyarakat tanpa terbatas ruang dan waktu.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan Trans 7 Mengajar bertema Digital Content Creator yang digelar di Gedung Lobby Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana dakwah sekaligus ruang pembelajaran bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan keagamaan secara langsung.
Ia mencontohkan pembelajaran agama secara virtual bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri. Melalui platform digital, mereka tetap dapat memperoleh pendidikan keagamaan meskipun jauh dari lingkungan pesantren.
"Dengan cara digital ini kita tidak akan terbatas oleh waktu dan ruang," ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan media digital harus diimbangi dengan pemahaman agama yang benar. Terlebih, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghadirkan tantangan baru terkait keakuratan informasi keagamaan yang beredar di internet.
Santri dan kalangan pesantren, kata dia, perlu turut mengisi ruang digital dengan konten keagamaan yang berkualitas. Dengan demikian, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan sumber informasi positif yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menilai, semakin banyak konten keagamaan yang kredibel diunggah ke ruang digital, semakin besar pula peluang masyarakat menemukan referensi yang tepat saat mencari informasi melalui berbagai platform, termasuk AI.
"Harapannya, para santri ini menjadi mujahid-mujahid digital, sehingga netizen ketika berselancar di dunia maya mempunyai pilihan tayangan konten positif," kata Gus Adib kepada detikJatim, Sabtu (10/10/2026).
Ia juga menekankan pentingnya peran guru atau ustaz dalam membimbing masyarakat memahami ajaran agama. Sebab, informasi keagamaan yang diperoleh tanpa bimbingan yang tepat berisiko menimbulkan pemahaman keliru.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pembelajaran digital tidak dapat sepenuhnya menggantikan pendidikan pesantren secara langsung. Transfer ilmu melalui media digital tetap perlu dilengkapi dengan bimbingan dan sentuhan spiritual dari guru.
"Dakwah digital itu hanya transfer ilmu, tetapi belum bisa menggantikan sentuhan-sentuhan spiritual dari guru yang menjadi penting," jelasnya.
Terkait keterampilan membuat konten, ia mendorong santri yang memiliki minat di bidang digital untuk terus mengembangkan kemampuannya. Peluang memperoleh penghasilan dari aktivitas tersebut dapat menjadi nilai tambah, tetapi tidak boleh menggeser tujuan utama dakwah.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh melalui Trans 7 Mengajar tidak berhenti pada santri yang mengikuti pelatihan, tetapi juga ditularkan kepada santri lainnya di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo.
Menurutnya, lulusan pesantren tidak harus seluruhnya menjadi kiai atau pengasuh pondok. Hal terpenting adalah bagaimana para santri mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di berbagai bidang, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital.
"Jangan berhenti di santri, tetapi bagaimana ilmu itu nanti bisa ditularkan kepada junior-junior santri yang ada di lingkungan sendiri," pungkasnya.
Simak Video "Video: Kontroversi Mas Bechi Setelah Bebas Bersyarat"
(ihc/dpe)