Selama dua bulanan terakhir Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Tulungagung meningkat tajma. Dampaknya sejumlah layanan kesehatan dipadati pasien rawat inap.
Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung Desi Lusiana Wardhani mengatakan, lonjakan kasus ISPA terjadi mulai bulan Agustus lalu dan puncaknya terjadi pada September. Beberapa keluhan yang dirasakan seperti batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan hingga nyeri telan.
Pihaknya mengaku belum bisa menyebutkan angka pasti jumlah kasus ISPA selama bulan terkahir. Namun, dampak nyata kasus tersebut terlihat dari meningkatnya angka pasien rawat inap di sejumlah puskesmas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa puskesmas untuk rawat inapnya penuh, di antaranya Puskesmas Kauman dan Puskesmas Karangrejo," kata Desi, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya di Puskesmas Kauman, dari 20 tempat tidur 16 di antaranya telah terisi pasien. Sementara itu di Puskesmas Karangrejo seluruh tempat tidur telah terisi pasien rawat inap.
"Ada yang penuh, tapi ada yang masih longgar. Bahkan di Puskesmas Basuki kemarin kosong," jelasnya.
Pihaknya memastikan para pasien ISPA mayoritas masih dapat ditangani di layanan faskes tingkat pertama dan tidak sampai dirujuk ke rumah sakit.
"Meskipun ada yang penuh, tapi secara umum masih cukup terkendali," ujarnya.
Dari data Dinas Kesehatan Tulungagung, saat ini rata-rata BOR (Bed Occupancy Rate) atau angka keterisian tempat tidur di puskesmas 39 persen. Para pasien menjalani perawatan antara 3-4 hari. Namun, ada beberapa yang rawat inap hingga enam hari, tergantung kondisi pasien.
Terkait lonjakan kasus ISPA tersebut Desi mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga daya tahan tubuh dan berperilaku hidup sehat.
"Sama seperti pada saat pandemi lalu, jika kondisinya sakit kami sarankan memakai masker," imbuhnya.
