Jawa Timur merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbesar Pulau Jawa dan Indonesia. Data Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat produksi kopi Jawa Timur mencapai 53.991 ton pada 2025. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Jawa Tengah yang menghasilkan 27.184 ton dan Jawa Barat sebanyak 26.297 ton.
Besarnya produksi kopi Jawa Timur didukung sejumlah wilayah yang sejak lama dikenal sebagai sentra kopi. Malang, Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso menjadi daerah dengan produksi kopi tertinggi di Jawa Timur. Namun, perkebunan kopi juga tersebar di wilayah lain, kawasan pegunungan yang cocok untuk budi daya kopi.
Daerah Penghasil Kopi di Jawa Timur
Produksi kopi Jawa Timur berasal dari berbagai wilayah dengan kondisi geografis yang berbeda. Sentra kopi tersebar di Malang dan Banyuwangi, kawasan pegunungan Tengger-Bromo, Pasuruan dan Probolinggo, hingga lereng Argopuro di Situbondo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir BPS, data statistik perkebunan Jawa Timur menunjukkan persaingan produksi di antara sejumlah kabupaten penghasil kopi. Pada 2023, Kabupaten Malang menjadi daerah dengan produksi kopi tertinggi, yakni 13.673 ton. Setelah itu, ada Banyuwangi dengan 13.104 ton, Jember 12.361 ton, dan Bondowoso 10.920 ton.
Secara keseluruhan, luas perkebunan kopi Jawa Timur pada 2025 mencapai 95.762 hektare dengan total produksi 53.991 ton. Angka ini menunjukkan besarnya kontribusi Jawa Timur terhadap produksi kopi nasional.
Tak heran jika sejumlah daerah di provinsi ini dikenal sebagai penghasil kopi unggulan. Lalu, daerah mana saja yang menjadi sentra kopi utama di Jawa Timur dan bagaimana karakter kopi yang dihasilkan?
1. Malang
Kabupaten Malang merupakan salah satu daerah penghasil kopi utama di Jawa Timur. Salah satu kawasan yang dikenal sebagai sentra kopi adalah AMSTIRDAM, singkatan dari Ampelgading, Sumbermanjing, Tirtoyudo, dan Dampit.
Berdasarkan data BPS 2025, Kecamatan Dampit menghasilkan 2.848 ton kopi. Berikutnya, Ampelgading menghasilkan 1.868,82 ton dan Sumbermanjing Wetan sebanyak 1.322,02 ton.
Kopi Dampit juga dikenal memiliki cita rasa khas. Kopi ini memiliki sensasi manis seperti karamel dan tekstur yang kental saat diminum. Ada pula rasa manis yang menyerupai roti baru matang.
Cita rasa tersebut membuat kopi Dampit diminati hingga pasar mancanegara. Data yang diberitakan pada 2025 menyebut sekitar 90 persen hasil panen kopi dari Dampit diekspor ke luar negeri.
Kopi Dampit memang sudah lama dipasarkan ke luar negeri, terutama ke Eropa. Belanda menjadi salah satu negara tujuan ekspornya melalui perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan kopi.
2. Jember
Jember selama ini lebih dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau. Namun, daerah ini juga memiliki perkebunan kopi dengan produksi yang cukup besar. Dikutip Dinas Kominfo Jawa Timur, ada tiga jenis kopi yang tumbuh di Jember, yakni robusta, liberika, dan arabika, yang memiliki karakter rasa yang berbeda.
Robusta menjadi jenis kopi yang paling banyak ditanam di Jember. Menariknya, kopi robusta dari daerah ini juga dapat memiliki sensasi rasa asam yang biasanya lebih identik dengan arabika.
Jenis berikutnya adalah kopi liberika. Kopi ini tumbuh di dataran rendah dan memiliki rasa yang cenderung lebih pahit dibandingkan robusta. Liberika Jember juga kerap disebut sebagai "kopi nangka" karena aromanya menyerupai buah nangka.
Sementara itu, produksi kopi arabika Jember masih lebih terbatas. Meski demikian, kopi ini memiliki rasa asam khas arabika dengan sentuhan manis yang tertinggal di lidah. Keberadaan tiga jenis kopi tersebut membuat Jember memiliki pilihan kopi dengan karakter rasa yang beragam.
3. Banyuwangi
Banyuwangi juga masuk dalam jajaran daerah dengan produksi kopi tertinggi di Jawa Timur. Salah satu kawasan penghasil kopi yang dikenal adalah Malangsari, di wilayah pegunungan selatan Banyuwangi yang berdekatan dengan Taman Nasional Meru Betiri.
Kopi Banyuwangi (Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya) |
Malangsari dikenal sebagai salah satu sentra kopi robusta. Kopi yang dihasilkan memiliki tekstur cukup padat, rasa lembut, dan aroma khas. Karakter ini membuat kopi Malangsari juga dipasarkan ke luar negeri.
Ada distributor kopi besar di Italia yang memperoleh sekitar 80 persen pasokan kopinya dari Malangsari. Hal ini menunjukkan bahwa kopi Jawa Timur tidak hanya unggul dari sisi jumlah produksi. Sejumlah daerah juga telah memasarkan kopinya ke luar negeri.
4. Bondowoso
Bondowoso juga menjadi salah satu daerah penghasil kopi penting di Jawa Timur. Selain produksinya yang tinggi, daerah ini memiliki kopi yang telah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG), yakni Arabika Java Ijen Raung.
Kopi Bondowoso (Foto: Chuk Shatu Widharsa/detikJatim) |
Sertifikat Indikasi Geografis melindungi identitas produk yang berasal dari wilayah tertentu. Artinya, nama Arabika Java Ijen Raung memiliki keterkaitan dengan daerah asalnya dan tidak bisa begitu saja digunakan oleh daerah lain.
Sertifikat ini juga membantu meningkatkan daya saing kopi Bondowoso. Kopi Arabika Java Ijen Raung dibudidayakan di sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Sumberwringin, Botolinggo, Sempol, dan Cermee.
Petani juga menerapkan cara budi daya tersendiri. Mereka menggunakan bahan organik, seperti sisa tanaman dan gulma, sebagai pupuk. Pupuk organik tersebut diberikan sekitar dua kali dalam setahun.
Tanah yang subur di kawasan perkebunan turut mendukung pertumbuhan tanaman kopi. Kondisi ini ikut mempengaruhi cita rasa Arabika Java Ijen Raung. Kopi ini memiliki rasa asam yang cukup kuat, disertai rasa manis seperti cokelat dan sedikit rasa kacang. Aromanya cukup kuat, sedangkan teksturnya tergolong sedang.
Dari Pasar Lokal hingga Timur Tengah
Besarnya potensi kopi Jawa Timur tidak hanya terlihat dari luas perkebunan dan jumlah produksinya. Komoditas ini juga memiliki nilai ekonomi yang terus berkembang melalui aktivitas perdagangan dan ekspornya.
Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur dan dikutip dari sejumlah sumber, nilai transaksi ekspor kopi Jawa Timur pada periode Januari-April 2025 mencapai US$99,5 juta atau sekitar Rp 1,64 triliun.
Jawa Timur juga menjadi salah satu jalur utama ekspor kopi dari Pulau Jawa. Sekitar 86 persen ekspor kopi asal Jawa disebut dikirim melalui pelabuhan-pelabuhan di Jawa Timur. Sementara itu, provinsi ini menyumbang hampir 48 persen dari total produksi kopi di Pulau Jawa.
Besarnya aktivitas tersebut membuat rantai usaha kopi di Jawa Timur melibatkan banyak pihak, mulai dari petani, buruh petik, pengolah hasil panen, pedagang, eksportir, hingga pelaku usaha kecil.
Di sejumlah desa penghasil kopi, komoditas ini bahkan menjadi sumber penghasilan utama warga. Lebih dari 80 persen penduduk di beberapa desa diketahui menggantungkan penghasilan pada kegiatan yang berkaitan dengan kopi.
Dengan produksi mencapai 53.991 ton pada 2025, kopi menjadi salah satu komoditas penting bagi Jawa Timur. Di balik angka tersebut, ada banyak warga yang menggantungkan penghasilan pada perkebunan dan usaha kopi, mulai dari penjualan di pasar lokal hingga ekspor ke luar negeri.


