Rasa pusing, mual hingga tubuh tiba-tiba kehilangan tenaga saat berlari di tengah cuaca panas sering dianggap sebagai kelelahan biasa. Namun, kondisi tersebut tidak selalu bisa disepelekan karena dapat menjadi tanda awal tubuh mengalami gangguan akibat panas.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (kardiolog) dr Muhammad Perdana Airlangga mengatakan pelari perlu mengenali perubahan kondisi tubuh ketika beraktivitas dalam cuaca panas. Beberapa gejala dapat menjadi peringatan agar pelari segera memperlambat atau menghentikan aktivitas.
"Pelari harus mengenali sinyal tubuh secara instan sebelum kondisi memburuk menjadi EHS," kata Perdana kepada detikJatim, Selasa (6/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Perdana, tanda peringatan yang perlu diperhatikan antara lain pusing, sakit kepala, sensasi kepala terasa ringan, mual, muntah, hingga kram otot yang parah. Perubahan kondisi kulit juga dapat menjadi petunjuk ketika tubuh mulai mengalami gangguan akibat panas.
Pelari juga perlu waspada jika mulai mengalami gangguan koordinasi. Tubuh yang sempoyongan, kehilangan koordinasi gerak, kebingungan mental, atau menjadi apatis menunjukkan kondisi yang lebih serius dan membutuhkan perhatian segera.
"Pusing, sakit kepala berdenyut, atau sensasi kepala terasa ringan, mual, muntah, atau kram otot parah merupakan tanda peringatan utama," ujarnya.
Ia mengatakan terdapat sejumlah gejala yang kerap dianggap sepele oleh pelari. Salah satunya adalah munculnya sensasi merinding atau merasa dingin ketika sedang berada di tengah cuaca panas.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan sesuatu yang seharusnya langsung dianggap sebagai efek angin atau kelelahan biasa. Sensasi tersebut dapat menunjukkan adanya gangguan pada mekanisme pengaturan suhu tubuh.
"Merinding atau sensasi dingin di tengah cuaca panas sering kali dianggap sepele sebagai angin masuk, padahal ini adalah indikator awal gangguan termoregulasi perifer yang berbahaya," jelasnya.
Selain itu, pelari perlu memperhatikan perubahan performa yang terjadi secara tiba-tiba. Penurunan kemampuan berlari yang tidak biasa dan perubahan suasana hati, seperti menjadi sangat mudah marah atau mengalami kebingungan, juga dapat menjadi tanda tubuh mulai mengalami masalah.
Perdana mengingatkan pelari tidak perlu menunggu sampai kehilangan kesadaran untuk menghentikan aktivitas. Semakin cepat gejala dikenali dan aktivitas dihentikan, semakin besar peluang kondisi tidak berkembang menjadi gangguan panas yang lebih berat.
"Penurunan performa mendadak disertai iritabilitas juga perlu diperhatikan, karena perubahan suasana hati dapat menjadi tanda awal gangguan akibat panas," pungkasnya.
