Kekeringan masih melanda 3 desa di Kecamatan Ngoro dan Trawas, Mojokerto sepanjang kemarau tahun ini. Bantuan air bersih dari Pemprov Jatim maupun pemda setempat terus mengalir sampai 30 Oktober 2026.
Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin menjelaskan, kekeringan justru melanda 3 desa di kaki Gunung Penanggungan. Yaitu Desa Kunjorowesi dan Manduro Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro, serta Desa Duyung di Kecamatan Trawas.
Menurutnya, jumlah warga terdampak krisis air bersih paling banyak di Desa Kunjorowesi, yaitu mencapai 1.499 KK. Disusul Desa Manduro Manggung Gajah (Manduro MG) 774 KK dan Duyung 503 KK.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masih kami berikan bantuan air setiap hari ke Desa Kunjorowesi, Desa Manduro MG dan Desa Duyung selama masa tanggap kekeringan," jelasnya kepada detikJatim, Senin (5/10/2026).
Pemprov Jatim dan Pemkab Mojokerto menyalurkan air bersih ke 3 desa yang dilanda kekeringan. Dimulai oleh Pemprov Jatim 22 Juli-11 September 2026. Kemudian dilanjutkan Pemkab Mojokerto 12 September-30 Oktober 2026.
"Alokasinya untuk Kunjorowesi 4 tangki (sekitar 4.000 liter/tangki), Manduro MG 1 tangki, dan Duyung 2 tangki per hari," terang Rinaldi.
Pemerintah ketiga desa berharap pemerintah daerah maupun pusat memberikan solusi permanen. Sebab desa-desa di kaki Gunung Penanggungan ini menjadi langganan kekeringan setiap tahun.
Seperti yang disampaikan Kepala Desa (Kades) Manduro Manggung Gajah, Eka Dwi Firmansyah. Ia rela rela merogoh kocek pribadi sekitar Rp 15 juta untuk mencari sumber air pada 2023 dan 2024. Penelitian dengan metode geolistrik dan pencitraan satelit sukses menemukan sumber air di Dusun Gajah Mungkur.
"Harapan saya dengan hasil itu, kami buktikan sendiri ada sumber air. Karena kasihan warga sudah puluhan tahun dan setiap tahun krisis air," ungkapnya.
Hanya saja keberadaan air tanah mencapai kedalaman sekitar 130 meter. Sehingga dibutuhkan pengeboran dengan sistem angin menggunakan pipa casing ukuran 8 dim. Biaya pengeboran tersebut ditaksir Rp 500 juta.
Biaya tersebut tentu tak mungkin ditanggung Pemerintah Desa Manduro MG. Terlebih lagi di tengah efisiensi anggaran. Sehingga Eka mengharapkan bantuan dari Pemkab Mojokerto, Pemprov Jatim, atau pemerintah pusat.
Menurutnya, pengeboran di Dusun Gajah Mungkur paling ideal karena letaknya yang lebih tinggi. Sehingga tidak perlu mesin pompa untuk mengalirkan air ke rumah-rumah warga maupun ke permukiman Dusun Buluresik.
"Harapan kami ada bantuan pengeboran. Sudah kami usulkan setiap tahun, bahkan ke Pemprov juga setiap tahun," ungkapnya.
Harapan agar krisis air bersih tak lagi menjadi rutinitas tahunan juga datang dari Kades Duyung, Jurianto Bambang Siswantoro. Ia menagih janji Pemprov Jatim yang akan membantu pipanisasi untuk mengalirkan air bersih dari Sumber Lumpang di Dusun Duyung ke Dusun Bantal. Jarak mata air ini ke permukiman penduduk sekitar 3,3 Km.
"Pengajuannya mulai 2009, kami disanggupi, ternyata sampai sekarang belum dibangun. Kasihan masyarakat. Padahal tidak perlu mesin pompa air, cukup pipanisasi, sebetulnya pakai pipa 2 dim sudah layak, tandon juga sudah ada," jelasnya.
Bantuan pipanisasi dari Pemprov Jatim rupanya juga dinanti-nanti warga Desa Kunjorowesi. Pipanisasi tersebut untuk menambah jaringan yang sudah ada. Karena selama ini, penyaluran air dari Sumber Lumpang di Dusun Duyung ke Dusun Kunjoro, belum mencukupi kebutuhan warganya.
"Tiga tahun lalu, saat Bu Khofifah (Gubernur Jatim) masih periode pertama hadir. Katanya dianggarkan Pemprov Jatim, pipanisasi dari Sumber Lumpang dan penampungan. Sampai sekarang belum terealisasi," terang Kades Kunjorowesi Susi Darsono.
Menurutnya, bantuan pipanisasi dari Pemprov Jatim direncanakan juga untuk menyalurkan air dari Sumber Lumpang ke Dusun Kunjoro. Bak penampungan yang akan dibangun seluas 8x4 meter. Selanjutnya, air didorong ke Dusun Kandangan dengan 2 pompa listrik.
"Setiap kunjungan bupati maupun gubernur, selama ini droping air sebagai penanganan darurat. Masa selamanya darurat. Kami berharap ada perhatian khusus sehingga berikutnya, kebutuhan masyarakat terkait air bisa tercukupi. Supaya tidak seperti sekarang, terbatas sekali. Alhamdulillah dengan bantuan 4 tangki itu sudah lumayan," cetusnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko menuturkan, pihanya telah mengajukan bantuan ke Pemprov Jatim untuk solusi permanen kekeringan di Desa Kunjorowesi, Manduro MG dan Duyung.
"Dengan pembangun SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) pada tahun 2026. Sudah dianggarkan melalui APBD Provinsi Jatim tahun anggaran 2026," terangnya.
SPAM untuk Desa Kunjorowesi, lanjut Teguh, bakal memanfaakan mata air Sumber Lumpang di Dusun/Desa Duyung, Kecamatan Trawas. Nantinya, air dialirkan melalui pipa sepanjang 19 Km ke Dusun Kunjoro, Desa Kunjorowesi. Anggarannya sekitar Rp 4,8 miliar.
Menurutnya, pipanisasi yang sama juga akan dikerjakan dari Sumber Lumpang ke Dusun Bantal, Desa Duyung. Pembangunan SPAM ini membutuhkan pemasangan pipa sepanjang 1 Km.
"Saat ini, proyek itu menunggu penyelesaian perizinan UKL UPL dan izin perlintasan pipa di lokasi HGU (Hak Guna Usaha) yang dimiliki pihak swasta. Diharapkan setelah perizinan tersebut selesai, proyek tersebut akan segera dilaksanakan oleh Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Jatim," tandasnya.
