Jumlah desa yang terdampak kekeringan di Trenggalek kini meluas ke 25 desa yang tersebar di 10 kecamatan. Bahkan sebagian wilayah di kota juga mengalami krisis air.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan meluasnya wilayah kekeringan terjadi akibat kemarau yang panjang.
"Yang awalnya itu kurang dari 10 desa, sekarang sudah 15 desa. Wilayah yang terdampak ini tersebar sporadis mulai pegunungan hingga kawasan perkotaan," kata Triadi Atmono, Rabu (19/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya 25 desa tersebut adalah Desa Banjar, Nglebeng, Besuki, Panggul, Karangtengah, Kertosono, Ngrencak, Sawahan dan Depok di Kecamatan Panggul. Desa Pandean, Cakul dan Pringapus di Kecamatan Dongko, kemudian Desa Prambon dan Duren di Kecamatan Tugu.
"Di Kecamatan Pogalan ada Desa Wonocoyo dan Ngulanwetan, kemudian Kecamatan Gandusari ada Desa Wonoanti, Kecamatan Watulimo ada Desa Slawe dan Watulimo. Kecamatan Trenggalek ada Desa Karangsoko, ini kota tapi ikut terdampak. Selanjutnya Kecamatan Bendungan ada Desa Srabah dan Depok, terakhir Kecamatan Pule di Desa Sidomulyo," ujarnya.
Dari 25 desa tersebut paling banyak terjadi di Kecamatan Panggul dengan sembilan desa. Saat ini seluruh desa terdampak telah mengajukan permohonan bantuan air bersih ke BPBD Trenggalek.
"Ada 6.343 KK yang terdampak, terdiri dari 17.220 jiwa," ujarnya.
Menurutnya kondisi pasokan air yang biasanya menjadi andalan warga banyak yang menyusut, bahkan mengering, sehingga tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga.
"Pengiriman bantuan air sudah kami lakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dasar masyarakat. Kami memanfaatkan mobil tangki dari BPBD, PDAM dan BBWS," jelasnya.
Hingga hari ini jumlah bantuan air bersih yang digelontorkan telah mencapai 106 tangki dengan kapasitas 4.000, 6.000 dan 8.000 liter.
Untuk mempermudah dan mempercepat distribusi bantuan, pasokan air ditampung pada tandon maupun bak penampungan yang ada di lingkungan. Selanjutnya masyarakat yang membutuhkan melakukan pengambilan air secara mandiri dengan jeriken maupun galon.
Triadi mengaku pasokan air bersih tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan utama masyarakat, seperti air minum dan memasak.
Pihaknya berharap masyarakat dapat memanfaatkan bantuan air bersih dengan bijak, sehingga bisa untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Sementara itu salah seorang warga Desa Karangsoko, Sringatin, mengaku kekeringan di wilayahnya terjadi dua bulan terakhir.
"Seumur-sumur banyak yang sat (kering). Kalau pun ada airnya kurang," jelasnya.
Pihaknya mengaku belum sanggup untuk membuat sumur bor untuk mendapatkan pasokan air secara mandiri. Menurutnya biaya yang dibutuhkan mencapai belasan juta rupiah.
"Kalau mau ngebor bisa, tapi ya dalam. Biayanya sampai Rp 13 juta dan itu harus besar pompa airnya," pungkasnya.
