Empat bulan setelah pembebasan lahan untuk pelebaran Jalan Wiyung-Menganti dilanjutkan, sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terdampak masih memilih bertahan di sekitar lokasi proyek.
Debu pembangunan dan akses jalan yang berubah membuat aktivitas jual beli tak lagi seramai sebelumnya. Sejumlah pedagang bahkan harus berpindah tempat dan merelakan pekerjanya karena omzet menurun.
Salah satunya Nur (55), penjual penyetan asal Lamongan yang telah berjualan selama 18 tahun di sekitar lokasi proyek. Ia memilih pindah tak jauh dari lokasi awal berjualan agar tetap bisa mempertahankan pelanggan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nur sempat mencoba pindah lebih jauh, ke kawasan Lidah Kulon. Namun, jumlah pelanggan yang datang tidak seramai ketika berjualan di sekitar area kampus UNESA.
"Saya sudah pernah mencoba jualan di daerah Lidah Kulon, tidak bisa ramai seperti di sini. Akhirnya saya putar otak gimana caranya dapat tempat terdekat dari lokasi awal saya jualan," ujar Nur kepada detikJatim, Sabtu (3/10/2026).
Saat pertama kali pindah, omzet Nur sempat turun. Namun, perlahan kondisi usahanya mulai kembali stabil karena lokasinya masih berada di sekitar tempat berjualan sebelumnya.
Cerita berbeda dialami Fatchurrohman (63), penjahit cepat yang telah membuka usaha sejak 1994. Ia mengaku mengalami penurunan omzet cukup signifikan sejak proyek pembangunan semakin mendekati tempat usahanya.
Sebelumnya, Fatchurrohman mempekerjakan dua orang untuk membantu usahanya. Namun, karena omzet terus menurun, kedua pekerjanya terpaksa dipulangkan.
"Pelanggan tidak mesti sekarang, aksesnya masih susah, apalagi dua bulan ini semenjak pembangunan sudah sampai depan sini, saya cuma dapat 20-30 ribu dan paling banyak 50 ribu sehari," katanya.
Kini, Fatchurrohman memilih bertahan sembari menunggu proyek pembangunan selesai. Ia berharap akses jalan yang nantinya dibangun dapat membuat kawasan tersebut kembali ramai.
Kondisi serupa dirasakan Budi (45), pemilik jasa reparasi tas dan koper di kawasan Lidah Wetan. Selama empat bulan terakhir, omzet usahanya ikut terdampak proyek pembangunan.
Penurunan jumlah pelanggan membuat Budi terpaksa memulangkan seorang pekerjanya. Apabila sebelumnya ia bisa menerima belasan pelanggan dalam sehari, kini jumlahnya jauh berkurang.
"Sebelumnya saya dibantu sama satu orang karena dulu bisa 10-20 pelanggan, sekarang hanya 2-5 pelanggan," katanya.
Budi berharap agar pemerintah mempercepat pembangunan akses jalan ke perkampungan dan tokonya. Ia mengaku sudah menguras uang tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
"Kalau bisa jangan menunggu lama-lama, mungkin bisa dibangun dulu akses jalan raya di depan sini, biar pelanggan datang bisa parkir seperti dulu lagi," pungkas Budi.
