Wamen Transmigrasi Buka Peluang Pesantren Kelola 3,1 Juta Ha Lahan

Eko Sudjarwo - detikJatim
Kamis, 01 Okt 2026 22:15 WIB
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi saat kunjungan ke Lamongan. (Foto: Istimewa)
Lamongan -

Kementerian Transmigrasi membuka peluang bagi pesantren dan jaringan alumninya untuk mengelola potensi ekonomi di kawasan transmigrasi. Tak tanggung-tanggung, aset tanah yang ditawarkan mencapai sekitar 3,1 juta hektare yang tersebar di ratusan kawasan transmigrasi di luar Pulau Jawa dan Bali.

Tawaran itu disampaikan Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi saat menghadiri Seminar Nasional Persatuan Santri Alumni Sunan Drajat (Pessandra) di Hall Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan. Seminar tersebut mengangkat tema 'Membangun Kemandirian Santri Melalui Pemberdayaan Ekonomi Santri dan Transmigrasi'.

Dalam kesempatan itu, Viva Yoga mengatakan paradigma transmigrasi kini telah berubah. Program transmigrasi, kata dia, tidak lagi sekadar memindahkan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain.

Pemerintah kini lebih menitikberatkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan transmigrasi.

"Sekarang orientasi transmigrasi bukan untuk memindahkan penduduk, tetapi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di kawasan transmigrasi," kata Viva Yoga.

Viva Yoga mengungkapkan, Kementerian Transmigrasi memiliki aset tanah sekitar 3,1 juta hektare yang tersebar di 612 kawasan transmigrasi di luar Pulau Jawa dan Bali. Dari jumlah tersebut, sebanyak 154 kawasan ditetapkan sebagai lokasi prioritas nasional hingga 2029.

Menurut Viva Yoga, potensi tersebut tidak harus dikelola pemerintah sendiri. Kementerian membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk pesantren, alumni pesantren, hingga korporasi yang memiliki kapasitas mengembangkan usaha. Salah satu skema kerja sama yang dapat ditempuh yakni melalui legalitas Izin Pelaksanaan Transmigrasi (IPT).

"Kalau dari santri mau berminat kerja sama dengan Kementerian Transmigrasi, sangat boleh," ujarnya.

Viva Yoga menyebut sektor yang bisa dikembangkan sangat beragam, bergantung pada potensi masing-masing kawasan. Mulai dari pertanian, perkebunan, peternakan, pertambangan hingga pariwisata.

"Mulai dari perkebunan, pertambangan, pertanian, peternakan hingga pariwisata. Kalau seluruh potensi dan produk unggulan di kawasan transmigrasi dipegang oleh para santri Pondok Pesantren Sunan Drajat, mantap itu," katanya.

Viva Yoga menilai peluang ekonomi di kawasan transmigrasi cukup besar. Sejumlah komoditas dari kawasan tersebut bahkan telah menembus pasar internasional.

Dia mencontohkan durian dari Sigi, Sulawesi Tengah, yang telah masuk pasar Asia Timur. Kemudian rajungan dari Maluku yang dipasarkan ke Amerika Serikat. Ada pula komoditas pala dari Teluk Bintuni, Papua Barat, serta lada dari Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Menurut Viva Yoga, kondisi tersebut menunjukkan kawasan transmigrasi tidak hanya memiliki lahan, tetapi juga produk unggulan yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru. Karena itu, dia membuka ruang bagi pesantren untuk ikut membangun ekosistem ekonomi di kawasan transmigrasi.

Direktur Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat, Gus Anas Alhifni, menyambut positif tawaran tersebut. Menurut Gus Anas, Sunan Drajat telah memiliki pengalaman mengembangkan sejumlah unit usaha. Di antaranya sektor pertanian, pengolahan garam industri, ritel hingga pariwisata.

Namun, menurut dia, pengembangan ekonomi di kawasan transmigrasi tidak cukup hanya mengandalkan lahan dan modal. Kualitas sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan mentalitas juga menjadi faktor penting.

"Transmigrasi itu kaitannya dengan kemandirian. Berdiri tegak itu karena punya ilmu dan mental yang kuat," tutur Gus Anas.

Dia mendorong para santri berani mengambil peluang ekonomi di berbagai daerah, termasuk kawasan transmigrasi.

"Kalau mentalnya sudah kuat dan tidak mudah menyerah, peluang bisnis sekecil apa pun di kawasan transmigrasi pasti bisa dioptimalkan untuk kemaslahatan masyarakat," katanya.

Sementara, Kepala Dinas Tenaga Kerja Lamongan, Mokhammad Zamroni juga mendorong santri memiliki mental petarung di tengah persaingan ekonomi yang semakin terbuka. Menurutnya, etos kerja, inovasi dan komitmen menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi persaingan.

"Harus menjadi petarung, punya komitmen dan tidak mudah putus asa. Persaingan sangat luar biasa. Kalau tidak memiliki etos kerja dan inovasi, komitmen kita akan tergilas," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Perencanaan Teknis Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi, Andi Wijaya, mengatakan program transmigrasi masih relevan dengan kebutuhan pembangunan Indonesia saat ini. Menurutnya, pemerintah tengah melakukan transformasi pendekatan transmigrasi dengan menitikberatkan pada pembangunan kawasan dan penciptaan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

"Transmigrasi masih relevan untuk konteks hari ini. Ini merupakan reborn di pemerintahan sekarang," katanya.

Andi menjelaskan pemerintah mengembangkan konsep 5T, yakni Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusa dan Trans Gotong Royong. Program tersebut diarahkan untuk menyelesaikan persoalan kawasan, memberdayakan masyarakat lokal, melibatkan generasi muda, mengembangkan ekonomi serta memperkuat kolaborasi berbagai pihak. "Pesantren punya potensi itu," ujarnya.



Simak Video "Video: Terungkap Pimpinan Ponpes di Lombok Lecehkan Santriwati Modus Mandi Tobat"

(auh/abq)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork