TRANS7 kembali menggelar program Corporate Social Responsibility (CSR) TRANS7 Mengajar. Memasuki jilid XIV, kegiatan bertema Future Ready ini digelar di Universitas Brawijaya (UB) dengan membekali mahasiswa kemampuan menghadapi dinamika dunia kerja di era teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Trans 7 Mengajar digelar di auditorium Widyaloka UB yang diikuti sebanyak 250 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi. Mereka mengikuti kegiatan yang menghadirkan pembicara dari industri media kreatif dan FMCG.
Vice President of TRANS7 Antonius Refijanto mengatakan, tema yang diangkat dalam TRANS7 Mengajar XIV tidak hanya membahas kepemimpinan secara teori. Mahasiswa juga diajak memahami bagaimana leadership, kreativitas dan kemampuan beradaptasi diterapkan dalam dunia bisnis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teman-teman mahasiswa itu punya insight mengenai bagaimana me-lead di dunia bisnis nyata, tidak hanya di teori tetapi juga di bisnis nyata," kata Antonius usai kegiatan, Kamis (1/10/2026).
Menurut Antonius, kreativitas juga menjadi kemampuan penting yang harus dimiliki mahasiswa.
Namun, kreativitas di dunia profesional tidak cukup hanya menghasilkan ide, melainkan harus didukung data dan riset sehingga memiliki nilai tambah dan dapat dikembangkan secara komersial.
"Ketika kita berkreasi di dunia bisnis itu tidak hanya asal berkreasi, tetapi juga ada pakem-pakemnya, ada kemudian cara-caranya sehingga bisa dikomersialisasi atau bisa dijual," ujarnya.
Selain leadership dan kreativitas, Antonius menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi. Perubahan teknologi, perilaku konsumen hingga perkembangan AI membuat dunia kerja terus bergerak sehingga mahasiswa dituntut untuk terus belajar.
"Teman-teman mahasiswa itu harus punya sikap untuk tetap belajar sesuai dengan kondisi yang saat ini dan ke depan, supaya tetap relevan. Karena ketika itu tidak dilakukan, maka teman-teman tidak akan bisa untuk berkompetisi dengan pasar," jelas Antonius.
Dalam kegiatan tersebut, Antonius membawakan sesi Creative Leadership in the Era of Constant Change. Ia membahas kepemimpinan kreatif di industri media, inovasi, agility, adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan pentingnya kolaborasi lintas disiplin.
Sementara itu, Director of Garudafood Fransiskus Johny Soegiarto membawakan materi Leading High Performance in a Competitive Industry.
Sesi tersebut mengulas tantangan industri FMCG, kepemimpinan dalam organisasi, perubahan pasar, perilaku konsumen hingga kompetensi yang dibutuhkan perusahaan dari para lulusan baru.
Sekretaris Universitas Brawijaya Tri Wahyu Nugroho menyambut positif pelaksanaan TRANS7 Mengajar. Menurutnya, pengenalan dunia kerja dan profesionalisme penting diberikan kepada mahasiswa sebelum mereka benar-benar masuk ke lingkungan profesional.
"TRANS7 Mengajar sangat baik dan mendapat respons positif dari mahasiswa. Pengenalan dunia kerja dan profesionalisme perlu selalu disampaikan kepada mahasiswa, agar teman-teman mahasiswa memahami kira-kira ekosistem seperti apa yang akan mereka masuki setelah selesai kuliah," kata Tri.
Ia menambahkan, keterlibatan pelaku industri dalam kegiatan tersebut juga memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia profesional. Kolaborasi dengan Garudafood dinilai semakin melengkapi hubungan timbal balik antarpemangku kepentingan.
"Kolaborasi dengan dunia industri juga semakin melengkapi hubungan timbal balik antarstakeholder, dan semakin memperkuat semangat kolaborasi para pihak," imbuhnya.
TRANS7 Mengajar XIV juga melibatkan volunteer dari anggota aktif TRANS7 Club serta mahasiswa UB yang telah melalui proses seleksi. Mereka membantu berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari registrasi peserta, pendampingan narasumber, pengaturan acara hingga dokumentasi.
