Ada Anak Diajak Ngamen Sampai Malam, Walkot Eri Ingatkan soal Eksploitasi

Ada Anak Diajak Ngamen Sampai Malam, Walkot Eri Ingatkan soal Eksploitasi

Esti Widiyana - detikJatim
Rabu, 30 Sep 2026 13:16 WIB
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi/Foto: Aprilia Devi/detikJatim
Surabaya -

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menerima laporan adanya seorang anak yang diajak ibunya mengamen hingga malam hari. Eri meminta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya segera turun tangan untuk memastikan kondisi anak tersebut.

Eri mengingatkan orang tua agar tidak melibatkan anak dalam aktivitas mencari penghasilan di jalanan. Menurutnya, tindakan tersebut dapat masuk dalam kategori eksploitasi anak dan memiliki konsekuensi hukum.

"Kalau ada laporan anak kecil mengamen, harus segera diperiksa. Tidak boleh ada anak kecil yang mengamen di jalanan. Datangi orang tuanya dan jelaskan bahwa tindakan seperti itu bisa termasuk eksploitasi anak dan ada ancaman hukumnya. Kita harus tegas karena yang kita selamatkan adalah anak-anak dan masa depan mereka," kata Eri, Rabu (30/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala DP3APPKB Surabaya Ida Widayati bersama tim dan konselor mendatangi rumah anak tersebut. Dari hasil penelusuran, anak itu diketahui diajak ibunya mengamen keliling dari kawasan Sememi hingga Sukomanunggal.

ADVERTISEMENT

Pemkot Surabaya tidak hanya menghentikan aktivitas anak di jalan, tetapi juga mencari alternatif agar keluarga tetap memiliki sumber penghasilan. Langkah tersebut dilakukan agar persoalan ekonomi keluarga tidak kembali mendorong anak untuk ikut mencari uang.

"Kami menyampaikan kepada ibunya bahwa Pemkot akan melakukan intervensi agar ibu bisa bekerja dan berdaya, bukan dengan mengeksploitasi anak melalui kegiatan mengamen atau pekerjaan lainnya," kata Ida.

Dari hasil pendampingan, Pemkot mengetahui ibu anak tersebut memiliki keterampilan menjahit. DP3APPKB kemudian menawarkan fasilitasi pelatihan dan pengembangan keterampilan menjahit sebagai salah satu alternatif sumber penghasilan bagi keluarga.

Selain menjahit, keluarga tersebut juga menyampaikan minat untuk berjualan gorengan atau makanan ringan. Rencana tersebut juga akan difasilitasi Pemkot sebagai alternatif usaha bagi keluarga.

Pendekatan itu menjadi bagian dari upaya Pemkot Surabaya menangani persoalan perlindungan anak secara menyeluruh. Anak tidak hanya dijauhkan dari aktivitas mengamen, tetapi keluarga juga didorong memiliki kemampuan ekonomi agar kebutuhan rumah tangga dapat dipenuhi tanpa melibatkan anak.

Ida mengatakan, setiap anak memiliki hak mendapatkan pengasuhan yang baik dan pendidikan yang layak. Dalam kasus tersebut, kondisi keluarga dinilai turut memengaruhi proses pendidikan anak yang belum berjalan maksimal.

"Anak memiliki hak untuk mendapatkan pengasuhan yang baik dari orang tuanya dan hak mendapatkan pendidikan. Karena kondisi keluarganya, pendidikan anak ini menjadi tidak maksimal. Kami ingin memastikan hak-hak anak tersebut kembali terpenuhi," jelasnya.

Selain intervensi ekonomi, Pemkot juga memberikan pendampingan terkait pola pengasuhan dan hubungan antara orang tua dengan anak. Menurut Ida, komunikasi serta kedekatan orang tua dengan anak penting untuk mendukung tumbuh kembang sekaligus membangun ketahanan keluarga.

"Orang tua harus memahami kondisi anak, baik secara psikologis maupun dari aspek tumbuh kembangnya. Komunikasi dan kedekatan antara orang tua dan anak sangat penting. Ketahanan keluarga harus kita bangun bersama," pungkasnya.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads