Sejarah dan Kontroversi Film Pengkhianatan G30S/PKI

Sejarah dan Kontroversi Film Pengkhianatan G30S/PKI

Myesha Fatina - detikJatim
Selasa, 29 Sep 2026 19:00 WIB
Film Pengkhianatan G30S PKI: Informasi hingga Ringkasan Film
Film Pengkhianatan G30S PKI. Foto: Ilustrator Edi Wahyono
Surabaya -

Film Pengkhianatan G30S PKI kembali menjadi perbincangan setiap menjelang 30 September. Film garapan Arifin C Noer ini menggambarkan peristiwa Gerakan 30 September 1965 berdasarkan narasi sejarah yang berkembang pada masa Orde Baru.

Film yang memiliki judul lengkap Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI ini bergenre dokumenter drama dengan durasi sekitar 3 jam 40 menit. Film ini menggambarkan rangkaian penculikan dan pembunuhan sejumlah petinggi TNI pada akhir September 1965, serta kondisi politik Indonesia saat itu.

Informasi dan Pemeran Film Pengkhianatan G30S/PKI

  • Judul: Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI
  • Tahun rilis: 1984
  • Sutradara: Arifin C Noer
  • Penulis skenario: Arifin C Noer
  • Cerita: Nugroho Notosusanto
  • Produser: Gufran Dwipayana
  • Produksi: Perum Produksi Film Nasional (PFFN)
  • Durasi: 3 jam 40 menit

Film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI merupakan film sejarah yang mengangkat peristiwa G30S 1965 dengan melibatkan sejumlah aktor yang memerankan tokoh-tokoh penting dalam cerita. Informasi mengenai daftar pemerannya dapat disimak berikut ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Amoroso Katamsi sebagai Mayjen Soeharto
  • Umar Kayam sebagai Presiden Sukarno
  • Syubah Asa sebagai DN Aidit
  • Bram Adrianto sebagai Kolonel Untung
  • Rudy Sukma sebagai AH Nasution
  • Ade Irawan sebagai Ny AH Nasution
  • Keke Tumbuan berperan sebagai Ade Irma Suryani
  • Didi Sadikin sebagai Sarwo Edhie Wibowo
  • Wawan Wanisar sebagai Kapten Pierre Tendean

Sinopsis Film Pengkhianatan G30S/PKI

Film ini menggambarkan situasi politik Indonesia menjelang 30 September 1965 yang diwarnai ketegangan antara sejumlah perbedaan pandangan politik dan militer.

Dalam versi yang ditampilkan film, Gerakan 30 September digambarkan sebagai gerakan yang dipimpin Kolonel Untung, Komandan Batalyon Cakrabirawa. Sejumlah pasukan kemudian melakukan penculikan terhadap beberapa petinggi TNI.

ADVERTISEMENT

Para korban dibawa ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Film kemudian menggambarkan terbunuhnya tujuh perwira militer dan upaya pasukan di bawah Mayjen Soeharto untuk mengambil alih kendali keadaan.

Sosok Mayjen Soeharto dalam film digambarkan sebagai tokoh yang mengambil langkah untuk menghadapi gerakan tersebut. Pada akhirnya gerakan G30S berhasil ditumpas dan keadaan kembali berada di bawah kendali pemerintah.

Sejarah Film Pengkhianatan G30S/PKI

Film Pengkhianatan G30S/PKI dibuat oleh Perum Produksi Film Nasional (PPFN) dan mulai diproduksi pada awal 1980-an. Film ini pertama kali diputar melalui layar tancap di DKI Jakarta pada 1984. Setahun kemudian, tepatnya 30 September 1985, film tersebut ditayangkan di Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Film ini dibuat berdasarkan buku karya Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh berjudul Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia. Buku tersebut menjadi salah satu rujukan versi resmi pemerintah Orde Baru mengenai peristiwa G30S.

Keterlibatan pemerintah dalam pembuatan film juga menjadi bagian dari perdebatan mengenai karya tersebut. Dikutip dari arsip pemberitaan detikX, Jajang C Noer, istri Arifin C Noer, pernah mengungkapkan bahwa film tersebut dibuat atas permintaan pemerintah Orde Baru.

Fakta-fakta Film Pengkhianatan G30S/PKI

Film Pengkhianatan G30S/PKI menjadi salah satu film sejarah Indonesia yang banyak dibicarakan, terutama setiap menjelang peringatan G30S. Film ini mengangkat rangkaian peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira TNI pada 1965. Berikut sejumlah fakta tentang film tersebut.

1. Film Dibuat pada Masa Orde Baru

Film Pengkhianatan G30S/ PKI diproduksi dan dirilis ketika Presiden Soeharto masih berkuasa. Pada masa tersebut, film ini menjadi tayangan rutin setiap 30 September. Pemerintah Orde Baru juga menyebut film tersebut memiliki tujuan pendidikan khususnya untuk mengingatkan generasi muda agar menjauhi komunisme.

2. Pernah Menjadi Tayangan Wajib

Film ini sempat menjadi tayangan wajib setiap 30 September selama masa Orde Baru. Setelah memasuki era Reformasi, kebijakan tersebut berubah.

Pada 1998, Menteri Penerangan Letjen TNI Yunus Yosfiah memutuskan film tersebut tidak lagi diputar atau diedarkan secara wajib.

Salah satu alasan yang disampaikan saat itu, film dinilai mengandung rekayasa sejarah dan mengkultuskan sosok Presiden Soeharto.

3. Adegan Penyiksaan Menjadi Kontroversi

Salah satu bagian yang paling banyak dikritik adalah penggambaran penyiksaan terhadap para jenderal sebelum mereka dibunuh.

Dalam arsip pemberitaan detikcom, sejarawan Bonnie Triyana menilai sejumlah adegan di film G30S PKI tidak sesuai dengan hasil visum terhadap jenazah korban.

Kritik serupa juga muncul dalam pembahasan sejarawan ASVI Warman Adam mengenai akurasi film.

4. Ada Sejumlah Detail Film yang Dipersoalkan

Selain adegan penyiksaan, beberapa detail lain dalam film juga pernah dikritik. Di antaranya, penggambaran DN Aidit sebagai perokok berat, tidak sesuai dengan fakta Aidit bukan perokok.

Selain itu, peta Indonesia dalam film menggambarkan Timor Timur telah masuk Indonesia. Nyatanya, latar peristiwa pada saat itu, Timor Timur belum menyatakan berintegrasi dengan Indonesia.

5. Mencetak Rekor Jumlah Penonton

Di balik kontroversinya, film ini juga mencatat jumlah penonton yang besar. Pada 1984, film tersebut tercatat ditonton 699.282 orang di DKI Jakarta. Jumlah tersebut melampaui rekor film Nyi Blorong yang sebelumnya mencapai 354.790 penonton pada 1982.



(irb/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads