Kemacetan horor yang terjadi beberapa bulan terakhir di jalur menuju pelabuhan ketapang Banyuwangi memicu protes warga setempat. Mereka yang merasa dirugikan kemudian menggelar demo PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).
Peserta aksi yang berjumlah kurang lebih 100 orang itu terdiri dari masyarakat sipil, pelaku UMKM, sopir angkutan umum, hingga tukang ojek. Mereka demo karena mengeluhkan dampak dari kemacetan panjang yang terjadi di pelabuhan ketapang sejak 4 bulan terakhir.
Rusman salah satu peserta aksi mengaku dirugikan dengan kemacetan panjang itu. Dirinya selaku pelaku UMKM kehilangan omzet akibat kondisi jalan yang dipadati kendaraan besar sepanjang hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap hari macet, saya jualan ini UMKM nggak bisa jualan gara-gara macet ndak ada yang beli jualan saya," kata Rusman, Selasa (29/9/2026).
Sementara Sutinah, warga lainnya mengaku merasa dirugikan akibat aktivitas hariannya terganggu. Ia tidak bisa beraktivitas normal bahkan anaknya kerap terlambat tiba di sekolah.
Dermaga Bulusan Akan Direhabilitas demi Atasi Macet Ketapang Banyuwangi
"Nggak bisa kemana-mana saya. Setiap hari kena macet. Mau belanja juga melijo pedagang keliling itu kadang ndak datang. Anak juga telat sekolah," tegasnya.
Berdasarkan pantauan detik Jatim, sejak Senin pagi kemacetan yang terjadi di jalur menuju pelabuhan ketapang Banyuwangi mengular sepanjang 12 kilometer dengan titik ekor kemacetan sudah mencapai kawasan Bangsring.
Dalam aksi itu itu mereka sampaikan tenggat waktu tiga hari kepada pihak ASDP untuk menyelesaikan permasalahan macet. Komitmen itu dicapai usai berkoordinasi dengan pihak pengelola pelabuhan.
Warga mengancam akan membawa massa dalam jumlah yang lebih besar jika ASDP tidak bisa memenuhi tuntutan warga. "Tiga hari tidak ada solusi kemacetan, akan kami datangkan massa lebih besar lagi," ujar Panjul, warga lain.
"Rugi secara ekonomi dan aksesibilitas, bahkan, ada warga sakit yang meninggal karena tidak bisa diantar pakai ambulans," imbuhnya kecewa.
Menanggapi tuntutan warga, pihak ASDP menyatakan memahami keresahan masyarakat dan pengguna jasa yang terdampak akibat penumpukan kendaraan. Saat ini, seluruh upaya difokuskan pada percepatan pemulihan layanan tanpa mengabaikan faktor keselamatan pelayaran.
Berdasarkan data operasional, ekor antrean kendaraan di sisi Pelabuhan Ketapang sempat mengular hingga belasan kilometer dan didominasi oleh angkutan barang.
"Di sisi Ketapang, antrean tercatat sekitar 17 kilometer dan didominasi kendaraan logistik. Sementara di sisi Gilimanuk, proses penguraian terus dilakukan melalui optimalisasi armada, peningkatan frekuensi perjalanan, serta penyesuaian pola operasi," ujar General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang, Media Syahrianto.
Pihak ASDP juga menyoroti maraknya armada logistik yang terindikasi melebihi kapasitas dimensi maupun muatan (Over Dimension Over Loading/ODOL). Kondisi ini secara teknis memperlambat proses pemuatan ke atas geladak kapal.
"ASDP mencatat kendaraan logistik yang melintas memiliki karakteristik dimensi dan muatan yang beragam, termasuk kendaraan yang terindikasi melebihi ketentuan dimensi maupun muatan. Kondisi tersebut turut memengaruhi pengaturan dan pemuatan kendaraan ke kapal karena harus disesuaikan dengan kapasitas dan karakteristik kapal serta aspek keselamatan," jelasnya.
Untuk menanggulangi hal tersebut, penataan antrean kendaraan kini diperketat sejak dari kantong parkir hingga proses boarding ke kapal dengan melibatkan koordinasi lintas instansi, seperti kepolisian, regulator, hingga operator kapal.
(irb/abq)
