Sebuah unggahan foto yang menampilkan santri di Kecamatan Dukun, Gresik babak belur jadi korban perundungan dan penganiayaan seniornya viral di media sosial. Ironisnya, korban merupakan difabel.
Dalam unggahan yang beredar tampak korban mengalami luka bakar di punggung dan tangannya akibat disetrika oleh seniornya lalu lebam di leher dan sekujur tubuhnya. Ironisnya, para pelaku atau senironya malah dilindungi oleh pihak pondok pesantren (ponpes).
"Warga IG mau berbagi kisah pembulian nih di salah satu pondok yang ada di Kota Gresik. Nah korbannya ini anak disabilitas, eh pihak pondok disamperin sama keluarga malah pelakunya dilindungi," demikian keterangan yang dikutip detikJatim dan telah diizinkan dari pengunggah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara si korban ini pendiam terus jalannya aja agak gak jangkep, terus ngomongnya juga terbatas mana bisa menyetrika diri sendiri itu," demikian keterangan dalam foto yang beredar," imbuh keterangan selanjutnya.
Unggahan foto tersebut kemudian mendapat berbagai komentar dari warganet yang mengaku sebagai saudaranya. salah satunya keluarga korban dengan nama akun Ziya. Ia mengaku sebagai saudara korban yang diketahui berinisial D (15).
"Kebetulan itu saudaraku, kata korban sudah 2x dia disetrika. Pertama kena kuping pelipis. Kedua kaya yg difoto itu," demikian keterangan Ziya.
Ziya mengungkapkan, selama ini korban tidak berani menceritakan kejadian yang dialaminya kepada keluarga. Bahkan, saat keluarga datang menjenguk ke pondok, korban juga tidak berani bercerita.
"Korban ga berani cerita ke keluarga. Kejadiannya Kamis (24/9), Jumat mbaknya sambang ke pondok juga ga bilang kalau habis disetrika. Senin pengurus pondok hubungi keluarga kalau badannya panas disuruh jemput ke pondok," jelasnya.
Karena merasa curiga, ibu korban pun melihat tangan korban ada luka bakar. Betapa kaget ibu korban saat membuka baju dan menemukan luka bakar di bagian punggungnya.
"Emaknya liat di tangan ada luka terus disuruhlah sama emak buka bajunya. Dan menjerit semua keluarga," imbuh Ziya.
Mengetahui anaknya menjadi korban kekerasan, keluarga korban sempat mendatangi pondok. Namun, bukan kejelasan yang didapatkan, malah pihak pondok membela pelaku dan saling menyalahkan. Para pelaku juga telah berusia sekitar 18 tahun dan 19 tahun.
"Paginya semua keluarga ke pondok tapi gak ada ketegasan dari pondok. Malah saling menyalahkan," tuturnya.
Terpisah, tetangga korban juga memberikan kesaksian bahwa para pelaku diketahui masih mondok. Para pelaku juga tak dapat hukuman dari pengasuh ponpes meski tahu penganiayaan itu.
"Iya, pelaku bebas gak ada hukuman apa-apa, tetap mondok juga. Waktu saya datangi korban itu bener-bener kasian, wis bener-bener gak mau mondok anaknya," terang tetangga korban yang enggan disebut namanya.
Sedangkan akibat penganiayaan itu, korban kini mengalami trauma berat dan enggan kembali ke ponpes. "Korban trauma pol. Di depan pondok aja dia nangis," katanya lagi.
Bukan tanpa sebab korban mengalami trauma di lingkungan ponpes. Sebab perundungan yang dialami korban diduga telah dilakukan berkali-kali. Puncaknya korban disetrika.
"Itu kayaknya beberapa kali. Yang pertama itu katanya kena pelipis telinga. Korban juga tak pernah menceritakan apa yang dialaminya kepada pihak keluarga," tuturnya.
