ISPA di Jatim Meningkat 2 Kali Lipat, Tembus 1,4 Juta Kasus

Adhar Muttaqin - detikJatim
Sabtu, 26 Sep 2026 10:31 WIB
Plt Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak saat melakukan kunjungan ke Tulungagung. (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim)
Tulungagung -

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Timur mengalami peningkatan tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mencatat ada 1,4 juta kasus sepanjang 2026.

Plt Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan, pada 2025 jumlah ISPA sekitar 1,1 juta kasus, sedangkan periode Januari-Agustus 2026 telah mencapai 1,4 juta kasus. Lonjakan kasus terjadi mulai Agustus.

"Memang meningkat dua kali lipat, 200 ribuan lebih di bulan Agustus kemarin. Paling banyak di Surabaya sama Malang Raya. Nah, pas musim kemarau, itu kasusnya meningkat," kata Emil Elestianto Dardak.

Menurutnya peningkatan ISPA menjadi perhatian dari seluruh kalangan, hingga antisipasi layanan kesehatan dalam melakukan upaya penanggulangan.

"Harus dipastikan, rumah sakit kalau dirujuk siap nangani, obat tersedia. Nah, dua faktor ini sampai saat ini masih terkendali. Jadi, kalau ada yang punya keluhan, jangan segan-segan datang ke layanan kesehatan," ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur dr Erwin Astha Triyono mengatakan, merebaknya kasus ISPA seperti batuk, demam dan pilek disebabkan oleh berbagai macan virus maupun bakteri. Kondisi ini belum bisa langsung disimpulkan mengarah ke jenis penyakit tertentu.

"Penyebabnya bisa virus, bisa bakteri, bisa kuman-kuman yang lain. Salah satunya virus. Virus ini bisa apa saja? Ya, bisa virus influenza, virus Covid atau virus-virus yang lain. Termasuk yang ramai sekarang kan virus A, H3N2, virus B, dan sebagainya," katanya.

Saat ini Kementerian Kesehatan tengah melakukan pemantauan melalui 88 site sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI). Ia menyebut, temuan salah satu virus di daerah tertentu tidak serta merta menggambarkan kondisi di seluruh Indonesia.

"Sehingga istilahnya jangan influenza lagi ya, nanti kalau nanti kita nyalahin influenza padahal belum tentu semuanya gitu. Yang kedua, sebetulnya sederhana. Penularannya droplet dan sebagainya, batuk dan sebagainya," imbuhnya.

Menuruti faktor penyebab ISPA sering kali diperparah dengan kondisi cuaca panas. Kondisi cuaca yang panas dan kering serta tambahan polusi membuat tingkat kerentanan meningkat.

"Rentan ini memudahkan virus masuk. Jadi dua, antara cuaca dan memang antara virus yang relatif mudah menular, kan gitu," imbuhnya.

Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya ini menambahkan, salah satu cara untuk untuk menanggulangi merebaknya ISPA adalah menjaga daya tahan tubuh. Selain itu itu juga menjaga pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

"Virus itu enggak ada obat terbaik kecuali daya tahan. Maka yang kita butuhkan adalah istirahat, nutrisi yang cukup. Kemudian ya, hindari namanya mohon maaf merokok, air dingin dan sebagainya untuk membuat tenggorokan kita sehat," jelasnya.

Secara teoritis kata Erwin, ISPA akan sembuh dengan sendirinya pada rentang 7 sampai 14 hari. Sehingga jika ada keluhan-keluhan ringan diharapkan untuk segera ke puskesmas atau layanan kesehatan. Tim medis akan memberikan obatnya sesuai dengan keluhan pasien.



Simak Video "Video: Karhutla Meluas, Kasus ISPA di Palangka Raya Sentuh Rekor Tertinggi di Kalteng"

(ihc/dpe)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork