Polemik seputar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) belum sepenuhnya berakhir meski forum telah ditutup. Sekjen PBNU periode 2021-2026 Saifullah Yusuf atau Gus Ipul berencana melayangkan somasi kepada tiga orang yang dinilai terus menyampaikan tudingan dan narasi terkait pelaksanaan Muktamar NU di ruang publik.
Muktamar ke-35 NU sendiri digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026. Gus Ipul mengatakan tiga orang tersebut akan diminta membuktikan pernyataan yang telah mereka sampaikan, terutama narasi yang dinilai tidak disertai bukti.
"Ada tiga orang yang akan kita somasi. Mereka akan kita minta untuk membuktikan apa yang sudah mereka ucapkan. Kalau tidak bisa membuktikan, tentu akan kita teruskan melalui jalur hukum," kata Gus Ipul dalam keterangan tertulis, Rabu (23/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencana somasi itu disebut Gus Ipul bukan untuk membatasi kritik atau perbedaan pendapat. Ia menilai setiap pernyataan yang disampaikan kepada publik tetap harus dapat dipertanggungjawabkan.
"Kita mencatat, kita mencermati semua pendapat yang diberikan oleh kader-kader NU di media sosial. Tentu setiap yang disampaikan harus dipertanggungjawabkan. Saya sedang mempertimbangkan untuk mengambil jalur hukum sebagai bagian dari pembelajaran untuk kita semua," katanya.
Gus Ipul menyampaikan rencana tersebut setelah berdiskusi dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Addin Jauharudin mengenai situasi NU seusai Muktamar. Ia juga menegaskan proses Muktamar telah berlangsung melalui forum resmi peserta.
"Muktamar sudah selesai. Yang kalah terhormat, yang menang bermartabat. Perdebatan terjadi di sana. Tidak ada penolakan terhadap Laporan Pertanggungjawaban PBNU sebelumnya. Pilihannya demokratis, merupakan titipan langsung dari peserta Muktamar. Tidak ada titipan dari mana pun," katanya.
Meski demikian, Gus Ipul menyayangkan masih adanya perdebatan mengenai Muktamar yang berlanjut di media sosial. Ia menyebut kritik tetap diperbolehkan, tetapi harus disertai tanggung jawab terhadap pernyataan yang disampaikan.
"Kita prihatin ada berita-berita yang luar biasa di luar sana, khususnya di media sosial, yang terus dikembangkan oleh sejumlah pihak," ujarnya.
"Kalau seseorang menyampaikan tudingan, silakan dibuktikan. Jangan hanya melempar pernyataan ke ruang publik kemudian merasa tidak memiliki tanggung jawab. Tiga orang ini akan kita beri kesempatan melalui somasi untuk menunjukkan bukti atas apa yang mereka sampaikan," katanya.
Tiga Nama Belum Diumumkan
Pada Rabu (23/9), Gus Ipul sempat menyebut tiga orang yang akan disomasi bakal segera diumumkan. Namun hingga Jumat (25/9), nama-nama tersebut belum dibuka ke publik.
Saat dikonfirmasi detikJatim, Gus Ipul mengatakan tim hukumnya masih melakukan finalisasi terkait langkah hukum yang akan ditempuh.
"Penasihat hukum masih finalisasi laporan ke polisi dan gugatan ke pengadilan," kata Gus Ipul kepada detikJatim, Jumat (25/9/2026).
Gus Ipul kemudian memastikan tiga nama tersebut akan diumumkan pada Selasa pekan depan.
"Tunggu Selasa," ujar pria yang juga menjabat Menteri Sosial itu.
Sebelumnya, Gus Ipul hanya memberikan gambaran bahwa tiga orang yang dipertimbangkan untuk disomasi merupakan pihak yang menurutnya menyampaikan pernyataan tanpa bukti. Ia menyebut pernyataan tersebut dinilai dapat mengarah pada fitnah dan pencemaran nama baik.
"Yang suka bikin pernyataan menyesatkan. Tanpa bukti dan mengarah ke fitnah. Mencemarkan nama baik orang lain," tegas Gus Ipul.
Gus Lilur Disebut Salah Satu yang Akan Disomasi
Salah satu nama yang disebut-sebut akan disomasi adalah HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur. Ia dikaitkan dengan pernyataan mengenai dugaan adanya aliran uang Rp 480 miliar dalam pelaksanaan Muktamar NU di Tambakberas, Jombang.
Dalam narasi yang beredar, uang tersebut disebut dibawa menggunakan dua mobil Toyota Land Cruiser. Pernyataan itulah yang disebut menjadi salah satu alasan Gus Lilur masuk dalam daftar pihak yang akan disomasi. Namun, hingga kini Gus Ipul belum mengumumkan secara resmi tiga nama tersebut.
Gus Lilur telah mengonfirmasi bahwa dirinya mendengar kabar akan menjadi salah satu pihak yang disomasi. Ia menyatakan siap menghadapi langkah hukum tersebut.
"Saya dengar demikian. Saya tidak gentar," kata Gus Lilur kepada detikJatim, Jumat (25/9/2026).
Gus Lilur bahkan menyatakan akan menempuh langkah hukum balik jika benar dirinya disomasi.
"Saya tidak takut, tidak gentar, akan saya pidanakan balik," tegas Gus Lilur.
GP Ansor Ajak Sudahi Polemik Muktamar
Di tengah rencana langkah hukum tersebut, Ketua Umum PP GP Ansor Addin Jauharudin mengajak seluruh kader dan warga NU menghentikan perdebatan mengenai hasil Muktamar. Addin yang juga bertugas sebagai Koordinator Keamanan Nasional dalam pelaksanaan Muktamar menilai seluruh rangkaian forum telah selesai dan memiliki legitimasi.
"Muktamar sudah selesai. Semua proses dari A sampai Z sudah punya legitimasi penuh. Karena itu saya mengimbau seluruh sahabat dan warga NU, mari kita sudahi perdebatan soal Muktamar. Kita dukung sepenuhnya kepemimpinan yang baru agar bisa membawa NU kepada kemaslahatan dan kemajuan," kata Addin.
Ia mengatakan perbedaan pendapat selama Muktamar merupakan bagian dari proses forum. Setelah keputusan diambil, seluruh elemen NU dinilai perlu kembali berkonsentrasi menjalankan khidmat organisasi dan pelayanan kepada umat.
"Jangan biarkan perpecahan internal menjadi tontonan banyak pihak. Jika kita masih merasa menjadi bagian dari NU, mari jaga martabat jam'iyyah ini bersama-sama. Baik yang berada di struktur maupun kultur, kita kembali ke khidmat masing-masing secara maksimal. Umat menanti langkah kita," ujarnya.
Gus Ipul mengapresiasi ajakan tersebut. Ia mengatakan rekonsiliasi, persatuan, dan penghormatan terhadap keputusan organisasi menjadi hal yang perlu dikedepankan setelah Muktamar.
"Yang kalah terhormat, yang menang bermartabat. Sekarang waktunya kembali berkhidmat. NU saklawase," kata Gus Ipul.
Simak Video "Video: Cak Imin-Nusron Wahid Bicara soal Konsolidasi Jelang Muktamar NU"
[Gambas:Video 20detik] (abq/hil)
